• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Bubarnya Dewan Ketahanan Pangan: Saat Negeri Kehilangan Kompas Koordinasi

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
June 28, 2025
in Economy, Feature
0
Perekonomian Semakin Memburuk ,  Gula Mendekati Rp 20.000 Harga Sembako Lainnya Ikutan Melonjak
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastroatmadja – Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat

Empat tahun lalu, ketika pemerintah membubarkan Dewan Ketahanan Pangan, banyak pihak langsung merasakan keganjilan. Lembaga yang selama ini berfungsi sebagai simpul koordinasi lintas sektor—antara kementerian di pusat, maupun antara pusat dan daerah—tiba-tiba lenyap begitu saja. Sejak saat itu, pengelolaan pangan seperti kehilangan kompasnya.

Tanpa simpul koordinasi yang kuat, ego sektoral kini makin kentara. Setiap institusi berjalan dengan agenda masing-masing, memprioritaskan sektor sendiri ketimbang kolaborasi lintas lembaga. Padahal, pembangunan pangan jelas bersifat multisektor dan multipihak. Tak mungkin bicara ketahanan pangan tanpa koordinasi yang utuh dan menyeluruh.

Dalam banyak literatur, Simpul Koordinasi Pangan (SKP) diartikan sebagai sistem atau mekanisme yang menjembatani berbagai pemangku kepentingan—pemerintah, LSM, industri, petani, hingga masyarakat luas. Tujuannya? Membangun sinergi, meningkatkan efisiensi pengelolaan pangan, menjamin keterjangkauan dan kualitas pangan, serta menanggulangi ketimpangan dan kerawanan pangan. SKP juga memiliki peran strategis seperti menyelaraskan kebijakan, menghimpun dan mengolah data, menyelesaikan masalah pangan, membangun sistem peringatan dini, hingga memperkuat komunikasi lintas sektor.

Manfaat dari keberadaan SKP tak main-main: efisiensi tata kelola pangan meningkat, risiko krisis dapat ditekan, kualitas hidup membaik, dan petani—aktor utama—lebih terlindungi. Maka wajar jika hilangnya simpul koordinasi ini dianggap sebagai kemunduran dalam arsitektur kebijakan pangan nasional.

Di tengah kekosongan ini, muncul wacana segar dari Pemerintahan Prabowo-Gibran: mengeluarkan Perum Bulog dari status Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan menjadikannya lembaga otonom di bawah Presiden. Ini ide besar yang layak didiskusikan serius. Selama 22 tahun berstatus BUMN, Bulog tampak lebih dikenal sebagai operator impor pangan ketimbang lembaga strategis pangan nasional. Padahal, perannya semestinya jauh lebih dari sekadar pelaksana penugasan.

Sebagai BUMN, Bulog terkungkung oleh logika profit—harus untung, tak boleh rugi. Namun ketika menjalankan misi sosial, misalnya menstabilkan harga atau menyerap hasil tani, logika bisnis itu justru bisa menjadi bumerang. Apakah pantas lembaga yang seharusnya menjadi pelindung pangan rakyat, justru menghitung margin keuntungan dari penderitaan petani dan konsumen?

Karena itu, jika benar Pemerintah hendak menjadikan Bulog sebagai aktor sentral dalam sistem pangan nasional, maka status dan strukturnya memang harus dirombak. Sebagai lembaga otonom langsung di bawah Presiden, Bulog akan lebih fleksibel menjalankan fungsi sosial, tanpa beban mengejar laba. Bahkan, transformasi ini bisa memperkuat peran Bulog sebagai offtaker sejati—pembeli gabah dan beras dengan harga layak demi menguntungkan petani, sekaligus menstabilkan harga di tingkat konsumen.

Dalam semangat mempererat persahabatan antara negara dan petani, kehadiran Bulog harus mampu melindungi petani dari eksploitasi tengkulak, permainan harga, hingga spekulasi pangan. Di titik inilah, simpul koordinasi pangan menjadi mutlak dibutuhkan kembali. Tanpa simpul, setiap pihak bergerak sendiri. Tanpa arah yang jelas, pangan akan jadi komoditas penuh konflik kepentingan.

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan bagi para pengambil kebijakan, agar simpul koordinasi pangan tak lagi dianggap remeh, dan Perum Bulog tak terus-menerus dibiarkan berjalan pincang di antara dua kutub: sosial dan komersial. Negeri agraris ini layak memiliki sistem pangan yang berdaulat—dengan simpul koordinasi yang kuat, dan lembaga pelaksana yang benar-benar berpihak pada rakyat.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PERTENTANGAN UU MINERBA DENGAN UUD-NRI 1945

Next Post

Perhitungan Kerugian Keuangan Negara Versi BPKP Tidak Wajar: Diduga ada Rekayasa dan Kriminalisasi.

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik
Economy

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

May 16, 2026
Birokrasi

Tumbal Birokrasi di Balik Sepatu Sekolah Rakyat: Ketidaktahuan atau Pembiaran?

May 16, 2026
Feature

PRABOWO, THE ECONOMIST, DAN PERTARUNGAN MEMBACA INDONESIA

May 16, 2026
Next Post
Tom Lembong “Bongkar Kesalahan Jokowi Hingga Terlibat di Kubu Anies”

Perhitungan Kerugian Keuangan Negara Versi BPKP Tidak Wajar: Diduga ada Rekayasa dan Kriminalisasi.

Amuba Dusta Jokowi: Warisan Moral yang Merusak, Urgensi Evaluasi Kesehatan demi Tanggung Jawab Hukum

Jokowi, Si Mahasiswa Ganda: Drs dan Ir dari UGM, Kuliah Pagi dan Sore

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

May 16, 2026

Tumbal Birokrasi di Balik Sepatu Sekolah Rakyat: Ketidaktahuan atau Pembiaran?

May 16, 2026

PRABOWO, THE ECONOMIST, DAN PERTARUNGAN MEMBACA INDONESIA

May 16, 2026
Bisik-Bisik Pemakzulan: Prabowo dan Dua Wajah Kabinet yang Menyimpan Agenda

Membungkam Kritik, Menabur Ketakutan

May 16, 2026
Hingar-Bingar Gibran di Senayan: Siapa yang Mau Menjaga Takhta Jika Prabowo Tiada?

Dosa Tak Terasa Memilih Prabowo

May 16, 2026

Ketika Akhlak Melahirkan Syariah

May 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

Rupiah Lemah Tidak Selalu Patriotik

May 16, 2026

Tumbal Birokrasi di Balik Sepatu Sekolah Rakyat: Ketidaktahuan atau Pembiaran?

May 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...