Oleh Damai Hari Lubis-Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212
“Untuk Para Pengurus PKS: Tahu nggak, kami para pendukung PKS habis di-bully, dicaci maki, dan diolok-olok oleh para pendukung koalisi KIM. Kalian tak ada apa-apanya tanpa kami, rakyat yang setia mendukungmu.”
Demikian bunyi status akun dari tokoh masyarakat di Twitter, @Ali Syarief, yang sering disapa “Profesor” oleh para pengikutnya.
Lalu, sambungnya: “Sekarang kalian khianati kami, hanya demi menikmati kekuasaan sesaat.”
Pendapat Ali Syarief, yang terbiasa dipanggil profesor oleh orang Jepang, mengingatkan pada istilah sarkasme yang dilontarkan Rocky Gerung kepada Presiden Jokowi, “Bajingan Tolol.” Istilah ini semakin relevan setelah peristiwa-peristiwa terkini, termasuk keputusan Jokowi yang membagikan kondom melalui PP. 28 Tahun 2024 dengan alasan edukasi kesehatan, dan rencana perayaan Hari Kemerdekaan di IKN dengan menghamburkan uang untuk acara yang dirasa tidak bermanfaat.
Maka, dari analogi kepribadian antara Jokowi sebagai Presiden RI dan Ahmad Syaikhu, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang kabarnya tidak akan memberikan tiket untuk Anies di Pilgub DKI, muncul pertanyaan: Apakah kedua pemimpin ini memiliki corak etos yang sama?
Seorang pemilik akun Twitter bernama “Wapres Spanyol” menanggapi status Ali Syarief dengan berkata, “Kalau begitu, Ketua Umum PKS juga Bajingan Tolol, dong?”
Tindakan PKS yang digambarkan ini tidak hanya mencederai Anies secara pribadi, tetapi juga menyakiti banyak konstituen PKS, sebagaimana diungkapkan di berbagai media sosial. Pernyataan sarkastis “bajingan tolol” yang ditujukan kepada presiden PKS dan Jokowi tampaknya memiliki kesan bahwa kedua tokoh ini memang memiliki kemiripan dalam cara mereka mengkhianati pendukungnya.
Pertanyaan yang muncul dari publik kini adalah, apakah Anies Baswedan, yang pernah dituduh korupsi meski BPK memberikan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama lima tahun, akan tetap diam dan hanya tersenyum? Langkah apa yang akan diambil Anies, yang membuat PKS meraih kursi terbanyak di DKI Jakarta, mengalahkan PDIP? Meski keputusan mendukung bakal cagub adalah hak PKS, Anies bukanlah tokoh biasa-biasa saja. Jika Anies mampu merangkul dukungan dari partai besar seperti PDIP dan Nasdem, hasilnya bisa sangat signifikan. Sebaliknya, PKS bisa saja berakhir seperti “rumah bordil Gang Dolly, Kramat Tunggak, atau Saritem yang tergusur,” menyisakan kenangan identitas kelompok dengan “sejarah lumayan buruk rupa,” meskipun pernah mendatangkan rejeki bagi sebagian kalangan.























