Di masa kecil saya, kata orang tua, ada dua jenis binatang yang tak boleh sembarangan diajak bercanda: gajah dan cicak. Gajah karena besar dan bisa menginjak Anda sampai gepeng, dan cicak karena kecil tapi bisa nongkrong di langit-langit sambil pura-pura tidak berdosa, padahal ikut rapat intelijen. Tapi belakangan saya sadar, ada satu lagi makhluk yang lebih berbahaya dari keduanya: mantan presiden yang tak mau pensiun.
Namanya Joko Widodo. Dulu kami kira ia Gajah. Tenang. Kalem. Tidak suka menyenggol. Katanya dari Solo, suka blusukan, dan hobinya menyiram tanaman. Tapi rupanya kami keliru. Ia bukan Gajah. Ia ternyata… Terung.
Iya, Terung. Sayuran ungu yang kelihatannya lemah lembut, mudah dikunyah, dan sering dijadikan teman sambal. Tapi coba Anda gigit mentah-mentah, rasanya pahit. Dimasak dengan santan pun tetap licin. Dan yang paling berbahaya: ia bisa menyusup ke segala macam sayur tanpa Anda sadari.
Itulah Jokowi. Setelah jabatannya selesai, ia tidak pulang ke rumah dan menikmati cucu. Ia malah bikin gerakan bawah tanah ala sayur terung: menyusup ke PSI, mengembungkan partai kurus kering itu dengan dukungan “habis-habisan”. Sekarang kita tahu: ia bukan mau pensiun, ia cuma pindah lapak.
Pernyataan “saya akan dukung PSI habis-habisan” itu bukan ucapan seorang negarawan, melainkan curhatan seorang ayah yang takut anaknya tidak dapat peringkat di kelas. Maka digelontorkanlah pengaruh, jaringan, dan entah mungkin juga nasi kotak—demi satu partai yang bahkan pada 2019 lalu tak diundang ke Senayan.
Ini bukan politik, Bung. Ini eksperimen rasa bumbu dapur. Mau diuji: bisa tidak satu partai tanpa ideologi, tanpa basis massa, tanpa sejarah—tapi punya nama belakang “Pangarep”—bisa menguasai negeri?
Jokowi ingin PSI jadi kendaraan utama pasca-presiden. Kendaraan? Ini lebih mirip becak yang bannya kempes, tapi penumpangnya anak raja. Dan si tukang becaknya? Ya siapa lagi kalau bukan mantan Presiden yang sekarang merangkap sebagai juru kampanye permanen.
Dulu rakyat pilih dia karena tampak sederhana. Tapi kesederhanaan ini ternyata cuma bungkus. Dalamnya politik keluarga, kuasa yang diperpanjang diam-diam, dan ambisi yang tak kunjung surut. Ini bukan lagi soal Gibran, ini soal nafsu untuk tetap jadi dirigen walau orkestra sudah bubar.
Cuma di negeri kita, mantan presiden bisa lebih sibuk setelah pensiun. Bukan bikin memoar, tapi bikin manuver. Satu kaki di Istana, satu kaki di partai, dan satu tangan masih memegang remote kekuasaan. Jokowi telah menunjukkan: pensiun itu hanya mitos.
Maka pantaslah kita nyatakan hari ini: Jokowi bukan Gajah, bukan pula Cicak. Ia Terung berpolitik—lembek tampaknya, tapi licin langkahnya. Dan bila tidak hati-hati, kita akan memakannya bulat-bulat, lalu menyesal di kamar mandi sejarah.























