• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Puasa: Ritual Pengekangan atau Musim Kuliner?

Ali Syarief by Ali Syarief
February 19, 2026
in Economy, Feature, Spiritual
0
Puasa: Ritual Pengekangan atau Musim Kuliner?
Share on FacebookShare on Twitter

Puasa, menurut tradisi Islam, adalah latihan pengendalian diri—menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Secara spiritual, ia merupakan ajakan untuk menyederhanakan hidup dan mengelitkan konsumsi. Namun, dalam praktik sosial ekonomi Indonesia selama bulan suci ini, terjadi paradoks tajam: daripada menjadi momentum pengekangan, Ramadan justru menjadi musim bonanza konsumsi yang kian meningkat.

Setiap tahun, pemerintah berkumpul untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pangan. Kementerian Perdagangan dan stakeholder lainnya mencatat bahwa menjelang Ramadan, harga komoditas pangan strategis mulai merangkak naik sebagai respons terhadap peningkatan permintaan konsumen. Harga-harga minyak goreng, telur, dan bahan pokok lain tercatat bergerak mendekati atau di atas batas eceran yang ditetapkan—sebuah gambaran bahwa konsumsi meningkat lebih cepat dibanding kemampuan pasar untuk mengimbanginya.

Pemerintah bahkan harus mempercepat distribusi logistik pangan seperti beras, ayam, telur, dan minyak goreng ke berbagai daerah jauh sebelum bulan puasa dimulai—sebuah langkah antisipatif yang menjadi rutin setiap Ramadan. Pada tingkat kebijakan, data Badan Pangan Nasional menunjukkan bahwa konsumsi minyak goreng diproyeksikan meningkat hampir 15 persen selama Ramadan dibandingkan dengan bulan sebelumnya, meskipun pemerintah sudah menyiapkan pasokan berlipat.

Data dan respons semacam ini bukan hanya statistik kosong. Mereka adalah bukti nyata bahwa bulan puasa dalam sistem sosial-ekonomi saat ini tetap menghasilkan lonjakan konsumsi, bukan pengurangan—lonjakan yang dibaca pasar sebagai peluang menaikkan harga, dan dibaca pemerintah sebagai tantangan stabilitas ekonomi.

Ini bukan sekadar masalah harga. Secara struktural, fenomena ini memperlihatkan bahwa:

  1. Makna puasa telah direduksi menjadi konsumsi yang lebih besar, bukan pemangkasan kebutuhan. Meski masyarakat menahan makan di siang hari, kebutuhan sahur dan berbuka serta tradisi jamuan keluarga justru meningkatkan konsumsi secara keseluruhan.
  2. Struktur pasar kapitalis merayakan Ramadan sebagai periode konsumsi tinggi, bukan refleksi spiritual. Promo, pasar murah, bazar takjil, dan festival kuliner menjadi bagian normal dari keseharian Ramadan, seakan mengaburkan garis antara ibadah dan konsumsi.
  3. Negara tampaknya lebih fokus pada stabilisasi harga dan pasokan ketimbang menyuarakan kembali makna penting puasa sebagai pengekangan yang bebas dari konsumsi berlebih.

Sementara itu, masyarakat kelas menengah dan atas merayakan puasa dengan beragam hidangan mewah saat berbuka, sebagian rumah tangga miskin justru merasakan tekanan harga pangan yang meningkat. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa “lonjakan konsumsi” bukan berarti keadilan konsumsi, tetapi beberapa pihak yang lebih mampu mengonsumsi lebih banyak lagi.

Dengan demikian, Ramadan kini tidak hanya menjadi tantangan bagi logistik dan stabilitas harga pangan, tetapi juga tantangan terhadap makna puasa dalam kehidupan kolektif. Puasa justru telah menjadi musim konsumsi massal.

Ironisnya, di saat tradisi spiritual menuntut kesederhanaan, bukti empiris dan data statistik menunjukkan realitas yang berlawanan: konsumsi meningkat, perputaran uang melonjak, dan pola konsumtif menguat, bahkan ketika sesungguhnya kita dianjurkan untuk mengekang diri.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Raffi Ahmad Rayakan Ultah di Jet Pribadi, Pengamat: Pejabat Publik Harus Punya Sense of Crisis

Next Post

Ekonomi Kapitalis vs Ekonomi Pancasila: Penyimpangan yang Mematikan Gotong Royong

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Ironi Koperasi Merah Putih: Dari Alat Pemberdayaan ke Mesin Penguasaan

Ekonomi Kapitalis vs Ekonomi Pancasila: Penyimpangan yang Mematikan Gotong Royong

Niat dan Ikhlas: Buah dari Ilmu, Tafakkur, Kehendak (Qashd), dan Tekad (‘Azm)

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...