• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Sarjana Penggerak Desa dan Wakil Presiden Tanpa Ijazah: Ironi Standar Negara

Ali Syarief by Ali Syarief
March 16, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Sarjana Penggerak Desa dan Wakil Presiden Tanpa Ijazah: Ironi Standar Negara
Share on FacebookShare on Twitter

Ada ironi yang begitu telanjang di wajah kebijakan negara hari ini. Pemerintah membuka program perekrutan Sarjana Penggerak Pembangunan Desa. Syaratnya jelas: lulusan S1 hingga S2, berpendidikan tinggi, dianggap memiliki kapasitas intelektual untuk mendorong perubahan sosial di desa.

Negara ingin desa dibangun oleh orang-orang yang terdidik. Rasionalitas kebijakan ini tampak indah di atas kertas. Desa harus dipimpin oleh pengetahuan, bukan sekadar niat baik.

Namun di saat yang sama, pada puncak struktur kekuasaan negara, berdiri seorang wakil presiden yang menurut penelitian ilmiah Rismon, bahkan tidak memiliki ijazah SMA.

Kontradiksi ini bukan sekadar janggal. Ia absurd.

Negara menetapkan standar tinggi untuk mengurus desa, tetapi terlihat sangat longgar—bahkan nyaris nihil—ketika menentukan siapa yang layak duduk di kursi kekuasaan tertinggi. Seolah-olah untuk memimpin desa dibutuhkan kecerdasan akademik, tetapi untuk memimpin negara cukup dengan legitimasi politik.

Logika ini terbalik.

Jika desa—unit pemerintahan paling kecil—memerlukan sarjana, maka seharusnya negara—unit kekuasaan paling besar—memerlukan standar yang jauh lebih tinggi. Negara bukan proyek percobaan. Negara adalah institusi yang menentukan nasib jutaan manusia.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Negara seperti kehilangan rasa malu terhadap standar intelektual kepemimpinan.

Program Sarjana Penggerak Desa secara tidak sengaja justru membuka cermin besar bagi republik ini. Pemerintah seolah berkata kepada generasi muda: kalian harus sekolah tinggi untuk bekerja di desa. Namun pada saat yang sama, negara memperlihatkan bahwa pendidikan bukan syarat penting untuk memimpin bangsa.

Ini bukan hanya paradoks administratif. Ini adalah krisis moral dalam cara negara memaknai meritokrasi.

Negara meminta rakyatnya bekerja keras menempuh pendidikan tinggi. Orang tua menjual sawah, menggadaikan rumah, meminjam uang agar anaknya bisa kuliah. Pendidikan dipromosikan sebagai jalan menuju kepemimpinan.

Tetapi praktik politik memperlihatkan pesan yang sangat berbeda: kekuasaan bisa diraih tanpa prestasi akademik, tanpa rekam intelektual, bahkan tanpa transparansi tentang riwayat pendidikan.

Jika penelitian Rismo benar, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar soal ijazah. Yang dipertaruhkan adalah integritas sistem politik.

Sebab negara yang membiarkan ketidakjelasan riwayat pendidikan pemimpinnya berarti negara yang sedang mengikis prinsip akuntabilitas publik. Rakyat berhak mengetahui siapa yang memimpin mereka, termasuk latar belakang intelektualnya.

Apalagi dalam era di mana kebijakan publik semakin kompleks: geopolitik, teknologi, ekonomi digital, krisis iklim, hingga transformasi industri. Kepemimpinan negara bukan sekadar soal popularitas atau jaringan kekuasaan, tetapi juga kemampuan memahami persoalan zaman.

Jika desa membutuhkan sarjana untuk berkembang, mengapa negara tidak membutuhkan standar intelektual yang lebih tinggi untuk memimpin?

Di sinilah kontradiksi itu menjadi sangat telanjang.

Program Sarjana Penggerak Desa sebenarnya adalah ide yang baik. Desa memang membutuhkan energi baru, gagasan baru, dan kapasitas intelektual baru. Tetapi program ini berubah menjadi satir politik ketika ditempatkan berdampingan dengan realitas kepemimpinan nasional yang tidak transparan.

Republik ini seperti sedang berkata: ilmu penting bagi rakyat, tetapi tidak terlalu penting bagi penguasa.

Inilah ironi terbesar negara kita hari ini.

Ketika desa dipaksa rasional, negara justru dipimpin oleh irasionalitas politik.

Dan jika republik ini terus berjalan dengan standar ganda seperti ini, maka satu pertanyaan sederhana akan terus menghantui kesadaran publik:

Apakah negara ini benar-benar menghargai pendidikan, atau pendidikan hanya diwajibkan bagi rakyat—bukan bagi mereka yang berkuasa?

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Prabowo: Program MBG Dorong Ekonomi Rakyat Kecil di Tengah Krisis Global

Next Post

Anwar “Mengaum”, Prabowo “Mengembik”

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG
Economy

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026
Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara
Feature

Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

March 26, 2026
Next Post
Anwar “Mengaum”, Prabowo “Mengembik”

Anwar "Mengaum", Prabowo "Mengembik"

Trump Mulai Ditinggal 7 Negara Sekutunya

Trump Mulai Ditinggal 7 Negara Sekutunya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026
Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

March 26, 2026

MUNGKINKAH PENJAJAHAN DIHAPUSKAN DARI MUKA BUMI?

March 26, 2026
Harga BBM Mahal, Rakyat Terjepit: Membandingkan Jepang dan Indonesia dari Sudut Daya Beli

Harga BBM Mahal, Rakyat Terjepit: Membandingkan Jepang dan Indonesia dari Sudut Daya Beli

March 26, 2026
Japan Lepas Cadangan Minyak Negara untuk Stabilkan Pasokan Energi

Japan Lepas Cadangan Minyak Negara untuk Stabilkan Pasokan Energi

March 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...