• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Professor Anjing: Saat Televisi Mengangkat Penghina Menjadi Narasumber

Ali Syarief by Ali Syarief
March 12, 2026
in Feature, Layanan Publik
0
Professor Anjing: Saat Televisi Mengangkat Penghina Menjadi Narasumber
Share on FacebookShare on Twitter

Salah satu fungsi utama media massa, sejak awal kelahirannya dalam tradisi demokrasi modern, adalah mendidik publik. Media bukan sekadar ruang hiburan atau arena adu sensasi, melainkan institusi sosial yang bertugas membangun kualitas percakapan publik. Di sana ide dipertemukan, argumen diuji, dan masyarakat diajak berpikir lebih jernih tentang berbagai persoalan bangsa.

Namun fungsi luhur itu menjadi tercoreng ketika layar televisi—yang seharusnya menjadi ruang dialog beradab—justru berubah menjadi panggung kegaduhan.

Peristiwa ketika Permadi Arya terlibat perdebatan dengan Ikrar Nusa Bhakti dan melontarkan ucapan “professor anjing” adalah contoh nyata bagaimana ruang publik bisa jatuh ke titik yang sangat rendah. Bukan sekadar persoalan emosi sesaat dalam perdebatan, tetapi sebuah pelanggaran etika yang serius terhadap tradisi intelektual.

Hancurnya Etika Diskursus

Dalam dunia akademik maupun ruang publik yang sehat, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Bahkan ia merupakan sumber kemajuan. Namun perbedaan itu selalu diselesaikan melalui argumen, data, dan logika, bukan melalui penghinaan personal.

Ketika seseorang menyebut seorang profesor dengan kata “anjing”, yang rusak bukan hanya kehormatan individu yang dihina, tetapi juga martabat diskusi publik itu sendiri. Gelar profesor bukan sekadar titel pribadi; ia adalah simbol dari perjalanan panjang ilmu pengetahuan, dedikasi akademik, dan kontribusi terhadap masyarakat.

Menghina seorang profesor berarti merendahkan tradisi intelektual yang menjadi fondasi kemajuan sebuah bangsa.

Tanggung Jawab Media

Di sinilah pertanyaan penting harus diajukan: mengapa media memberi panggung bagi perilaku seperti ini?

Media memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik. Siapa yang dihadirkan ke layar televisi, siapa yang diberi ruang bicara, dan bagaimana format diskusi dibangun—semua itu akan memengaruhi kualitas percakapan masyarakat.

Jika media lebih tertarik pada kontroversi daripada kualitas, maka yang lahir bukanlah pencerahan, melainkan kegaduhan.

Tokoh yang kerap memancing polemik mungkin memang menarik secara rating. Tetapi rating tidak boleh menjadi satu-satunya kompas moral media. Tanpa standar etika yang jelas, media akan berubah dari institusi pendidikan publik menjadi sekadar industri sensasi.

Masalah Figur Publik

Kasus ini juga memperlihatkan persoalan lain: siapa yang dianggap layak menjadi figur publik dalam diskusi nasional.

Seseorang yang sering tampil di media semestinya memiliki beberapa prasyarat dasar:

  1. Integritas personal
  2. Kapasitas intelektual
  3. Kematangan emosional
  4. Kemampuan berdialog secara beradab

Tanpa empat hal itu, kehadirannya di ruang publik hanya akan menghasilkan kegaduhan, bukan pencerahan.

Karena itu, kritik publik yang menyerukan agar figur dengan rekam jejak kontroversial tidak lagi diberi panggung di media mainstream adalah refleksi dari kegelisahan masyarakat terhadap merosotnya kualitas diskursus publik.

Boikot Sosial sebagai Koreksi

Dalam sejarah media modern, publik sering melakukan boikot moral terhadap figur yang dianggap merusak ruang publik. Bukan sebagai bentuk kebencian personal, melainkan sebagai mekanisme koreksi sosial.

Jika seseorang terus-menerus memproduksi provokasi, penghinaan, atau konflik tanpa kontribusi intelektual yang berarti, maka masyarakat berhak mengatakan: cukup sampai di sini.

Media juga perlu melakukan refleksi: apakah panggung yang mereka berikan membantu masyarakat berpikir lebih cerdas, atau justru memperburuk kualitas percakapan bangsa?

Mengembalikan Martabat Ruang Publik

Indonesia adalah bangsa besar dengan tradisi intelektual yang panjang. Dari kampus hingga ruang diskusi publik, dari para ulama hingga para ilmuwan, kita memiliki warisan pemikiran yang kaya.

Ruang publik tidak boleh diserahkan kepada budaya ejekan, sensasi, dan penghinaan.

Peristiwa “professor anjing” seharusnya menjadi alarm bagi media dan masyarakat bahwa martabat diskursus publik sedang dipertaruhkan. Jika media ingin tetap dipercaya sebagai pilar demokrasi, maka ia harus berani memilih:

menjadi pendidik publik, atau sekadar produsen kegaduhan.

Sebab sebuah bangsa tidak akan maju jika percakapan publiknya dipimpin oleh argumentasi yang miskin tetapi penghinaan yang kaya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Obesitas, Sains, dan Mitos “Cukup Diet dan Olahraga”

Next Post

Ketika Sejarah Menegur Bangsa: Dari Heather Cox Richardson hingga Rocky Gerung tentang Ingatan, Kekuasaan, dan Masa Depan Demokrasi

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Ketika Sejarah Menegur Bangsa: Dari Heather Cox Richardson hingga Rocky Gerung tentang Ingatan, Kekuasaan, dan Masa Depan Demokrasi

Ketika Sejarah Menegur Bangsa: Dari Heather Cox Richardson hingga Rocky Gerung tentang Ingatan, Kekuasaan, dan Masa Depan Demokrasi

Melebur Bapanas ke Bulog: Menyatukan Kewenangan atau Sekadar Menata Ulang Masalah Pangan?

Melebur Bapanas ke Bulog: Menyatukan Kewenangan atau Sekadar Menata Ulang Masalah Pangan?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...