Di sebuah pagi tenang di Cikeas, suara burung tak mampu menenangkan riuh batin Susilo Bambang Yudhoyono. Di beranda rumahnya, ditemani secangkir kopi dan deretan lukisan peninggalan Ani, ia membaca berita: Jokowi diutus ke Vatikan mewakili Indonesia untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus. Ia menarik napas pelan. Dalam diamnya, ia menyusun kalimat dalam hati: “Saya juga pernah presiden.”
Jauh di sudut lain Jakarta, di tengah keheningan rumah di Teuku Umar, Megawati Soekarnoputri menyimpan amarahnya dalam bungkam. Wajahnya yang mulai renta menatap layar televisi. Ia mendengar nama Jokowi disebut lebih dulu oleh Menteri Sekretaris Negara. Bibirnya mengatup. Tak ada suara. Tapi dalam pikirannya, satu kalimat berdengung: “Tanpa saya, dia bukan siapa-siapa.”
Dua mantan presiden ini, pernah memimpin negeri dalam badai dan terik. Keduanya punya pengalaman diplomatik kelas dunia, reputasi internasional, dan koneksi politik lintas zaman. Tapi hari itu, mereka menyaksikan sebuah ironi: negara lebih memilih mantan presiden yang sedang digugat soal ijazah, ketimbang mereka yang terbukti dengan jelas telah menulis jejak di panggung dunia.
SBY mungkin akan tertawa kecil dan menulis di buku hariannya:
“Diplomasi negara kini mirip orkestra tanpa konduktor. Yang memimpin tak tampak, yang tampil tak diundang.”
Megawati, dengan gaya khasnya, mungkin hanya menggumam pada Puan:
“Itu muridmu. Lihat bagaimana dia sekarang lebih penting dari gurunya. Tapi sejarah tak bisa dibohongi, Nak.”
Pilihan Prabowo mengutus Jokowi bukan sekadar keputusan logistik. Ini pesan politik. Bahwa kekuasaan bisa diwariskan bukan karena sistem, tapi karena kesepakatan. Bahwa di republik ini, tidak semua mantan presiden dipandang sama.
Dan di saat dunia menghormati seorang Paus karena kerendahan hatinya, Indonesia justru memperlihatkan politik yang tak mau move on. Yang tua tak dihargai, yang usang tetap dijunjung.
Dalam imajinasi ini, Mega dan SBY tidak marah. Mereka hanya tersenyum getir. Karena mereka tahu, negara ini memang kadang memilih wajah yang dikenal kamera, bukan suara yang bijak dalam sunyi.























