Di tengah suasana duka dunia atas wafatnya Paus Fransiskus, Indonesia memilih momen ini bukan untuk menunjukkan kesahajaan diplomasi, melainkan mempertontonkan absurditas protokoler: Presiden Prabowo Subianto menunjuk Joko Widodo—mantan presiden yang kini tengah digugat keabsahan ijazah SMA-nya—sebagai utusan khusus ke Vatikan.
Mengapa harus Jokowi?
Apa urgensinya mengutus presiden lama yang tak lagi menjabat dan sedang menghadapi gugatan hukum serius? Jika kehadiran kepala negara diperlukan, bukankah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka—yang juga putra Jokowi—lebih relevan secara konstitusional? Atau, jika harus tokoh dengan pengalaman kenegaraan, mengapa bukan SBY atau Megawati yang secara usia, senioritas, dan etika politik jauh lebih tepat?
Penunjukan Jokowi bukan sekadar pilihan personal; ia adalah manuver simbolik yang menyiratkan dua hal: pertama, ketakmampuan Prabowo untuk menampilkan otoritasnya sendiri dalam diplomasi global; dan kedua, keengganan rezim untuk benar-benar menanggalkan bayang-bayang kekuasaan masa lalu.
Yang lebih ganjil, dalam rombongan itu ikut serta sejumlah nama lain seperti Thomas Djiwandono (wakil menteri), Natalius Pigai (menteri HAM), dan Ignasius Jonan—yang sejatinya sudah bukan pejabat negara lagi. Ini bukan lagi delegasi negara, tapi karnaval politik yang penuh ironi.
Jokowi, yang sedang dipertanyakan keabsahan identitas akademiknya, justru dijadikan representasi resmi Indonesia dalam sebuah peristiwa internasional berskala tinggi. Dunia bisa saja melihat ini sebagai bentuk penghormatan. Tapi publik dalam negeri justru bertanya-tanya: apakah ini cara Prabowo menyelamatkan wajah politik sang pendahulu, atau justru isyarat bahwa bayang-bayang Jokowi masih terlalu kuat untuk dilawan?
Di saat dunia memberi penghormatan kepada sosok penuh kerendahan hati seperti Paus Fransiskus, Indonesia malah memperlihatkan wajah politik yang enggan beranjak dari kultus figur dan kompromi kekuasaan.
Jadi pertanyaannya bukan lagi mengapa Jokowi yang diutus. Tapi: untuk siapa sebenarnya negara ini sedang berkabung?
























