• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Ali Syarief by Ali Syarief
April 24, 2025
in Economy, Feature
0
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Share on FacebookShare on Twitter

Di sebuah ballroom mewah Hotel The Ritz-Carlton Jakarta, Kamis, 16 Januari 2025, Presiden Prabowo Subianto menyuarakan optimisme yang menggetarkan dinding ruangan: “Indonesia mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.” Sorak dan tepuk tangan para pelaku usaha mengiringi pernyataan itu. Di luar hotel, di jalanan yang sesak oleh angkutan daring dan pedagang kaki lima yang makin hari makin terhimpit, optimisme itu terasa seperti dongeng.

Sebab hanya berselang tiga bulan kemudian, Dana Moneter Internasional (IMF) menyampaikan kenyataan yang berbeda. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 justru turun, dari 5,1 persen menjadi hanya 4,7 persen. Sebuah ironi yang telanjang.

Angka 8 persen yang digaungkan Prabowo seperti mengawang di langit ambisi, sementara kaki rakyat masih tertanam dalam lumpur stagnasi ekonomi global. Dunia sedang limbung akibat ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan banyak negara mitra, serta gelombang proteksionisme yang dipicu kebijakan tarif Presiden Trump. Dalam kekacauan itu, IMF memperingatkan, sistem perdagangan dunia yang menopang pertumbuhan selama delapan dekade kini tengah runtuh. Dan Indonesia, seperti banyak negara berkembang lainnya, sedang menghadapi gelombang besar tanpa pelampung cukup.

Ekonomi yang hanya tumbuh 4,7 persen adalah alarm yang meraung di balik retorika. Setiap tahun, jutaan penduduk usia produktif masuk ke pasar tenaga kerja. Namun lapangan kerja tidak tumbuh secepat kebutuhan. Pabrik merampingkan lini produksi, sektor teknologi memperketat rekrutmen, dan UMKM lebih sibuk bertahan daripada berkembang.

Jika Presiden Prabowo yakin pada angka 8 persen, ia harus menjawab satu pertanyaan mendasar: dari mana pertumbuhan itu akan datang, ketika konsumsi rumah tangga lesu, investasi tertahan oleh ketidakpastian global, dan ekspor dihantam tarif serta perang dagang?

Beban utang juga tak bisa diabaikan. Dengan utang negara yang menembus Rp 8.000 triliun, pembayaran bunga dan cicilan kini menjadi beban yang menggerogoti anggaran belanja produktif. Alih-alih memupuk sektor strategis seperti pendidikan dan kesehatan, negara justru terjebak dalam lingkaran bantuan sosial dan proyek-proyek mercusuar seperti Ibu Kota Nusantara yang masih dipertanyakan urgensinya.

Anak-anak di pedalaman masih makan nasi dengan garam dan daun singkong. Angka stunting tetap di atas 20 persen. Tapi elite bicara pertumbuhan dua digit. Ini bukan sekadar perbedaan pandangan. Ini adalah jurang antara realitas dan retorika.

Kemiskinan pun tidak menurun, ia hanya berganti wajah. Dulu disebut buruh tani, kini berubah jadi pengemudi ojol. Dulu disebut buruh pabrik, kini jadi freelancer tanpa kontrak. Dalam wajah baru kemiskinan itu, negara terlihat gamang: antara menyembuhkan atau sekadar menutupi.

Optimisme adalah bahan bakar penting dalam kepemimpinan. Namun ketika angka dan data diabaikan, ia berubah menjadi delusi. Pernyataan Prabowo soal pertumbuhan 8 persen perlu diuji bukan dengan semangat nasionalisme kosong, melainkan dengan kalkulasi ekonomi yang jujur, transparan, dan realistis.

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia rata-rata hanya 4,5 persen. Maka, Indonesia yang menargetkan 8 persen tanpa peta jalan yang konkret ibarat mengarungi samudra dengan perahu kertas.

Alih-alih membangun narasi utopis, bangsa ini memerlukan keberanian untuk mengakui krisis dan kesungguhan untuk menanganinya. Sebab sejarah tidak menilai pemimpin dari seberapa keras ia berteriak soal masa depan, melainkan dari seberapa konkret ia menjawab luka hari ini.

Jika hari ini kita membiarkan angka 4,7 persen berjalan tanpa koreksi serius, maka esok hari 8 persen hanya akan tinggal dalam pidato, bukan dalam piring rakyat.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ramalan IMF: Ekonomi Tumbuh 4,7 persen, Tingkat Pengangguran Meningkat

Next Post

Proyeksi 8 Persen, Realisasi 4,7 Persen: Menjadi Branding Tukang Omon-Omon

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Republik Oligarki: Menakar Kedalaman Jurang Ketimpangan Indonesia 2026
Economy

Republik Oligarki: Menakar Kedalaman Jurang Ketimpangan Indonesia 2026

May 2, 2026
Feature

Menuju Ul Albab: Memadukan Integritas, Akademik, dan Kebermanfaatan

May 2, 2026
Mengapa Jokowi Tak Mau Berkacamata?
Feature

Mengapa Jokowi Tak Mau Berkacamata?

May 2, 2026
Next Post
Bisik-Bisik Pemakzulan: Prabowo dan Dua Wajah Kabinet yang Menyimpan Agenda

Proyeksi 8 Persen, Realisasi 4,7 Persen: Menjadi Branding Tukang Omon-Omon

Ustadz Adi Hidayat Luncurkan Gerakan Indonesia Menanam, Peroleh Pujian dari Presien

Ustadz Adi Hidayat Luncurkan Gerakan Indonesia Menanam, Peroleh Pujian dari Presien

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo
Pojok KSP

Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

by Karyudi Sutajah Putra
May 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan...

Read more
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Republik Oligarki: Menakar Kedalaman Jurang Ketimpangan Indonesia 2026

Republik Oligarki: Menakar Kedalaman Jurang Ketimpangan Indonesia 2026

May 2, 2026
Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

May 2, 2026

Menuju Ul Albab: Memadukan Integritas, Akademik, dan Kebermanfaatan

May 2, 2026
Mengapa Jokowi Tak Mau Berkacamata?

Mengapa Jokowi Tak Mau Berkacamata?

May 2, 2026
Jumhur Hidayat: Dari Terdakwa Hoaks hingga Dinyatakan Tak Bersalah

Jumhur Hidayat: Dari Terdakwa Hoaks hingga Dinyatakan Tak Bersalah

May 2, 2026
Export Manusia – Apa Untungnya?

Export Manusia – Apa Untungnya?

May 2, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Republik Oligarki: Menakar Kedalaman Jurang Ketimpangan Indonesia 2026

Republik Oligarki: Menakar Kedalaman Jurang Ketimpangan Indonesia 2026

May 2, 2026
Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

May 2, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...