Oleh: Nazaruddin
Menyoal Otoritas dan Ketaatan dalam Nahdlatul Ulama
Buku “Bila Kyai Dipertuhankan: Membedah Sikap Beragama NU” karya Hartono Ahmad Jaiz dan Abduh Zulfidar Akaha merupakan karya yang berani dan kontroversial. Dengan bahasa lugas dan tajam, buku ini mengkritisi praktik keagamaan sebagian pengikut Nahdlatul Ulama (NU), terutama terkait posisi dan penghormatan terhadap kyai (ulama atau tokoh agama). Lebih dari sekadar kritik, penggunaan kata provokatif “Dipertuhankan” menegaskan kekhawatiran penulis akan penyimpangan substansial dalam praktik beragama.
Inti Kritik: Pengkultusan dan Ketaatan Buta
Buku ini memusatkan kritik pada dua isu utama: pengkultusan kyai dan ketaatan yang dianggap berlebihan.
1. Pengkultusan Kyai
Penulis berpendapat bahwa penghormatan sebagian Nahdliyin terhadap kyai telah melampaui batas kewajaran, bergeser menuju pengkultusan individu. Menurut buku ini, kondisi tersebut berpotensi mengalihkan fokus keimanan dari Allah SWT dan Rasul-Nya kepada sosok manusia, betapapun alimnya.
2. Ketaatan Buta
Selain itu, buku ini menyoroti sikap kepatuhan absolut terhadap setiap perkataan kyai, bahkan ketika bertentangan dengan akal sehat atau dalil yang lebih kuat. Ilustrasi ekstrem—“jika kyai mengatakan langit berwarna kuning maka kita harus mengatakan kuning”—menggambarkan kekhawatiran penulis terhadap hilangnya kemampuan meneliti (tathabbut) dan berpikir kritis dalam beragama. Kepatuhan tanpa batas ini, bagi penulis, menyerupai tindakan “mempertuhankan” kyai, karena hakikat ketaatan absolut hanya milik Tuhan.
Kritik atas Konsep Jihad dan Pembelaan Kyai
Buku ini juga menyoroti pemahaman jihad yang, menurut penulis, kadang disalahgunakan atau dilebih-lebihkan dalam konteks pembelaan terhadap kyai. Penulis menekankan bahwa tindakan berlebihan untuk “membela kehormatan kyai yang diganggu” berpotensi menyimpang dari makna jihad yang sesungguhnya. Kritik ini dimaksudkan untuk mengembalikan konsep jihad pada hakikat otentiknya, bebas dari sentimen personal atau kelompok.
Relevansi dan Kontroversi
“Bila Kyai Dipertuhankan” bukan buku yang netral, melainkan bersifat provokatif.
- Nilai Positif: Buku ini menjadi cermin penting bagi internal NU dan komunitas Muslim pada umumnya, mengenai bahaya ghuluw (berlebihan) dalam beragama. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara penghormatan terhadap ulama dan kemurnian tauhid, mendorong praktik keagamaan yang kritis dan berbasis dalil kuat.
- Kontroversi: Di sisi lain, judul dan gaya penulisannya yang keras berpotensi memicu reaksi defensif. Banyak pengikut NU berargumen bahwa penghormatan terhadap kyai merupakan tradisi santri-kyai yang mendalam, bukan pengkultusan, dan ketaatan buta bukan ajaran resmi melainkan penyimpangan oknum.
Kesimpulan
Buku “Bila Kyai Dipertuhankan: Membedah Sikap Beragama NU” merupakan seruan untuk kembali pada kemurnian tauhid dan praktik keberagamaan yang kritis. Meskipun disajikan dengan nada tajam dan cenderung satu sisi, buku ini berhasil memicu diskusi penting tentang batas otoritas spiritual, risiko taqlid berlebihan, dan praktik beragama yang potensial ghuluw. Buku ini cocok untuk pembaca yang tertarik pada studi pemikiran Islam, kritik sosial keagamaan, dan dinamika internal NU, namun harus dibaca dengan kesadaran akan perspektifnya yang sangat kritis dan kontroversial.

Oleh: Nazaruddin


















