• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Ekonomi Tumbuh, Rupiah Tumbang: Negeri yang Dipuji Angka, Dihantui Kenyataan

Ali Syarief by Ali Syarief
May 10, 2026
in Economy, Feature
0
Ekonomi Tumbuh, Rupiah Tumbang: Negeri yang Dipuji Angka, Dihantui Kenyataan
Share on FacebookShare on Twitter

Pemerintah terus memamerkan angka pertumbuhan ekonomi. Grafik dipoles, persentase diumumkan dengan penuh optimisme, pidato-pidato resmi dipenuhi narasi tentang ketahanan ekonomi nasional. Di atas kertas, Indonesia disebut tetap kuat menghadapi badai global. Namun di jalanan, di pasar, di ruang produksi, hingga di meja makan rakyat kecil, kenyataannya terasa berbeda: rupiah terus melemah, harga-harga merangkak naik, dan kegelisahan mulai menjalar ke berbagai sektor.

Inilah paradoks yang kini sedang dihadapi negeri ini. Ekonomi dikatakan tumbuh, tetapi daya beli rakyat justru melemah. Pemerintah berbicara tentang optimisme, sementara pelaku usaha mulai dihantui kecemasan. Jika ekonomi benar-benar sehat, mengapa rupiah justru terlihat semakin ringkih di hadapan dolar?

Nilai tukar rupiah bukan sekadar angka teknis di layar perbankan. Ia adalah cermin kepercayaan terhadap fundamental ekonomi sebuah negara. Ketika rupiah terus tertekan, pasar sedang mengirim sinyal bahwa ada persoalan serius yang tidak bisa ditutupi hanya dengan jargon “pertumbuhan ekonomi stabil”.

Masalahnya, pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan pemerintah lebih banyak bertumpu pada konsumsi dan proyek-proyek besar yang tidak seluruhnya menciptakan kekuatan ekonomi jangka panjang. Pertumbuhan semacam ini memang mampu menghasilkan angka statistik yang terlihat indah, tetapi rapuh dalam menghadapi tekanan global. Akibatnya, ketika dolar menguat dan arus modal asing mulai keluar, rupiah langsung limbung.

Lebih ironis lagi, di tengah klaim ekonomi yang membaik, ketergantungan terhadap impor justru masih tinggi. Indonesia kaya sumber daya alam, tetapi masih mengimpor berbagai kebutuhan pokok dan bahan industri. Negeri agraris yang dahulu dikenal sebagai lumbung rempah dunia kini masih sibuk mendatangkan pangan dari luar negeri. Dalam kondisi seperti ini, pelemahan rupiah otomatis membuat biaya impor melonjak dan menekan seluruh rantai ekonomi nasional.

Yang mulai was-was bukan hanya rakyat kecil. Dunia usaha mulai berhitung ulang. Industri yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi kenaikan biaya produksi. Investor mulai mencermati stabilitas fiskal dan moneter dengan lebih hati-hati. Bahkan kelas menengah yang selama ini menjadi penopang konsumsi nasional mulai merasakan sesaknya tekanan ekonomi.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Pelemahan rupiah dapat menciptakan efek domino: harga barang naik, inflasi meningkat, suku bunga bertahan tinggi, kredit melambat, dunia usaha menahan ekspansi, dan lapangan kerja semakin sempit. Dalam situasi seperti ini, pertumbuhan ekonomi akhirnya hanya menjadi angka yang hidup di podium-podium resmi, tetapi mati di dalam realitas sosial masyarakat.

Persoalan terbesar bangsa ini mungkin bukan semata lemahnya rupiah, melainkan kebiasaan membangun pencitraan ekonomi tanpa keberanian mengakui akar masalah. Pemerintah terlalu sering menjadikan statistik sebagai alat propaganda, bukan sebagai alat evaluasi. Padahal rakyat tidak hidup dari persentase pertumbuhan ekonomi. Rakyat hidup dari harga sembako yang terjangkau, pekerjaan yang layak, dan masa depan yang memberikan rasa aman.

Ironinya, semakin keras pemerintah mengklaim ekonomi baik-baik saja, semakin terasa jurang antara narasi elite dengan kenyataan rakyat. Sebab publik bisa melihat sendiri: rupiah melemah, PHK terjadi di berbagai sektor, biaya hidup naik, dan ketidakpastian ekonomi global semakin mengintai.

Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar harus diajukan: untuk siapa sebenarnya pertumbuhan ekonomi itu? Jika pertumbuhan hanya menghasilkan tepuk tangan di ruang kekuasaan tetapi tidak menghadirkan ketenangan di tengah masyarakat, maka yang tumbuh mungkin hanyalah angka—bukan kesejahteraan.

Dan ketika rupiah terus terpuruk di tengah slogan pertumbuhan ekonomi, negeri ini sedang mempertontonkan satu ironi besar: ekonomi dipuji setinggi langit, sementara fondasinya mulai gemetar pelan-pelan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Rocky Gerung yang Tak Lagi Menggerung

Next Post

Cinta atau Takut kepada Allah? – (Ketika Iman Tidak Lagi Diukur dari Seberapa Banyak Kita Tahu, Tetapi Seberapa Dalam Kita Menjaga Diri)

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo
Birokrasi

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR
Birokrasi

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Feature

NEGARA, SEPIRING NASI, DAN RASA CURIGA

May 13, 2026
Next Post

Cinta atau Takut kepada Allah? - (Ketika Iman Tidak Lagi Diukur dari Seberapa Banyak Kita Tahu, Tetapi Seberapa Dalam Kita Menjaga Diri)

Simalakama Teddy Wijaya

Teddy is The Real President!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

May 13, 2026
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026

NEGARA, SEPIRING NASI, DAN RASA CURIGA

May 13, 2026

​Ketika Negara Membuka Hulu Kerusakan ​(Refleksi tentang Moral Bangsa, Kebijakan Publik, dan Arah Peradaban Indonesia)

May 13, 2026
Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

May 13, 2026
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...