Berbeda dengan budaya di Indonesia, justru rizki itu, diyakini akan bertambah ketika sudah menikah. Tetapi salah satu faktor, mengapa lelaki Jepang menunda pernikahan, atau bahkan tidak berani untuk menikah, karena alasan penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi keperluan dirinya sendiri.
Gejala diseluruh dunia, kaum muda dalam melakukan hubungan seks lebih sedikit daripada generasi sebelumnya. Lini terdepan dari apa yang disebut “resesi seks” global adalah Jepang, yang memiliki salah satu tingkat kesuburan terendah di muka Bumi, dan ini bisa menjadi peringatan bagi negara-negara industri lainnya.
Shota Suzuki bekerja sebagai penjaga gedung di Tokyo. Sepulang kerja, ia suka nongkrong di daerah yang terkenal dengan anime dan manga bersama teman-temannya. Tapi di usia 28 tahun, Suzuki belum pernah menjalin hubungan romantis, dan dia pesimis akan pernah melakukannya. “Ya, saya masih perjaka,” katanya kepada CBS News. “Saya ingin menikah, tetapi saya tidak dapat menemukan pasangan.”
The Guardian mengurai penyebab Jepang dan Korsel alami resesi seks 19/11/2022. Saat ini wanita Jepang semakin enggan untuk menikah dan memiliki anak. Menurut mereka, menikah dan memiliki anak berakibat beban biaya hidup semakin bertambah banyak. Tetapi khusus bagi wanita, di Jepang pengaruh gender konservatif, yang mewajibkan banyak wanita untuk berhenti bekerja, saat mereka hamil dan memikul beban pekerjaan rumah tangga dan tugas mengasuh anak.
Seorang peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Tokyo, menyampaikan hasil penelitianya mengenai keperawanan di Jepang. Bagaimana Jepang dibandingkan dengan Amerika, untuk angka-angka tersebut, ditemui sebagai yang tertinggi yang pernah tercatat di negara berpenghasilan tinggi itu.
Jepang sudah mengalami penurunan populasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ancaman resesi seks sebagai berita buruk. Jika tren terus seperti itu, maka penduduk Jepang akan runtuh mulai pada setengah abad berikutnya.
Sebuah tinjauan Survei Kesuburan Nasional Jepang mengungkapkan keperawanan sedang meningkat; satu dari setiap 10 pria Jepang berusia 30-an masih perawan. Itu menempatkan tingkat keperawanan Jepang jauh di depan negara-negara industri lainnya.
“Sebagian besar dari orang-orang ini tidak dapat menemukan pasangan di pasar,” Peter Ueda, seorang peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Tokyo, mengatakan kepada CBS News. Dia membunyikan alarm tentang tingkat keperawanan Jepang yang melonjak, yang menurutnya adalah, “sebenarnya yang tertinggi yang pernah tercatat di negara berpenghasilan tinggi.”
Angka-angka lain terlihat menghawatirkan banyak kalangan di Jepang. Pada tahun 2021, jumlah kelahiran di Jepang mencapai 811.604, angka ini terendah sejak pencatatan pertama kali dilakukan pada tahun 1899.
“Dulu saya berpikir saya akan menikah pada usia 25 tahun dan jadi seorang ibu pada usia 27 tahun,” kata Nao Iwai, seorang mahasiswa di Tokyo. “Tetapi ketika saya melihat kakak perempuan tertua saya, yang memiliki anak perempuan berusia dua tahun, saya takut memiliki anak,” kata dia. Iwai mengatakan, jika memiliki anak di Jepang, dan suami bekerja, maka ibu diharapkan berhenti dari pekerjaannya dan beralih menjadi ibu rumah tangga untuk menjaga anak. “Saya hanya merasa sulit untuk membesarkan anak, secara finansial, mental dan fisik,” ujar Iwai.
Naohiro Yashiro, Profesor Showa Women’s University, mengatakan, kemungkinan faktor keengganan wanita Jepang untuk menikah adalah meningkatnya biaya pernikahan. Menurutnya, dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, lebih banyak perempuan muda yang memiliki upah yang sama dengan laki-laki. Sehingga rata-rata masa pencarian pasangan mereka lebih lama.
Saat ini, rata-rata usia perkawinan pertama bagi perempuan adalah 29 tahun, jauh melampaui masa menikah di tahun 1980-an yakni 25 tahun, di mana saat itu sebagian besar perempuan hanya lulusan SMA.
Resesi seks juga terjadi di Korea Selatan. Penduduk Korsel memiliki tingkat kesuburan terendah. Populasi berusia tua membesar, seperti kasus di Jepang saat ini. Choi Jung-hee, seorang pekerja kantoran yang baru menikah, berencana tidak ingin punya anak. Ia mengatakan, kebahagian kehidupan rumah tangganya hanya dirinya dan suaminya saja sudah cukup.
“Kami menginginkan kehidupan yang menyenangkan bersama, dan sementara orang mengatakan memiliki anak dapat memberi kami kebahagiaan, itu juga berarti harus banyak menyerah,” ujar Jung-hee.
Tahun 2021, jumlah pernikahan di Korsel mencapai titik terendah sepanjang masa yaitu 193.000, di negara di mana separuh penduduknya sekarang percaya bahwa pernikahan bukanlah suatu keharusan. Kebanyakan wanita dewasa memprioritaskan kebebasan pribadi dan dengan sengaja mengesampingkan pernikahan sama sekali.
Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) adalah organisasi antar pemerintah dengan 38 negara anggota, didirikan pada tahun 1961 untuk mendorong kemajuan ekonomi dan perdagangan dunia. Di antara negara-negara OECD, Korea Selatan memiliki salah satu tingkat kepuasan hidup terendah, dan tingkat bunuh diri tertinggi. “Orang akan mulai memiliki anak hanya ketika kita menciptakan masyarakat di mana anak-anak tumbuh lebih bahagia dari kita,” kata Jung-hee.
Resesi seks Jepang, dipicu oleh persoalan dasar yaitu keuangan. Pria yang memiliki pekerjaan tetap dan mereka yang bekerja paruh waktu, atau empat kali lebih memungkinkan tidak berpengalaman secara seksual di usia, 25 hingga 39 tahun. Kemudian mereka yang menganggur, menjadi delapan kali.
Shota Suzuki mengatakan dia merasa dirugikan dengan situasi Pasar Kawin ini. Saya tidak menghasilkan cukup uang untuk menikah, hanya cukup untuk menghidupi diri sendiri. Teman-teman saya banyak yang senasib berada di perahu yang sama.
“Saya tidak menghasilkan cukup uang untuk menikah, hanya cukup untuk menghidupi diri saya sendiri,” katanya. “Teman-temanku ada di perahu yang sama.”
Para peneliti telah memperingatkan bahwa masalah ini tidak hanya terjadi di Jepang, dan AS bisa menjadi yang berikutnya.























