Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Mantan Komisioner Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN)
Jakarta – Setelah Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang dan melukai 600 orang lainnya di Malang, Jawa Timur, 1 Oktober lalu, kini sepakbola Indonesia kembali dilanda tragedi, meskipun tak berdarah.
Tragedi itu ialah dibatalkannya Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 oleh Federation of International Football Association (FIFA), setelah Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir bertemu Presiden FIFA Gianni Infantino di Doha, Qatar, Rabu (29/3/2023) malam WIB.
Adapun pemicu pembatalan itu ialah isu penolakan publik Indonesia terhadap Timnas Israel. FIFA sebelumya membatalkan “official drawing” atau undian pembagian grup yang sedianya digelar di Bali pada 31 Maret 2023 nanti.
Sedikitnya ada 11 pihak yang menolak Israel masuk ke Indonesia saat Piala Dunia U-20 2023 yang rencananya digelar mulai 20 April hingga 11 Mei mendatang di enam kota di Indonesia dengan dalih Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, dan Indonesia mendukung perjuangan rakyat Palestina yang hingga kini masih ditindas Israel.
Mereka yang menolak adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan sejumlah ormas Islam, tapi bukan Nahdatul Ulama (NU). Dari partai politik ada PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ada dua gubernur yang menolak kehadiran Timnas Israel, yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Bali I Wayan Koster yang keduanya dari PDIP.
Pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 ini merupakan sebuah tragedi, karena mempermalukan wajah Indonesia di mata dunia di satu sisi, dan di sisi lain memupus harapan pesepakbola-pesepakbola muda Indonesia untuk tampil di turnamen berkelas dunia.
Tidak itu saja. Indonesia masih ada kemungkinan menghadapi konsekuensi lain, yakni PSSI dibekukan oleh FIFA sebagaimana pernah terjadi pada 30 Mei 2015. Indonesia juga tidak akan dpercaya lagi menjadi tuan rumah kejuaraan sepakbola internasional yang digelar FIFA, termasuk Piala Dunia atau World Cup.
Naik karena Tragedi, Turun karena Tragedi?
Tragedi Kanjuruhan di Malang 1 Oktober 2022 telah memaksa Mochamad Iriawan alias Iwan Bule turun dari singgasana PSSI-1. Iwan Bule turun karena tragedi. Sedangkan Erick Thohir yang menggantikan Iwan Bule melalui Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, 16 Februari 2023, naik karena tragedi. Akankah Erick turun karena tragedi pula, yakni pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, di mata FIFA, Erick dianggap bukan apa-apa. Lobi yang dilakukan Menteri BUMN itu ke Presiden FIFA Gianni Infantino mental.
Bahkan bukan hanya Erick, Presiden Joko Widodo dan rakyat Indonesia pun mungkin saja dianggap FIFA bukan apa-apa. Sebab, misi Erick menemui Gianni adalah atas instruksi Presiden RI.
FIFA yang menjunjung tinggi asas kesetaraan, “fair play” dan nondiskriminasi ternyata begitu sensitifnya menghadapi penolakan Timnas Israel oleh publik Indonesia. Akhirnya, Indonesia benar-benar dipermalukan oleh FIFA.
Tapi, jangan salahkan FIFA atau pihak lain. Salahkan diri kita sendiri, mengapa elemen-elemen bangsa ini menolak kehadiran Timas Israel.
Kalau soal perjuangan rakyat Palestina, posisi politik Indonesia tidak pernah berubah, tetap mendukung kemerdekaan mereka karena sudah menjadi amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Kalau soal hubungan diplomatik, tanpa hubungan diplomatik pun warga kedua negara bisa saling berkunjung. Bukankah banyak WNI yang mengunjungi Masjidil Aqsa yang harus melewati wilayah Israel? Apalagi sudah banyak atlet Israel yang pernah mengikuti kejuaraan internasional di Indonesia, seperti badminton.
Dalam Sidang Umum Inter-Parliamentary Union (IPU) di Bali tahun 2022, Knesset atau parlemen Israel juga hadir, mengapa DPR membiarkan? Dalihnya, karena Indonesia sekadar tuan rumah. Bukankah untuk Piala Dunia U-20 2023 ini Indonesia juga hanya tuan rumah, sementara penyelenggaranya adalah FIFA?
Kesimpulannya, penolakan terhadap Timnas Israel oleh parpol dan politisi hanya bermotif politik. Tak lebih. Hanya demi suara di Pemilu 2024. Gubernur Bali I Wayan Koster juga terbukti tidak konsisten. Awalnya dia siap menjadi tuan rumah “official drawing”, belakangan ia menolak Timas Israel setelah partainya melakukan hal yang sama.
Kini, setelah Indonesia batal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, siapa yang rugi? Ialah seluruh bangsa ini. Terutama komunitas sepakbola. Lebih khusus lagi para pemain muda yang sudah bermimpi untuk dapat bermain di kompetisi sepakbola kelompok umur tingkat dunia.
Kini, nasib Indonesia seperti Nigeria (1991 dan 1995), Yugoslavia (1993) dan Irak (2003) yang pernah gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 karena situasi politik di dalam negeri. Jangan salahkan FIFA, tapi salahkan diri sendiri!
Erick Thohir bahkan Presiden Jokowi pun ternyata bukan apa-apa di mata FIFA. Akankah Erick Thohir lengser gegara tragedi tak berdarah ini?




















