• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Rusaknya Sebuah Negara Menurut Para Pemikir Terkenal

fusilat by fusilat
May 14, 2026
in Feature, Politik
0
Rusaknya Sebuah Negara Menurut Para Pemikir Terkenal
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Optic Macca

Negara tidak selalu runtuh oleh invasi atau perang. Sebagian justru roboh pelan-pelan dari dalam: ketika moral penguasanya membusuk, hukum kehilangan wibawa, dan rakyat dipelihara dalam ketidaktahuan.

Sejak ribuan tahun lalu, para pemikir dunia sebenarnya telah mengingatkan ihwal gejala itu. Socrates, Umar ibn Khattab, dan Aristoteles datang dari zaman berbeda, tapi memiliki kesimpulan serupa: negara rusak ketika kekuasaan kehilangan moralitas dan keadilan.

Socrates termasuk yang paling curiga terhadap demokrasi. Bukan karena ia membenci rakyat, melainkan karena ia takut demokrasi jatuh ke tangan warga yang tak terdidik. Dalam pandangannya, negara akan mudah dipermainkan oleh para demagog—politikus yang piawai mengaduk emosi publik, tapi miskin gagasan.

Demokrasi, bagi Socrates, bisa berubah menjadi panggung gaduh penuh omon-omon. Orang dipilih bukan karena kapasitas, melainkan karena popularitas. Di titik itu, rakyat mudah dimobilisasi oleh propaganda dan ketakutan.

Apa yang ditakutkan Socrates tampak dalam banyak contoh modern. Venezuela pernah menjadi negara kaya minyak dengan demokrasi elektoral yang riuh. Namun populisme politik, kultus individu, dan lemahnya institusi menyeret negara itu pada krisis ekonomi berkepanjangan. Inflasi menggila, rakyat eksodus, dan negara nyaris lumpuh.

Hal serupa terlihat di Myanmar. Demokrasi yang rapuh membuat negara itu mudah kembali jatuh ke dalam cengkeraman otoritarianisme militer. Ketika institusi sipil lemah dan rakyat tak memiliki perlindungan demokratis yang kuat, kekuasaan mudah direbut oleh mereka yang bersenjata.

Berbeda dengan Socrates, Umar ibn Khattab berbicara lebih tajam soal moral penguasa. Menurut khalifah kedua dalam tradisi Islam itu, negara mulai rusak ketika pemimpinnya hidup bermewah-mewah dan tidak amanah mengelola harta rakyat.

Baitul mal—keuangan negara—dalam pandangan Umar bukan alat untuk memperkaya keluarga dan kroni. Ia adalah titipan publik yang harus dijaga dengan rasa takut kepada keadilan.

Karena itu, Umar dikenal keras terhadap pejabat yang hidup berlebihan. Ia percaya, ketika elite mulai sibuk menumpuk kemewahan, maka jarak dengan rakyat perlahan berubah menjadi jurang.

Contoh paling mudah terlihat di Zimbabwe pada era Robert Mugabe. Kekuasaan yang terlalu panjang melahirkan patronase, korupsi, dan ekonomi yang ambruk. Rakyat hidup dalam kemiskinan, sementara elite politik menikmati fasilitas negara.

Di Libya pada masa Muammar Gaddafi, kritik terhadap penguasa nyaris tak punya ruang. Negara tampak kokoh dari luar, tapi rapuh di dalam. Ketika ledakan sosial datang, negara itu runtuh dalam kekacauan panjang.

Adapun Aristoteles melihat kerusakan negara dari sudut lain: ketimpangan dan kerakusan elite. Menurut dia, setiap sistem pemerintahan punya potensi menyimpang. Monarki bisa berubah menjadi tirani. Aristokrasi bisa menjelma oligarki. Bahkan demokrasi pun dapat berubah menjadi kekacauan massa.

Ketika kekayaan hanya berputar di lingkar elite, rasa keadilan masyarakat perlahan menghilang. Dari situ lahir kemarahan sosial.

Prancis sebelum Revolusi 1789 menjadi contoh klasik. Bangsawan hidup mewah, sementara rakyat menanggung pajak dan kelaparan. Ketimpangan yang terlalu lebar akhirnya meledak menjadi revolusi berdarah yang menggulingkan monarki.

Gelombang Arab Spring di kawasan Timur Tengah juga memperlihatkan pola serupa. Korupsi, pengangguran, ketimpangan ekonomi, dan pemerintahan represif memicu kemarahan publik yang sulit dibendung.

Meski berbeda zaman dan latar budaya, Socrates, Umar ibn Khattab, dan Aristoteles memiliki titik temu yang mencolok. Mereka percaya kehancuran negara selalu bermula dari hilangnya moralitas dan keadilan.

Ketika penguasa lebih sibuk menjaga kekuasaan dibanding menjaga rakyat, ketika hukum diperalat untuk kepentingan kelompok, dan ketika kritik dianggap ancaman, maka negara sebenarnya sedang menggali lubang keruntuhannya sendiri.

Pertanyaannya: apakah gejala itu sedang tumbuh di Indonesia pasca tiga orde—Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi?

Jawabannya mungkin tidak hitam-putih. Namun tanda-tandanya bukan tak terlihat. Politik dinasti mulai dianggap biasa. Korupsi tetap tumbuh meski reformasi sudah berjalan lebih dari dua dekade. Penegakan hukum sering dipersepsikan tajam ke lawan, tumpul ke kawan. Di saat yang sama, ruang publik dipenuhi propaganda, buzzer, dan kegaduhan politik yang melelahkan.

Indonesia memang belum runtuh. Tapi sejarah memperlihatkan, kerusakan negara tidak pernah datang mendadak. Ia tumbuh perlahan—melalui kompromi terhadap ketidakadilan, pembiaran terhadap korupsi, dan kebiasaan memaklumi penyimpangan kekuasaan.

Dan biasanya, ketika sebuah bangsa mulai kehilangan rasa malu, kehancuran tinggal menunggu waktu.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pikiran Todung Mulya Lubis

Next Post

Dari Desa ke Istana: Ambisi Politik di Tengah Anggaran yang Tertatih

fusilat

fusilat

Related Posts

Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)
Feature

Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)

June 28, 2026
Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa
Politik

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

June 28, 2026
Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai
News

Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

June 28, 2026
Next Post
Dari Desa ke Istana: Ambisi Politik di Tengah Anggaran yang Tertatih

Dari Desa ke Istana: Ambisi Politik di Tengah Anggaran yang Tertatih

Nasaruddin Umar dan Retaknya Otoritas Moral Menteri Agama

Nasaruddin Umar dan Retaknya Otoritas Moral Menteri Agama

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Indonesia Targetkan PLTN Operasi Tahun 2032, Rusia Siap Kerja Sama
Economy

Indonesia Targetkan PLTN Operasi Tahun 2032, Rusia Siap Kerja Sama

by Karyudi Sutajah Putra
June 24, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Indonesia menargetkan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) komersial perdananya tahun 2032. Rusia siap bekerja sama. Duta...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

Mengapa Penangkapan Roy Suryo dan Tifa Seperti Teroris? Ini Kata IPW!

June 22, 2026
Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

June 22, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ketika Kembang Sepatu Membaca Pikiran Jokowi

Ketika Kembang Sepatu Membaca Pikiran Jokowi

June 28, 2026
Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)

Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)

June 28, 2026
Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

June 28, 2026
Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

June 28, 2026

Mengobati Demam atau Menyembuhkan Penyakit? Refleksi tentang Satgas Mitigasi PHK dan Akar Persoalan Ekonomi Indonesia

June 28, 2026
Pertamina Diminta Antisipasi Praktik Korupsi “Rilesta” demi Menjaga Distribusi BBM Tepat Sasaran

Pertamina Diminta Antisipasi Praktik Korupsi “Rilesta” demi Menjaga Distribusi BBM Tepat Sasaran

June 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Kembang Sepatu Membaca Pikiran Jokowi

Ketika Kembang Sepatu Membaca Pikiran Jokowi

June 28, 2026
Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)

Trauma Bonding Demokrasi (Ketika Rakyat Terus Memaafkan Pemimpin yang Terus Mengecewakannya)

June 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist