Jakarta – Fusilatnews – Sebagai dampak dari memanasnya perang dagang yang disulut oleh kebijakan Trump untuk menaikkan tarif perdagangan yang bersifat reciprocal diantara banyak negara di dunia melawan AS
Internasional Moneter Fund atau Dana , Moneter Internasional (IMF ) meramalkan perekonomian Indonesia akan tumbuh 4,7 persen di tengah meningkatnya angka pengangguran.
Selain tingkat pengangguran, IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia diperkirakan hanya tumbuh 4,7 persen pada 2025 dan 2026.
Angka ini turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,1 persen yang tercantum dalam laporan edisi Januari 2025.
IMF menyatakan bahwa perekonomian global kini berada dalam fase transisi besar akibat pergeseran sistem perdagangan internasional yang telah menopang ekonomi dunia selama lebih dari delapan dekade.
“Ketegangan perdagangan ini akan sangat mempengaruhi perdagangan global,” kata Direktur Departemen Riset IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, dalam keterangannya, Selasa (22/4/2025).
Menurutnya, gelombang tarif baru dan ketidakpastian kebijakan memperburuk prospek pertumbuhan global secara signifikan. Ia menambahkan bahwa reaksi balasan dari negara mitra dagang semakin menekan sistem perdagangan internasional.
“Semua negara akan terkena dampak negatif dari lonjakan ketidakpastian kebijakan perdagangan, karena bisnis memangkas pembelian dan investasi, sementara lembaga keuangan menilai kembali eksposur peminjam mereka,” ujarnya.
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi 2,8 persen pada tahun ini, turun dari 3,3 persen yang diperkirakan pada Januari lalu.
Perlambatan ini antara lain dipicu oleh kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, serta tindakan balasan dari negara-negara lain.
Pengumuman antara 1 Februari dan 4 April oleh AS dan tindakan balasan oleh negara-negara lain ini mengurangi proyeksi pertumbuhan global kami menjadi 2,8 persen pada tahun ini dan 3 persen pada tahun depan,” demikian tulis laporan IMF. Untuk negara berkembang di Asia,
IMF memperkirakan pertumbuhan rata-rata sebesar 4,5 persen pada 2025. Sementara itu, negara-negara berpenghasilan rendah diprediksi mencatat pertumbuhan 4,2 persen, turun 0,4 persen dari proyeksi sebelumnya.























