Oleh: Entang Sastraatmadja-(Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)
Persahabatan antara Perum Bulog dan petani sejatinya diharapkan menjadi hubungan yang harmonis, saling menguntungkan, dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, Perum Bulog sebagai lembaga pemerintah yang bertugas mengelola logistik pangan nasional, khususnya beras, memegang peran krusial dalam menopang keberlangsungan hidup petani sebagai produsen utama pangan.
Persahabatan ini idealnya terwujud dalam bentuk nyata: pembelian gabah dengan harga yang adil, pembayaran tepat waktu, serta dukungan teknis berupa benih unggul, pupuk, dan alat pertanian. Tak hanya itu, pembangunan infrastruktur seperti jalan tani, gudang penyimpanan, hingga kemitraan strategis untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, seharusnya menjadi komitmen bersama.
Namun, harapan yang tertulis indah di atas kertas belum sepenuhnya menjelma dalam praktik. Masih banyak persoalan di lapangan yang merusak harmoni antara Bulog dan petani. Persahabatan itu sering kali terasa semu.
Luka dalam Relasi: Masalah yang Terus Berulang
Pertama, harga gabah yang rendah kerap kali membuat petani frustasi. Tanpa jaminan harga wajar, petani kehilangan insentif untuk menanam dan berproduksi secara optimal.
Kedua, pembayaran yang terlambat atas gabah yang dibeli Bulog menjadi sumber keluhan utama petani. Di tengah kebutuhan hidup yang mendesak, keterlambatan pembayaran memukul daya tahan ekonomi keluarga petani.
Ketiga, minimnya transparansi dalam proses pembelian dan distribusi logistik membuat petani merasa terpinggirkan dari sistem yang seharusnya melibatkan mereka.
Keempat, kurangnya dukungan teknis dan pelatihan menjadikan produktivitas dan kualitas hasil pertanian stagnan, bahkan menurun di beberapa wilayah.
Kelima, keterbatasan infrastruktur seperti akses jalan dan fasilitas pasca panen menyebabkan efisiensi produksi rendah dan memperbesar potensi kerugian.
Keenam, ketergantungan pada tengkulak atau perantara membuat posisi tawar petani lemah, sehingga mereka kerap terjebak dalam lingkaran ketidakadilan harga dan distribusi.
Membangun Ulang Persahabatan yang Sejati
Untuk mengokohkan kembali relasi Bulog dan petani, sejumlah langkah strategis perlu ditempuh:
- Bangun komunikasi yang terbuka dan dua arah. Dengarkan suara petani, bukan hanya dalam forum formal, tetapi juga dalam kebijakan nyata.
- Percepat dan tepatkan pembayaran. Jangan ada lagi janji-janji yang tak ditepati saat petani sudah menyerahkan hasil panennya.
- Perkuat dukungan teknis dan akses sarana produksi. Benih unggul, pupuk tepat, dan pelatihan rutin bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama.
- Libatkan petani dalam pengambilan keputusan. Kebijakan pangan nasional akan lebih bijak jika disusun bersama pelaku langsung di lapangan.
- Terapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Segala proses pembelian dan distribusi harus terbuka agar tak menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayaan.
Menumbuhkan Brotherhood Spirit
Hubungan Bulog dan petani tidak boleh hanya sebatas transaksi ekonomi. Yang lebih penting adalah menumbuhkan semangat kebersamaan, saling menghargai, dan rasa tanggung jawab bersama — sebuah brotherhood spirit — yang menjadi fondasi bagi kedaulatan pangan nasional.
Dengan memperkuat nilai-nilai itu, Bulog dan petani bisa menjadi mitra sejati yang saling menopang, bukan relasi yang timpang antara institusi kuat dan individu yang lemah.
Sudah saatnya relasi ini bukan lagi sekadar slogan manis di balik meja rapat atau laporan tahunan, melainkan persahabatan otentik yang menyentuh tanah, menyapa sawah, dan mengangkat martabat petani Indonesia.

Oleh: Entang Sastraatmadja-(Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)




















