*FusilatNews* – Ada yang istimewa dalam reuni akbar Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1985. Terselenggara dengan semangat kekeluargaan, acara ini menyatukan wajah-wajah yang telah ditempa waktu—berubah oleh kehidupan, namun tetap memancarkan semangat almamater yang tak lekang. Tangis haru dan tawa akrab berbaur dalam satu simpul: nostalgia. Namun, satu nama besar yang kerap dikaitkan dengan angkatan ini tak tampak di antara mereka. Presiden Joko Widodo, atau yang akrab disapa Jokowi, tidak hadir. Bahkan, kehadirannya tak pernah tercantum dalam daftar undangan resmi.
Mengapa? Jawabannya sederhana namun penting untuk ditegaskan: karena Jokowi memang bukan bagian dari angkatan 1985, dan lebih dari itu, bukan pula bagian dari sejarah akademik Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada sebagaimana tercatat dalam dokumen resmi kampus.
Klarifikasi ini bukan upaya untuk meniadakan kontribusi Jokowi dalam dunia pemerintahan, melainkan untuk merawat kejujuran sejarah dan menghormati integritas institusi pendidikan. Sebab, dalam dunia akademik, keberadaan seseorang sebagai mahasiswa bukan sekadar klaim—ia tercatat, teruji, dan terdokumentasikan. Setiap alumni sejati tahu rasanya mengikuti praktikum di hutan, berjibaku dengan laporan, hingga mengisi kartu rencana studi. Semua itu membentuk identitas keilmuan yang tidak bisa sekadar ditempelkan begitu saja demi kepentingan politis atau pencitraan publik.
Reuni ini adalah milik mereka yang benar-benar berjalan di lorong-lorong Bulaksumur sebagai mahasiswa kehutanan: mereka yang merasakan kerasnya kuliah lapangan, semangat konservasi, dan idealisme hijau yang tertanam sejak dini. Mereka hadir bukan karena jabatan, tapi karena kenangan dan keaslian relasi. Karena itu, ketiadaan Jokowi dalam reuni ini bukan sesuatu yang janggal—ia hanya menegaskan fakta.
Dalam dunia akademik, kejujuran adalah akar dari segalanya. Mungkin karena itulah, mereka yang hadir di reuni ini tidak sibuk mencari sensasi, melainkan merayakan autentisitas—yang tak bisa dipalsukan, dan tak bisa dibeli.
Dan Jokowi, dalam konteks ini, hanyalah nama besar yang kebetulan melintas dalam narasi. Tapi bukan bagian dari ceritanya.
























