Oleh; Barna Soemantri
Di tengah derasnya perubahan zaman, umat manusia sedang memasuki sebuah fase peradaban baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia tidak lagi hanya berubah secara perlahan sebagaimana era revolusi industri, tetapi meloncat secara eksponensial melalui kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), otomasi, big data, robotika, bioteknologi, dan transhumanisme. Perubahan itu melahirkan sebuah pertanyaan besar: apakah manusia masih menjadi subjek peradaban, atau justru perlahan tergantikan oleh ciptaannya sendiri?
Dalam konteks itulah, gagasan besar Syarikat Islam menjadi relevan untuk dibaca kembali. Bukan sekadar sebagai organisasi sejarah yang pernah melahirkan kesadaran kebangsaan Indonesia, tetapi sebagai gerakan yang mencoba menjawab tantangan masa depan dengan fondasi tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah.
Syarikat Islam sejak awal menyadari bahwa tantangan umat ke depan bukan hanya kolonialisme fisik, tetapi juga kolonialisme ekonomi, teknologi, budaya, bahkan kolonialisme kesadaran. Karena itu, dalam transformasi gerakannya, SI mengangkat konsep “Back to Azimuth”, yakni kembali kepada garis perjuangan awal yang relevan dengan zaman kekinian.
Namun tantangan hari ini jauh lebih kompleks dibanding masa kolonial. Jika dahulu penjajahan datang melalui senjata dan kekuatan militer, kini penjajahan hadir melalui algoritma, dominasi platform digital, penguasaan data, dan kontrol ekonomi global berbasis teknologi.
Singularitas: Ketika Mesin Melampaui Manusia
Dalam dokumen resmi SI bahkan disebutkan secara eksplisit tentang tantangan “singularitas”, yaitu kondisi ketika kecerdasan buatan berkembang melampaui kemampuan manusia dan mengubah tata kehidupan dunia.
Ini bukan lagi sekadar cerita film fiksi ilmiah. Hari ini AI telah mampu menulis, menggambar, menerjemahkan bahasa, mengendalikan industri, membaca perilaku manusia, bahkan memengaruhi pilihan politik masyarakat melalui algoritma media sosial.
Di masa depan, jutaan pekerjaan manusia berpotensi hilang:
- kasir diganti mesin otomatis,
- sopir diganti kendaraan otonom,
- wartawan diganti AI generatif,
- guru diganti sistem pembelajaran virtual,
- bahkan pengambilan keputusan pemerintahan perlahan dipengaruhi machine learning.
Ironisnya, manusia modern justru semakin bergantung kepada teknologi yang diciptakannya sendiri. Manusia kehilangan kemampuan berpikir mendalam, kehilangan kepekaan sosial, dan perlahan menjadikan teknologi sebagai “agama baru” yang dianggap mampu menjawab seluruh persoalan kehidupan.
Di sinilah kegelisahan SI menjadi penting. Sebab ketika teknologi berkembang tanpa adab, manusia berisiko berubah hanya menjadi makhluk biologis yang kehilangan ruh kemanusiaannya.
SI dan Pertarungan Menjaga Kemanusiaan
Berbeda dengan paradigma Barat modern yang menempatkan teknologi sebagai pusat peradaban, Syarikat Islam justru menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. SI menegaskan pentingnya menyeimbangkan keahlian dan adab agar manusia tidak kehilangan akal budinya.
Syarikat Islam memahami bahwa kemajuan teknologi tidak boleh melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual tetapi miskin secara moral. Sebab krisis terbesar masa depan bukan semata krisis ekonomi, melainkan krisis nilai.
Ketika AI mampu menggantikan pekerjaan manusia, maka nilai utama manusia bukan lagi sekadar keterampilan teknis, melainkan:
- akhlak,
- kreativitas,
- kebijaksanaan,
- empati,
- dan spiritualitas.
Hal-hal itulah yang tidak bisa sepenuhnya digantikan mesin.
Karena itu, konsep “Sebersih-bersih Tauhid, Ilmu Pengetahuan, dan Siyasah” yang menjadi fondasi gerakan SI sesungguhnya adalah upaya membangun keseimbangan antara spiritualitas dan modernitas.
Dakwah Ekonomi versus Kapitalisme Digital
Tantangan besar lain di era AI adalah lahirnya kapitalisme digital global. Segelintir perusahaan teknologi dunia menguasai data miliaran manusia. Mereka mengendalikan informasi, pola konsumsi, hingga perilaku masyarakat.
Dalam situasi seperti itu, umat Islam berisiko hanya menjadi:
- pasar,
- pengguna,
- dan objek eksploitasi digital.
Karena itulah SI mengusung “Dakwah Ekonomi” sebagai strategi perlawanan.
Dakwah ekonomi bukan sekadar bisnis, tetapi membangun kemandirian umat:
- menguasai perdagangan,
- membangun kewirausahaan,
- memperkuat ekonomi syariah,
- menciptakan jejaring usaha,
- dan mengembangkan ekonomi digital berbasis nilai Islam.
Pertanyaannya hari ini: mampukah umat Islam membangun platform digital sendiri? Mampukah lahir generasi Muslim yang menjadi pencipta teknologi, bukan hanya konsumen teknologi?
Jika tidak, maka kolonialisme digital akan menjadi bentuk penjajahan baru yang lebih halus tetapi jauh lebih kuat.
Pendidikan Visioner: Melahirkan Manusia Masa Depan
SI juga menyadari bahwa pertarungan masa depan ditentukan oleh pendidikan. Karena itu mereka menekankan pendidikan visioner yang melahirkan manusia:
- merdeka,
- mandiri,
- kreatif,
- berani,
- bertauhid bersih,
- dan unggul dalam sains teknologi.
Di era AI, pendidikan tidak cukup hanya menghafal teori. Dunia membutuhkan manusia yang mampu:
- berpikir kritis,
- beradaptasi,
- menciptakan inovasi,
- sekaligus menjaga moralitas.
Jika sekolah hanya melahirkan manusia administratif, maka mereka akan kalah oleh mesin. Tetapi jika pendidikan melahirkan manusia berkarakter dan visioner, maka teknologi justru menjadi alat untuk memperkuat peradaban.
Masa Depan: Pertarungan Adab versus Teknologi
Akhirnya, tantangan terbesar masa depan bukan soal siapa paling canggih teknologinya, tetapi siapa yang mampu menjaga kemanusiaannya.
Peradaban modern sedang bergerak menuju dunia yang serba otomatis tetapi sekaligus sepi makna. Manusia semakin terkoneksi secara digital tetapi semakin terasing secara spiritual.
Di titik itu, gagasan Syarikat Islam menemukan relevansinya kembali.
Bahwa kemajuan tidak boleh memisahkan manusia dari Tuhan.
Bahwa ilmu tanpa adab melahirkan kerusakan.
Bahwa teknologi tanpa tauhid hanya akan menciptakan kesombongan baru.
Dan bahwa masa depan umat tidak cukup dibangun hanya dengan politik kekuasaan, tetapi dengan pendidikan, ekonomi, moralitas, dan peradaban.
Jika SI mampu menerjemahkan gagasan besarnya ke dalam gerakan nyata — membangun pendidikan teknologi, ekonomi digital syariah, kader intelektual, dan penguasaan AI berbasis etika Islam — maka SI bukan hanya akan menjadi organisasi nostalgia sejarah, tetapi bisa kembali menjadi pelopor kebangkitan umat di era peradaban digital.
Karena pada akhirnya, pertarungan terbesar manusia bukan melawan mesin, melainkan melawan kemungkinan hilangnya kemanusiaan itu sendiri.
























