Oleh: Damai Hari Lubis – Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212
Raja Jawa atau pemimpin Kraton Surakarta ini dikenal bengis dan menghalalkan segala cara demi mempertahankan kekuasaannya. (Lahir 1618 M – Meninggal dunia, 13 Juli 1677).
Sebagai penguasa Mataram ke-4 dengan gelar Susuhunan, Amangkurat III memerintah dari tahun 1646 M hingga wafat pada tahun 1677 M.
Mungkin inilah analogi dari Bahlil, yang dalam keadaan mabuk dengan whisky seharga 29 juta lebih (sesuai dengan foto yang beredar dan dipublikasikan).
Tipikal Amangkurat III ini mungkin mencerminkan karakter yang diterapkan oleh beberapa kaisar pada zaman Romawi Kuno atau perilaku raja-raja pada zaman Yunani, yang kemudian melahirkan teori Machiavellisme.
Pernyataan Bahlil tentang “jangan main-main dengan Raja Jawa” sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada pihak lain, tetapi juga sebagai pengingat bagi dirinya sendiri. Dia tahu persis tabiat atau karakteristik yang dia gambarkan sebagai Raja Jawa, yang dengan segala cara akan berusaha menundukkan lawan-lawan politiknya.
Maka, siapa sebenarnya Raja Jawa yang dimaksud oleh Bahlil? Mungkin sosok tersebut adalah figur yang selama ini membuatnya sangat ketakutan. Bisa jadi, yang dia maksudkan adalah Presiden Jokowi.
Catatan Redaksi :
Raja Mataram yang terkenal dengan perilaku despotisnya, dengan Bahlil Lahadalia dalam konteks pernyataan Bahlil tentang “Raja Jawa.” Saya bisa memberikan beberapa informasi sejarah terkait Amangkurat III dan relevansinya dalam konteks politik saat ini.
Amangkurat III dan Sejarahnya:
- Amangkurat III adalah Raja Mataram yang memerintah dari 1703 hingga 1708. Pemerintahannya dikenal sebagai salah satu periode yang penuh dengan konflik internal dan eksternal. Dia dikenal memiliki perilaku otoriter dan tidak disukai oleh banyak pihak, termasuk rakyatnya sendiri. Pemerintahannya berakhir ketika dia digulingkan oleh pamannya sendiri, Pangeran Puger, yang kemudian menjadi Amangkurat IV, dengan dukungan VOC (Belanda).
- Konteks Politik: Amangkurat III digambarkan sebagai penguasa yang berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan segala cara, termasuk mengorbankan kepentingan rakyat. Ini sering menjadi gambaran yang digunakan dalam politik modern untuk menggambarkan pemimpin yang otoriter atau despotis.
Bahlil Lahadalia:
- Bahlil Lahadalia, sebagai tokoh politik Indonesia saat ini, pernah membuat pernyataan kontroversial terkait “Raja Jawa.” Pernyataan ini dianggap oleh beberapa pihak sebagai bentuk retorika yang mengarah pada dominasi politik yang dapat memecah belah, mirip dengan sifat kepemimpinan yang otoriter.
- Konotasi Politik Modern: Dalam konteks politik modern, penggunaan istilah “Raja Jawa” sering kali mengacu pada dominasi politik Jawa di Indonesia. Ini bisa dilihat sebagai simbol kekuasaan sentral yang kuat dan tidak terkontrol, mirip dengan penggambaran Amangkurat III.





















