Ada pertanyaan yang tampak sederhana, tapi kalau dikunyah pelan-pelan bisa bikin dahi berkerut: kenapa sih Joko Widodo nggak pernah kelihatan pakai kacamata?
Jawaban resminya mungkin belum pernah dirilis seperti APBN. Tapi saya punya versi “bisik-bisik tetangga kekuasaan”—katanya, beliau nggak suka membaca.
Nah, ini bukan hoaks warung kopi. Ini saya dengar langsung dari ajudannya. Waktu itu, saya bersama rombongan—campuran antara orang serius dan yang sok serius—terdiri dari beberapa profesor dari Bandung, datang ke rumah dinas Gubernur DKI Jakarta – Jokowi. Harapannya tentu diskusi bernas, berat, penuh teori. Minimal ada istilah Latin biar kelihatan mahal.
Eh, sebelum masuk, ajudan sudah pasang rem tangan.
“Bapak nggak suka membaca. Jadi nggak usah bahas yang berat-berat. Ringan-ringan saja ya.”
Kami saling pandang. Ini mau diskusi soal tol laut atau mau arisan RT?
Seorang profesor yang tadinya siap mengeluarkan analisis setebal disertasi mendadak downgrade jadi obrolan level caption Instagram. Yang tadinya mau bicara soal urban planning, jadi kepikiran ngomongin macet sambil nyeruput kopi.
Di situ saya sadar, ternyata bukan cuma rakyat yang diminta agar sederhana. Pemikiran juga.
Padahal, membaca itu bukan sekadar hobi anak kutu buku yang jarang mandi. Membaca itu alat tempur. Pemimpin tanpa membaca itu ibarat tukang bakso tanpa kuah—tetap ada, tapi hambar dan bikin curiga.
Kalau seorang pemimpin alergi terhadap bacaan tebal, pertanyaannya: dia mencerna realitas pakai apa? Feeling? Insting? Atau grup WhatsApp?
Masalahnya, negara ini bukan warung kelontong yang bisa dikelola dengan “kira-kira”. Ini Indonesia, isinya bukan cuma jalan berlubang dan baliho, tapi juga ekonomi global, ketimpangan sosial, pendidikan yang kadang lebih membingungkan daripada soal ujian.
Semua itu butuh kedalaman berpikir. Dan kedalaman berpikir biasanya nggak lahir dari obrolan ringan sambil ketawa-tawa.
Kacamata, dalam cerita ini, jadi simbol yang agak ironis. Bukan soal minus atau plus, tapi soal kemauan melihat lebih jelas. Kalau membaca saja dihindari, ya wajar kalau dunia dilihat seperti nonton TV analog—ada gambarnya, tapi semut semua.
Yang lucu (atau tragis, tergantung selera), kita ini dipimpin oleh sistem yang seharusnya kompleks, tapi kadang dijalankan dengan pendekatan “yang penting jalan”. Kayak motor tanpa spion—melaju sih melaju, tapi nggak tahu siapa yang ditabrak di belakang.
Dan dari pertemuan singkat itu, saya dapat satu pelajaran penting: di negeri ini, bukan hanya kebijakan yang bisa disederhanakan, tapi juga cara berpikir pemimpinnya.
Akhirnya, kita pun jadi bangsa yang sering diajak ngobrol ringan…
padahal masalahnya berat semua.























