Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Bintang lazimnya bersinar. Justru karena bersinar itulah maka ia disebut bintang. Jika tak bersinar, berarti ia bukan bintang.
Sosok-sosok yang baru saja dianugerahi bintang tanda jasa oleh Presiden Prabowo Subianto pun banyak yang tidak bersinar, sehingga sesungguhnya tidak layak mendapatkan bintang.
Sebut saja Menteri Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Menteri Luar Negeri Sugiono. Ketiganya bersama sejumlah menteri lainnya mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra Utama.
Diketahui, Presiden Prabowo menganugerahkan bintang tanda jasa kepada 141 tokoh yang dianggap sangat berjasa bagi negara.
Mensesneg Prasetyo Hadi berdalih bintang yang ia terima bersama sejumlah menteri lainnya di Kabinet Merah Putih adalah berkat pencapaian yang luar biasa selama 10 bulan menjadi menteri.
Entah pencapaian semacam apa yang dianggap luar biasa itu, karena rakyat tak merasakan dampaknya. Jangan-jangan hanya subjektivitas Prabowo yang menganggap kroni-kroninya itu berprestasi luar biasa.
Teddy, Pras dan Sugiono baru seumur jagung duduk di kabinet. Lantas apa prestasi mereka yang spektakuler, sehingga mendapatkan bintang?
Belum layaklah mereka mendapatkan bintang tanda jasa. Sebab baru sebentar mereka bekerja untuk negara.
Lebih parah lagi, di antara Teddy Wijaya dkk, terselip nama bekas Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah yang mendapatkan Bintang Mahaputra Adipradana.
Saat ini pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, itu menjabat Komisaris Utama PT PLN. Namun, tahun 2008 lalu Burhanuddin dihukum 5 tahun penjara dalam kasus korupsi terkait penarikan dana 100 miliar rupiah dari Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI).
Di sinilah penganugerahan bintang jasa itu telah kehilangan legitimasi moralnya. Akibatnya, bintang itu bukan saja tidak bercahaya, melainkan gelap-gulita.
Mungkin bila Noel tidak tersandung kasus korupsi, Wakil Menteri Ketenagakerjaan bernama lengkap Immanuel Ebenezer Gerungan itu juga akan dianugerahi bintang tanda jasa oleh Prabowo.
Nama Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Prabowo juga terselip di antara 141 tokoh penerima bintang jasa yang kebanyakan tidak bersinar itu.
Entah apa jasa Hashim bagi negara. Apa karena dia seorang pengusaha seperti Haji Isam (Andi Syamsuddin Arsyad) yang juga mendapatkan bintang Mahaputra Utama dari Prabowo?
Kita tidak tahu pasti. Sebab lebih banyak pengusaha yang kontribusinya bagi negara jauh lebih besar daripada Hashim.
Apa karena Hashim menjadi Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi? Bukankah baru seumur jagung Hashim menduduki jabatan tersebut?
Dugaan kita, Hashim mendapatkan bintang tanda jasa karena ia seorang adik kandung Prabowo. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Senyampang sang kakak masih jadi Presiden!
Dus, kalau bintang sudah diobral, jelas mengalami inflasi. Karena bintang yang “dijual” murah itu tak lagi bersinar. Termasuk Teddy Wijaya, “anak” kesayangan Prabowo.


























