Salah satu fungsi utama media massa, sejak awal kelahirannya dalam tradisi demokrasi modern, adalah mendidik publik. Media bukan sekadar ruang hiburan atau arena adu sensasi, melainkan institusi sosial yang bertugas membangun kualitas percakapan publik. Di sana ide dipertemukan, argumen diuji, dan masyarakat diajak berpikir lebih jernih tentang berbagai persoalan bangsa.
Namun fungsi luhur itu menjadi tercoreng ketika layar televisi—yang seharusnya menjadi ruang dialog beradab—justru berubah menjadi panggung kegaduhan.
Peristiwa ketika Permadi Arya terlibat perdebatan dengan Ikrar Nusa Bhakti dan melontarkan ucapan “professor anjing” adalah contoh nyata bagaimana ruang publik bisa jatuh ke titik yang sangat rendah. Bukan sekadar persoalan emosi sesaat dalam perdebatan, tetapi sebuah pelanggaran etika yang serius terhadap tradisi intelektual.
Hancurnya Etika Diskursus
Dalam dunia akademik maupun ruang publik yang sehat, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Bahkan ia merupakan sumber kemajuan. Namun perbedaan itu selalu diselesaikan melalui argumen, data, dan logika, bukan melalui penghinaan personal.
Ketika seseorang menyebut seorang profesor dengan kata “anjing”, yang rusak bukan hanya kehormatan individu yang dihina, tetapi juga martabat diskusi publik itu sendiri. Gelar profesor bukan sekadar titel pribadi; ia adalah simbol dari perjalanan panjang ilmu pengetahuan, dedikasi akademik, dan kontribusi terhadap masyarakat.
Menghina seorang profesor berarti merendahkan tradisi intelektual yang menjadi fondasi kemajuan sebuah bangsa.
Tanggung Jawab Media
Di sinilah pertanyaan penting harus diajukan: mengapa media memberi panggung bagi perilaku seperti ini?
Media memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik. Siapa yang dihadirkan ke layar televisi, siapa yang diberi ruang bicara, dan bagaimana format diskusi dibangun—semua itu akan memengaruhi kualitas percakapan masyarakat.
Jika media lebih tertarik pada kontroversi daripada kualitas, maka yang lahir bukanlah pencerahan, melainkan kegaduhan.
Tokoh yang kerap memancing polemik mungkin memang menarik secara rating. Tetapi rating tidak boleh menjadi satu-satunya kompas moral media. Tanpa standar etika yang jelas, media akan berubah dari institusi pendidikan publik menjadi sekadar industri sensasi.
Masalah Figur Publik
Kasus ini juga memperlihatkan persoalan lain: siapa yang dianggap layak menjadi figur publik dalam diskusi nasional.
Seseorang yang sering tampil di media semestinya memiliki beberapa prasyarat dasar:
- Integritas personal
- Kapasitas intelektual
- Kematangan emosional
- Kemampuan berdialog secara beradab
Tanpa empat hal itu, kehadirannya di ruang publik hanya akan menghasilkan kegaduhan, bukan pencerahan.
Karena itu, kritik publik yang menyerukan agar figur dengan rekam jejak kontroversial tidak lagi diberi panggung di media mainstream adalah refleksi dari kegelisahan masyarakat terhadap merosotnya kualitas diskursus publik.
Boikot Sosial sebagai Koreksi
Dalam sejarah media modern, publik sering melakukan boikot moral terhadap figur yang dianggap merusak ruang publik. Bukan sebagai bentuk kebencian personal, melainkan sebagai mekanisme koreksi sosial.
Jika seseorang terus-menerus memproduksi provokasi, penghinaan, atau konflik tanpa kontribusi intelektual yang berarti, maka masyarakat berhak mengatakan: cukup sampai di sini.
Media juga perlu melakukan refleksi: apakah panggung yang mereka berikan membantu masyarakat berpikir lebih cerdas, atau justru memperburuk kualitas percakapan bangsa?
Mengembalikan Martabat Ruang Publik
Indonesia adalah bangsa besar dengan tradisi intelektual yang panjang. Dari kampus hingga ruang diskusi publik, dari para ulama hingga para ilmuwan, kita memiliki warisan pemikiran yang kaya.
Ruang publik tidak boleh diserahkan kepada budaya ejekan, sensasi, dan penghinaan.
Peristiwa “professor anjing” seharusnya menjadi alarm bagi media dan masyarakat bahwa martabat diskursus publik sedang dipertaruhkan. Jika media ingin tetap dipercaya sebagai pilar demokrasi, maka ia harus berani memilih:
menjadi pendidik publik, atau sekadar produsen kegaduhan.
Sebab sebuah bangsa tidak akan maju jika percakapan publiknya dipimpin oleh argumentasi yang miskin tetapi penghinaan yang kaya.
























