Oleh: Ali Syarief
Ada satu momen yang terasa janggal sekaligus membuka tabir cara berpikir para elite kita. Ketika Joko Widodo mengaku menelepon pemimpin Timur Tengah dan bertanya: “Yang mulia, kapan perang selesai?”—jawabannya sederhana, jujur, sekaligus menampar: tidak tahu.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi soal perang. Tapi soal cara berpikir.
Apakah Perang Itu Jadwal Rapat?
Perang bukan seminar nasional yang bisa ditentukan tanggal pembuka dan penutupnya. Ia bukan proyek infrastruktur yang bisa dikejar target peresmian. Perang adalah akumulasi kebencian, kepentingan, sejarah panjang, dan ego kekuasaan.
Ketika konflik melibatkan tiga poros besar—Amerika Serikat, Israel, dan Iran—yang bermain, bukan lagi logika sederhana. Yang bergerak adalah:
- doktrin militer
- strategi geopolitik
- kepentingan energi global
- bahkan pertaruhan dominasi peradaban
Dalam konteks seperti itu, bertanya “kapan selesai?” terdengar seperti bertanya kepada badai: kapan kau berhenti?
Yang Seharusnya Ditanyakan, Bukan Itu
Kalau benar ingin memahami perang, pertanyaan yang tepat justru jauh lebih dalam dan tidak nyaman:
- Apa tujuan sebenarnya dari perang ini?
Bukan alasan resmi, tapi motif yang tersembunyi di balik layar. - Siapa yang paling diuntungkan?
Karena sejarah menunjukkan: perang selalu punya investor. - Berapa harga yang harus dibayar rakyat sipil?
Dan mengapa mereka selalu menjadi korban pertama. - Apakah ini perang yang akan meluas atau justru dipelihara agar tidak pernah selesai?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak populer. Tapi justru di situlah letak kejujuran.
Ketika Pemimpin Berpikir Terlalu Sederhana
Jawaban “tidak tahu” dari pihak yang berada “di dalam lingkaran perang” sebenarnya bukan kelemahan. Itu justru realitas.
Yang menjadi masalah adalah ketika seorang pemimpin—atau mantan pemimpin—mengajukan pertanyaan yang terlalu menyederhanakan kompleksitas dunia.
Karena publik kemudian melihat:
apakah ini ketidaktahuan?
atau sekadar retorika?
atau memang cara berpikir yang dangkal terhadap persoalan global?
Dan di sinilah kritik menjadi relevan.
Dunia Tidak Butuh Peramal
Menyindir bahwa “yang mulia disangka dukun” memang terasa keras, tapi ada pesan penting di baliknya:
Tidak ada seorang pun—bahkan pemimpin negara adidaya—yang bisa memastikan kapan perang selesai.
Karena perang bukan soal waktu.
Ia soal keputusan politik.
Dan keputusan politik sering kali justru dibuat untuk memperpanjang konflik, bukan mengakhirinya.
Penutup: Pertanyaan yang Salah, Arah yang Salah
Dalam dunia yang sedang bergejolak, kualitas kepemimpinan diuji bukan dari seberapa sering bertanya—tetapi dari apa yang ditanyakan.
Salah bertanya, maka salah memahami.
Salah memahami, maka salah mengambil posisi.
Dan ketika itu terjadi, sebuah bangsa tidak hanya kehilangan arah—
tapi juga kehilangan kedalaman berpikir di tengah dunia yang semakin brutal.
Perang mungkin memang tidak punya tanggal selesai.
Tapi cara kita memahaminya—itulah yang menentukan apakah kita sekadar penonton…
atau bangsa yang benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi.

Oleh: Ali Syarief
























