Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Rocky Gerung konon telah pamit dari program Indonesia Leaders Talk (ILT) setelah lima tahun mengisi zoom forum milik politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera itu. Dalihnya, Rocky akan sibuk mengurus sampah, termasuk “sampah politik”.
Diketahui, Rocky Gerung baru-baru ini menghadiri acara reshuffle kabinet di Istana Negara, Jakarta, bahkan sempat berbincang dengan Presiden Prabowo Subianto. Rocky hadir untuk mendampingi sahabatnya yang dilantik menjadi Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat. Rocky konon diminta Jumhur untuk membantunya.
Konsekuensinya, Rocky tidak hanya berhenti berbicara kritis di ILT, tapi juga mungkin di semua program diskusi yang menyuarakan oposisi. Rocky Gerung pun tak akan lagi menggerung.
Jika benar Rocky akan berhenti berbicara kritis terhadap pemerintah, yang kini dipimpin Prabowo, maka ada beberapa catatan yang perlu dikemukakan.
Pertama, ternyata tujuan dari semua aktivis politik, atau setidaknya mereka yang bersuara kritis terhadap pemerintah adalah kekuasaan. Ketika penguasa sudah memanggil, mereka akan ikut mengambil bagian kue kekuasaan yang telah dibagikan itu meskipun cuma secuil. Tak terkecuali Rocky Gerung yang merupakan seorang akademisi.
Lihat saja. Mereka yang kini duduk di kekuasaan sebagian adalah aktivis politik atau setidaknya mereka yang sempat bersuara kritis terhadap pemerimtah.
Ada Fadli Zon, Fahri Hamzah, Budiman Sudjatmiko, Hasan Nasbi, Mohamad Qodari, Jumhur Hidayat, Haikal Hassan dan sebagainya.
Haikal Hassan yang kini menjabat Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, dan merupakan pendukung fanatik Prabowo sejak 2014, itu bahkan jenaka.
Saat Joko Widodo menjabat Presiden, Haikal yang merupakan seorang pendakwah itu pernah berucap, ulama yang mendekat ke penguasa adalah lebih hina daripada lalat yang mengerubungi bangkai. Faktanya, ia kini bukan hanya mendekat kepada penguasa, melainkan menjadi bagian dari penguasa itu sendiri.
Kedua, ternyata kekuasaan itu menarik bagi siapa pun, entah akademisi apalagi politisi. Kekuasaan ibarat gula yang dikerubungi semut. Ada gula ada semut. Kekuasaan ibarat lampu yang mengundang kerumunan laron.
Ketiga, publik akan skeptis terhadap aktivis. Sekeras apa pun suara aktivis, publik akan menganggapnya sebagai angin lalu saja. Toh tujuan akhir mereka adalah kekuasaan. Ketika sudah mendapatkan kue kekuasaan mereka akan diam seribu bahasa. Ketika perut kenyang tak ada lagi suara kencang.
Keempat, tak akan ada lagi standar keteladanan bagi aktivis. Rocky Gerung yang seberani dan sekeras itu saja dengan mudahnya dibungkam dengan secuil kue kekuasaan.
Itu semua, sekali lagi, jika benar Rocky Gerung tak akan lagi bersuara kritis terhadap pemerintah karena sudah bergabung dengan kekuasaan.
Alhasil, menjadi apa pun, tujuan akhirnya adalah mendapatkan kue kekuasaan. Urusan perut, dan mungkin bawah perut.
Menjadi polisi, tujuan akhirnya adalah kekuasaan. Menjadi tentara, tujuan akhirnya adalah kekuasaan. Betapa banyak polisi dan tentara yang duduk di kursi kekuasaan.
Menjadi jurnalis, tujuan akhirnya adalah kekuasaan. Betapa banyak jurnalis yang duduk dan pernah duduk di kursi kekuasaan.
Menjadi aktivis, tujuan akhirnya adalah kekuasaan. Apalagi menjadi politisi.
Zoon politikon. Manusia adalah hewan berpolitik, kata Aristoteles (383-323 SM).

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)






















