Fusilatnews – Dalam dunia pewayangan, Sengkuni tak pernah benar-benar mati. Ia tak pernah jadi raja, tapi istana tak pernah bisa tenang tanpanya. Ia si pembisik, si pengatur narasi, si pengendali bayangan yang selalu berdiri satu langkah di belakang kursi kekuasaan.
Dua belas tahun silam, nama Sengkuni muncul bukan dari panggung wayang, tapi dari bibir Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum Partai Demokrat yang tengah dikorbankan dalam drama korupsi berjamaah. Ia menyebut seseorang yang berlagak suci tapi penuh intrik, yang mengendalikan partai dan negara dengan tali halus penuh jebakan, yang “tampak tak pernah marah tapi selalu menyingkirkan.” Sengkuni, katanya, telah merasuk dalam tubuh kekuasaan.
Kala itu, tudingan diarahkan pada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden yang kerap tampil lembut tapi diyakini keras dalam strategi. Tapi sejarah, seperti halnya pewayangan, selalu berputar. Hari ini, publik melihat lakon lama dimainkan kembali—dengan bintang baru di panggung kekuasaan.
Nama Jokowi mungkin dulu dikenal sebagai tokoh wong cilik, tetapi kini ia tampil lebih mirip Sengkuni dalam wajah rakyat biasa. Ia bukan sekadar dalang, tapi juga penampil. Bukan hanya memetik benang kekuasaan, tapi juga merajutnya ulang: mengatur putranya menjadi wakil presiden, memoles menantunya menjadi gubernur, dan membuka jalan politik bagi anak keduanya menjadi Ketum Partai. Jika Sengkuni dulu hanya mengatur Duryudana, maka Jokowi adalah Sengkuni sekaligus Duryudana.
Konstitusi pun dipermainkan seperti gulungan kulit wayang yang lentur. Keputusan Mahkamah Konstitusi dimanipulasi, dan ironi terjadi ketika sang ipar sendiri yang membuka pintu takdir bagi sang anak. Betapa apik permainan ini dijalankan. Di luar panggung, publik hanya mendengar narasi: demi bangsa, demi kesinambungan, demi pembangunan IKN. Tapi di balik layar, dusta dijahit rapi menjadi jubah kepahlawanan.
Sengkuni, dalam epos Mahabharata, bukanlah tokoh dengan tangan berdarah. Ia tak pernah memegang pedang. Tapi perang Baratayuda terjadi karena lidahnya. Ia memecah saudara, membakar dendam, menabur fitnah. Dalam kisah modern kita, perang tak lagi berdarah. Ia hadir dalam bentuk pembunuhan karakter, manipulasi media, perusakan tatanan hukum, dan pelemahan oposisi. Semua dilakukan dengan senyum khas sang Sengkuni baru—sederhana, santai, penuh pencitraan.
Kini, rakyat menatap panggung dengan rasa gamang. Mereka tak tahu lagi siapa Pandawa, siapa Kurawa. Yang mereka tahu, istana telah menjadi panggung wayang, di mana kebenaran tak lagi ditentukan oleh dharma, melainkan oleh narasi dan dana.
Sengkuni tidak mati. Ia hanya berganti rupa. Jika dulu ia tinggal di Hastinapura, hari ini mungkin ia tinggal di Istananya Solo, di tengah rimbun pepohonan, tersenyum di balik kamera, dan bersabda: “Saya Ndak Tahu.”
Tapi rakyat mulai sadar: jika Sengkuni kembali, maka Baratayuda pun tak lama lagi.

























