• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

RUBEDA “KUTUK” ALAM  ATAS JOKOWI

M.Yamin Nasution by M.Yamin Nasution
June 28, 2025
in Feature
0
RUBEDA “KUTUK” ALAM  ATAS JOKOWI
Share on FacebookShare on Twitter
Muhammad Yamin Nasution

Oleh: M. Yamin Nasution, S.H. – Peneliti Hukum

Tulisan ini merupakan refleksi atas konsep hukum adat dan filsafat kosmologi Jawa. Seluruh isi bersifat simbolik dan filosofis. Ia tidak bertujuan menilai kondisi medis atau hukum positif terhadap pribadi tertentu, melainkan sebagai pembacaan kultural atas relasi kekuasaan, rakyat, dan semesta menurut tradisi kebatinan Nusantara.

Filsafat Tanah: Ketika Bumi Menjadi Hakim

Dalam The History of Java (1817), Sir Stamford Raffles mencatat bahwa masyarakat Jawa kuno memandang dunia sebagai jaringan spiritual yang hidup. Pohon, batu, angin, dan air adalah entitas yang memiliki jiwa, bukan objek mati, tetapi subjek relasional. Ini bukan sekadar animisme, tetapi sebuah filsafat ekologis yang menempatkan manusia sebagai bagian dari kosmos, bukan penguasanya.

Josephus Lewis Wheeler menulis dalam Bataknis (1843), bahwa di berbagai belahan Nusantara, tanah tidak diperlakukan sebagai komoditas, melainkan sebagai warisan suci leluhur. Oleh karena itu, perampasan tanah bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi pengkhianatan terhadap roh bumi, yang akan membangkitkan murka tak kasatmata: kutuk tanah, atau dalam istilah Jawa, rubeda.

Jokowi Kehilangan Akar

Joko Widodo, seorang tokoh politik modern yang menampilkan citra kejawen sederhana, menjabat dua periode sebagai presiden Republik Indonesia. Ia sering menyebut warisan budaya dan nilai-nilai rakyat sebagai fondasi pemerintahannya. Namun dalam praktik, banyak keputusan strategis justru menjauhkan rakyat dari tanahnya sendiri, baik secara fisik maupun spiritual.

Padahal, dalam kerangka hukum adat Indonesia, sebagaimana dipaparkan oleh Prof. Dr. Supomo, relasi antara pemimpin dan rakyat bukan sekadar hubungan administratif. Dalam salah satu kuliah umumnya tentang persoonlijkheidsbeginsel dalam hukum adat, Supomo menekankan bahwa:

 “Kepala negara dalam sistem adat adalah personifikasi dari kekuatan spiritual rakyat. Bila ia berlaku tidak adil terhadap rakyat, maka kekuatan itu sirna, dan yang datang bukan hanya ketidakpuasan sosial, tetapi keguncangan tatanan jagad.”

Dengan kata lain, pemimpin bukan sekadar pejabat publik, tetapi pengemban beban metafisik. Ketika keadilan tak ditegakkan dan rakyat kehilangan hak atas tanah, maka yang rusak bukan hanya hukum, tapi keseimbangan kosmis.

Inilah yang dahulu juga diamati oleh Julian Wolbers dalam karya klasiknya Nederlandsch-Indië: Zedekundige en Staatkundige Beschouwing (1856). Ia menulis:

“Di tanah Hindia, tiada kezaliman yang lebih menindas daripada mencabut rakyat dari tanahnya sendiri. Sebab tanah bukan hanya sumber makan, tetapi martabat, sejarah, dan arah jiwa bangsa.”

Pernyataan Wolbers terasa presisi untuk menggambarkan apa yang terjadi di masa kini. Dalam berbagai proyek infrastruktur, mulai dari tambang, bendungan, hingga pemindahan ibu kota, rakyat dipindahkan tanpa konsensus, tanah adat diserahkan ke swasta, dan petani kehilangan tempat berpijak.

Di sinilah wahyu kaprabon, legitimasi spiritual seorang pemimpin, mulai terkikis. Sebab, kekuasaan tanpa restu tanah dan tanpa kehendak batin rakyat hanyalah kediktatoran teknokratis yang rapuh. Ia mungkin berdiri di layar televisi, tetapi goyah dalam hukum alam.Tanah yang Tak Boleh Diinjak Sembarangan

J.J. de Sturler van Stavorinus, dalam catatan perjalanannya tahun 1770-an, menyaksikan bahwa setiap pembukaan lahan di Jawa disertai ritual selamatan. Tanah bukan ruang kosong, tapi tubuh semesta. Maka pembangunan yang merusak, tanpa restu sosial dan spiritual, dianggap sebagai kesombongan kekuasaan yang pasti akan mendatangkan “balasan yang tak kasat mata.”

Dalam perspektif ini, pembangunan Ibu Kota Negara (IKN), bendungan, proyek jalan tol, hingga tambang-tambang besar yang menyingkirkan masyarakat lokal bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi cidera kosmis.

Rubeda, Simbol Kutuk Batin

Dalam tradisi Jawa, pemimpin sejati harus memiliki wahyu kaprabon (Kejawen-takdir jadi Raja), daya spiritual yang lahir dari keselarasan antara batin rakyat dan jiwa alam. Henry Ian Smith dalam risetnya menyebut, kekuasaan di Jawa Tengah tidak berdiri di atas anggaran, tapi atas restu jagad dan leluhur.

Ketika pemimpin tidak lagi menjalankan laku prihatin, tidak menyatu dengan penderitaan rakyat, dan memutus tali dengan bumi, maka wahyu itu hilang. Tubuh pemimpin pun akan menanggung dampaknya. Maka ketika Presiden Jokowi dikabarkan mengalami penyakit kulit kronis yang tak sembuh oleh tim medis, bagi sebagian masyarakat adat, itu dibaca sebagai rubeda, bukan sakit medis, tapi kutuk spiritual.

Rubeda adalah isyarat bahwa tubuh tak lagi ditopang oleh restu tanah. Bahwa pemimpin telah kehilangan “keseimbangan batin”.

Satu Suro dan Cermin Diri

Dalam kebudayaan Jawa, Satu Suro adalah malam sakral. Ia adalah saat para pemimpin melakukan tapa brata, merenung di hadapan alam, dan bertanya pada diri sendiri: apakah aku masih diterima oleh bumi? Apakah langkahku masih menyatu dengan rakyat? Akui keselahan dan meminta maaf atas penghiatan, kebohongan dan darah korban arogansi kuasa.

Namun Jokowi, dalam persepsi banyak rakyat, justru menjadi simbol keterputusan dari rasa, keputusan-keputusan besar dijalankan secara teknokratis, bukan empatik. Proyek-proyek dijalankan di atas penderitaan rakyat, bukan demi kesejahteraan. Maka saat ini Jokowi tidak sedang diadili oleh pengamat politik, melainkan oleh pengadilan alam.

Kesimpulan : Vonis Kosmis dan Hilangnya Wahyu

Kini Jokowi telah purna tugas. Tapi kekuasaan dalam kosmologi Jawa tidak berakhir dengan masa jabatan. Yang ditinggalkan tetap hidup: banjir, longsor, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, duka petani yang kehilangan sawah, dan darah-darah korban atas arogansi.

Ia tidak bisa menebus kepercayaan rakyat yang telah hilang. Ia tidak bisa memulihkan keharmonisan jagad yang telah dilukai. Dalam hukum alam, tak ada amnesti. Tak ada buzzer yang bisa membungkam suara angin. Tak ada siaran pers yang bisa menghentikan pengadilan air dan tanah.

Pengadilan Alam tidak bisa dimenangkan dengan strategi. Ia hanya tunduk pada kejujuran batin. Wahyu sirna. Rubeda rawuh. Jagad telah bicara, kutuk dan virus tak mampu diatasi oleh dokter canggih kecuali permintaan maaf.

Referensi:

Sir Stamford Raffles, The History of Java, 1817

Josephus Lewis Wheeler, Bataknis, 1843

Julian Wolbers, Nederlandsch-Indië, 1856

J.J. de Sturler van Stavorinus, Voyages to the East Indies, c. 1770

Henry Ian Smith, Javanese Society and Colonial Rule, 1930

Prof. Dr. Supomo, Babak tentang Hukum Adat, 1953

Serat Kalatidha, Serat Centhini, Suluk Malang Sumirang

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

NEGARA BERTUHAN, AGAMA MEMBISU : Ketuhanan Yang Maha Siswa

Next Post

PERTENTANGAN UU MINERBA DENGAN UUD-NRI 1945

M.Yamin Nasution

M.Yamin Nasution

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Kerusakan Ekologis Menyumbang Kerugian Negara Terbesar dari Total Rp 300 T pada Kasus Korupsi Timah. Apa Dasarnya?

PERTENTANGAN UU MINERBA DENGAN UUD-NRI 1945

Perekonomian Semakin Memburuk ,  Gula Mendekati Rp 20.000 Harga Sembako Lainnya Ikutan Melonjak

Bubarnya Dewan Ketahanan Pangan: Saat Negeri Kehilangan Kompas Koordinasi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...