• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

SUJUD UNTUK RAKYAT ATAU MERAMPOK ANGGARAN? Dua Wajah Kekuasaan Para Bupati

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
March 14, 2026
in Birokrasi, Crime
0
SUJUD UNTUK RAKYAT ATAU MERAMPOK ANGGARAN? Dua Wajah Kekuasaan Para Bupati
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja

Jabatan bupati pada hakikatnya adalah pemimpin eksekutif di tingkat kabupaten yang dipilih melalui proses demokrasi untuk menjalankan pemerintahan daerah serta melaksanakan kebijakan publik. Namun jika ditanya esensinya, jabatan itu sesungguhnya adalah amanah untuk menjadi servant of the people—pelayan masyarakat. Tugas utamanya bukan sekadar memegang kekuasaan, melainkan melayani dan meningkatkan kesejahteraan warga yang dipimpinnya.

Di titik inilah jabatan bupati memperlihatkan dua wajah yang kontras. Ada yang menjadikannya sebagai ruang pengabdian tulus kepada rakyat, bahkan sampai merendahkan diri demi memperjuangkan nasib daerahnya. Namun ada pula yang justru memanfaatkannya sebagai jalan menuju kekayaan pribadi melalui korupsi.

Potret pertama datang dari Kabupaten Nias Utara. Bupati Nias Utara, Amizaro Waruwu—yang dilantik pada 20 Februari 2025—sempat menjadi sorotan publik. Ia melakukan sujud di hadapan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Yandri Susanto. Aksi itu bukanlah simbol kepatuhan kepada manusia, melainkan ekspresi kerendahan hati seorang pemimpin yang memohon perhatian pemerintah pusat bagi daerahnya yang masih tergolong miskin.

Dalam tradisi Islam, sujud merupakan bentuk ibadah yang paling dalam maknanya. Ia adalah simbol ketundukan total kepada Allah, yang dilakukan dengan meletakkan dahi di tanah sebagai tanda kerendahan diri dan pengakuan atas kebesaran-Nya. Sujud juga merupakan rukun shalat yang paling sakral, sekaligus menjadi simbol spiritual bahwa manusia tidak memiliki apa-apa di hadapan Sang Pencipta.

Namun pada sisi lain, publik juga disuguhi potret yang memalukan. Dari Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, muncul kabar bahwa menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun ini dua kepala daerah terjerat Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka adalah Bupati Pekalongan dan Bupati Rejang Lebong, Bengkulu.

Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas dugaan tindak pidana korupsi. Untuk menjaga stabilitas pemerintahan, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menunjuk Wakil Bupati Sukirman sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan.

Kasus ini termasuk kategori kejahatan kerah putih (white-collar crime), yaitu kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki status sosial atau jabatan tinggi, biasanya berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan, manipulasi keuangan, atau korupsi.

Pertanyaannya, mengapa masih ada bupati yang memilih jalan korupsi?

Seorang kepala daerah bisa tergelincir karena berbagai faktor: tekanan finansial, ambisi kekuasaan, gaya hidup, atau lemahnya sistem pengawasan. Namun pada akhirnya, semua kembali pada pilihan individu. Kekuasaan memang selalu menjadi ujian karakter.

Ada beberapa faktor yang sering mendorong terjadinya kejahatan kerah putih di kalangan pejabat daerah.

Pertama, kesempatan. Jabatan bupati memiliki kewenangan besar dan akses terhadap anggaran publik yang sangat besar, sehingga membuka peluang penyalahgunaan.

Kedua, lemahnya pengawasan. Sistem pengawasan yang tidak efektif membuat sebagian pejabat merasa tindakannya tidak akan terdeteksi.

Ketiga, gaya hidup. Ambisi untuk hidup mewah, mempertahankan status sosial, atau membangun citra kekayaan sering kali menjadi pemicu.

Keempat, budaya lingkungan. Jika lingkungan kekuasaan terbiasa dengan praktik korupsi, perilaku tersebut lama-kelamaan dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Namun harus diakui, tidak semua bupati demikian. Masih banyak kepala daerah yang menjaga integritas dan menganggap jabatan sebagai amanah. Karena pada akhirnya, seperti sering dikatakan, integritas adalah pilihan.

Akar persoalan korupsi bisa saja berasal dari sistem pengawasan yang lemah, kurangnya transparansi, atau budaya politik yang permisif terhadap penyimpangan. Tetapi faktor individu tetap memegang peran utama. Ketika hukum tidak ditegakkan secara tegas dan konsekuensi tidak jelas, sebagian orang merasa bebas menyalahgunakan kekuasaan.

Fenomena yang muncul menjelang Lebaran 2026 ini benar-benar menghadirkan dua gambaran yang antagonistik. Di satu sisi, seorang bupati rela merendahkan diri demi memperjuangkan nasib rakyatnya. Di sisi lain, ada bupati yang justru memperkaya diri melalui penyalahgunaan kekuasaan.

Yang satu menunjukkan empati dan kepedulian.
Yang lain memperlihatkan kerakusan.

Kejahatan kerah putih yang dilakukan oleh pejabat publik tentu tidak boleh dibiarkan. Untuk menanganinya, aparat penegak hukum perlu melakukan beberapa langkah penting.

Pertama, melakukan investigasi yang mendalam dan teliti guna mengumpulkan bukti yang kuat.

Kedua, memperkuat kerja sama antarlembaga, seperti KPK, BPK, dan lembaga pengawasan lainnya, agar penelusuran kasus menjadi lebih komprehensif.

Ketiga, melakukan pengawasan yang ketat terhadap aset dan transaksi keuangan pejabat publik yang diduga terlibat dalam praktik korupsi.

Keempat, memastikan penindakan yang tegas dan adil, sehingga ada efek jera bagi siapa pun yang menyalahgunakan kekuasaan.

Kelima, memperkuat pencegahan, melalui transparansi, akuntabilitas, serta peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya integritas dalam pemerintahan.

Pada akhirnya, jabatan bupati hanyalah amanah. Ia bisa menjadi jalan pengabdian yang mulia, tetapi juga bisa berubah menjadi pintu menuju kehinaan.

Pilihan itu selalu ada di tangan pemegang kekuasaan.

Semoga peristiwa ini menjadi percik permenungan bagi kita semua.

(Penulis, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Perkuat Kerja Sama dengan SLB A YAPTI, Dosen FKIPS UIM Isi Materi Pesantren Kilat

Next Post

Masuk di Mulut, Keluar di Toilet: Di Mana Investasinya?

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo
Birokrasi

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan
Crime

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026
Next Post
Masuk di Mulut, Keluar di Toilet: Di Mana Investasinya?

Masuk di Mulut, Keluar di Toilet: Di Mana Investasinya?

Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Sahroni Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS, Sebut Aksi Teror Demokrasi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...