FusilatNews – Setiap jam, 13 orang Indonesia meninggal akibat Tuberkulosis (TBC)—sebuah angka pilu yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kasus TBC terbanyak ketiga di dunia, setelah India dan China. Di saat dunia perlahan keluar dari krisis COVID-19, kita justru masih berkubang dalam tragedi senyap bernama TBC. Tapi mengapa tragedi ini nyaris tak terdengar?
Tiba-tiba, sorotan tertuju pada kunjungan Bill Gates ke Indonesia. Nama besar pendiri Microsoft ini tentu bukan asing. Lewat Bill & Melinda Gates Foundation, ia telah lama dikenal sebagai dermawan global dalam bidang kesehatan, termasuk dalam upaya eliminasi TBC. Kunjungannya digadang-gadang sebagai bentuk dukungan terhadap penanganan penyakit menular di Indonesia. Namun, benarkah demikian?
Di Amerika Serikat, uji klinis untuk obat dan vaksin bukan urusan sepele. Prosesnya memakan waktu hingga satu dekade, dengan biaya miliaran dolar dan pengawasan ketat dari FDA. Tapi dunia tidak seluruhnya Amerika. Di banyak negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, standar bisa ditawar. Protokol bisa disesuaikan. Dan manusia—yang miskin dan tak berdaya—bisa dengan mudah menjadi sukarelawan, bahkan tanpa benar-benar tahu risikonya.
Indonesia, dengan segala keterbukaannya terhadap kerjasama internasional, sering kali tampak lebih antusias pada kata “inovasi” daripada pada prinsip kehati-hatian. Kita pernah menyaksikan derasnya uji coba vaksin saat pandemi, dan kini, vaksin TBC dikabarkan tengah diuji di beberapa wilayah seperti Jawa Barat, dengan dukungan sejumlah tokoh lokal yang bangga menjadi “pelopor kesehatan”.
Namun, pertanyaan mendasar yang harus diajukan adalah ini: mengapa Indonesia yang dipilih?
Jawabannya mungkin tidak mengejutkan: populasi besar, regulasi longgar, birokrasi lentur, dan elit yang mudah tergoda janji investasi. Di negeri ini, proposal yang rapi dan retorika kemanusiaan sering kali lebih efektif dari standar etik riset. Apa yang di Amerika membutuhkan waktu sepuluh tahun dan pengujian ketat, di Indonesia bisa dilakukan dalam waktu jauh lebih singkat.
Bill Gates mungkin datang membawa niat baik. Tapi niat baik di tangan sistem yang lemah bisa melahirkan kerusakan yang tak kasatmata. Indonesia bukan sekadar tempat uji coba—ia bisa jadi laboratorium sunyi dari ketimpangan global. Di balik jargon “kerjasama internasional” tersimpan realitas pahit: negara ini lebih siap menyerahkan rakyatnya untuk penelitian orang lain daripada meneliti demi rakyatnya sendiri.
Tentu, tidak semua kolaborasi asing harus dicurigai. Dunia memang membutuhkan gotong royong dalam menghadapi penyakit global. Tapi dalam kerjasama yang sehat, harus ada keseimbangan. Harus ada etika. Harus ada keberanian untuk berkata “tidak” bila rakyat dijadikan objek eksperimen yang tidak adil.
Ironisnya, di tengah angka kematian TBC yang mengerikan, Indonesia justru lebih sibuk menjadi bagian dari solusi global ketimbang menyelesaikan persoalan domestiknya. Kita bangga karena menjadi lokasi “penelitian internasional”, tapi lupa bertanya: apa manfaatnya bagi rakyat yang setiap jam kehilangan nyawa karena TBC?
Kita tidak kekurangan kematian. Kita kekurangan keberanian untuk bertanya: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari semua ini?
























