Oleh: Dr Sukron Ma’mun Yusuf MA
Jakarta – Sya’ban adalah nama bulan ke-8 dari kalender Hijriyah di antara bulan ke-7, Rajab dan bulan ke-9, Ramadhan.
Kata sya’ban secara etimologi berarti berpisah atau berpencar, hal ini karena dahulu kala suku-suku Arab biasanya berpencar dan berpisah untuk mencari sumber air dan padang rumput untuk ternak mereka.
Kata sya”ban jiga berarti cabang-cabang. Hal ini karena pada bulan Sya’ban cabang-cabang kebaikan begitu sangat banyak sehingga dapat dimanfaatkan oleh orang beriman untuk persiapan memasuki bulan Ramadhan.
Anggapan Kurang Tepat
Semula bulan Sya’ban dianggap sebagai bulan yang biasa, tidak terlalu istimewa. Bahkan Nabi Muhammad SAW katakan dalam sabdanya bahwa bulan Sya’ban adalah sebagai bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia. Anggapan ini bisa jadi beralasan karena posisinya di antara 2 bulan istimewa, yaitu bulan Rajab, sebagai salah satu bulan haram (disucikan), bahkan diposisikan sebagai bulan Allah (syahrullah) dan bulan Ramadhan, bulan yang kedatangannya selalu dinanti-nanti umat Islam karena banyak terdapat kebaikan dan keberkahan di dalamnya.
Bulan Ramadhan pun diklaim sebagai bulan umat Nabi Muhammad SAW. Padahal jika diperhatikan dengan seksama maka ditemukan banyak keistimewaan dari bulan Sya’ban.
Beberapa Keistimewaan
Di antara keistimewaan bulan Sya’ban antara lain:
Pertama, bulan pelebur dosa.
Pada bulan ini Allah SWT memberikan ampunan yang luas kepada seluruh hamba-Nya. Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad bahwa pada malam pertengahan di bulan Sya’ban, Allah turun untuk menatap hamba-Nya dan memberikan pengampunan kepada mereka kecuali 3 golongan, yaitu golongan musyrik, pembunuh manusia, dan orang yang bernusuhan.
Kedua, bulan pengabulan doa.
Allah SWT telah menjadikan tempat-tempat dan waktu-waktu tertentu sebagai tempat dan waktu yang mustajab dalam berdoa, termasuk waktu-waktu di bulan Sya’ban dan terutama di malam pertengahannya.
Dalam satu hadits riwayat Imam Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda bahwa pada malam pertengahan Sya’ban, Allah SWT turun ke langit dunia dan akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Siapa yang minta ampun maka akan Allah ampuni, siapa yang mohon rezeki maka akan Allah berikan, dan siapa yang sakit dan minta disembuhkan maka akan Allah sembuhkan.
Ketiga, bulan peningkatan amal kebajikan.
Bulan Sya’ban adalah satu bulan yang berada di posisi pertengahan antara bulan haram Rajab dan bulan suci Ramadhan. Posisi ini sangat strategis untuk menjaga kuantitas dan kualitas amal kebajikan yang telah dilakukan sejak bulan Rajab.
Di kalangan orang-orang soleh terkenal sebuah ungkapan yang oleh sebagian dianggap sebagai hadits Nabi. Yaitu, bulan Rajab adalah bulan untuk menanam amal, bulan Sya’ban adalah bulan untuk menyiram, dan bulan Ramadhan adalah bulan untuk memanen.
Rasulullah sendiri juga menjadikan bulan Sya’ban sebagai bulan untuk menjaga amal-amal kebajikan, salah satunya adalah ibadah puasa. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Siti Aisyah bahwa Rasulullah SAW berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan dan paling banyak puasanya setelah itu di bulan Sya’ban.
Keempat, bulan Sya’ban sebagai bulan persiapan memasuki Ramadhan.
Ramadhan adalah bulan suci dan tidak memasukinya kecuali mereka yang suci. Di sinilah pentingnya bulan Sya’ban yang menjadi bulan pelebur dosa.
Ramadhan adalah bulan ibadah, siapa pun yang memasukinya hendaknya sudah siap beramal. Di sinilah pentingnya menjadikan bulan Sya’ban sebagai bulan pembiasaan amal-amal baik.
Ramadhan adalah bulan ketaatan, sehingga yang memasukinya mesti menyiapkan keimanan agar dapat melaksanakan berbagai macam ketaatan.
Alhasil, spirit Sya’ban adalah password memasuki bulan suci Ramadhan.






















