• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Trump Mulai Ditinggal 7 Negara Sekutunya

Ali Syarief by Ali Syarief
March 16, 2026
in Feature
0
Trump Mulai Ditinggal 7 Negara Sekutunya
Share on FacebookShare on Twitter

Perang selalu membuka tabir realitas politik internasional: siapa benar-benar sekutu, dan siapa sekadar penonton yang selama ini berdiri di belakang panggung. Dalam konflik terbaru yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai merasakan kenyataan pahit itu. Seruan Washington kepada negara-negara sekutunya untuk ikut menjaga Selat Hormuz tidak disambut dengan antusiasme. Justru yang muncul adalah sikap hati-hati, bahkan keengganan.

Trump secara terbuka menyatakan bahwa ia menuntut sekitar tujuh negara untuk mengirim kapal perang guna menjaga jalur strategis Selat Hormuz tetap terbuka. Selat sempit ini adalah salah satu nadi utama perdagangan energi dunia; sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan secara global melewati perairan tersebut. Ketika konflik dengan Iran memanas dan harga minyak melonjak, Washington berharap negara-negara yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah mau berbagi tanggung jawab keamanan.

Namun harapan itu tampaknya terlalu optimistis.

Trump memang tidak menyebutkan secara eksplisit negara mana saja yang ia minta bergabung dalam koalisi maritim tersebut. Meski demikian, sebelumnya ia sempat menyebut beberapa negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris. Logikanya sederhana: negara-negara itulah yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk, sehingga menurut Trump mereka seharusnya ikut menjaga jalur pelayaran itu.

Bagi Trump, Selat Hormuz bukan kebutuhan vital bagi Amerika Serikat. Ia bahkan menyatakan bahwa Amerika memperoleh minyak dalam jumlah sangat kecil dari jalur tersebut, sementara China justru mendapatkan sekitar 90 persen pasokan minyaknya melalui selat itu. Dengan kata lain, Washington merasa tidak semestinya memikul seluruh beban keamanan bagi jalur yang terutama menguntungkan negara lain.

Tetapi respons yang datang dari para sekutu ternyata jauh dari harapan.

Inggris memang mengakui bahwa Perdana Menteri Keir Starmer telah berbicara dengan Trump mengenai pentingnya membuka kembali Selat Hormuz demi menjaga stabilitas pelayaran global. Namun pembicaraan itu tidak disertai komitmen militer yang konkret. Negara-negara lain juga mengambil posisi serupa: menyatakan kepedulian, tetapi tidak berjanji untuk terlibat langsung.

China, misalnya, hanya menegaskan bahwa semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan stabilitas pasokan energi global. Beijing mengatakan akan meningkatkan komunikasi dengan pihak-pihak terkait guna meredakan ketegangan. Pernyataan itu jelas diplomatis, tetapi jauh dari sinyal bahwa China akan ikut dalam operasi keamanan bersama Amerika.

Korea Selatan juga memilih sikap berhati-hati. Kementerian Luar Negeri negara itu hanya menyatakan bahwa mereka “mencatat” seruan Trump dan akan meninjau situasi dengan cermat sambil berkoordinasi dengan Washington.

Sementara itu, Prancis menegaskan bahwa gagasan misi internasional untuk mengawal kapal di Selat Hormuz hanya mungkin dilakukan bila situasi memungkinkan—yakni ketika pertempuran telah mereda. Pernyataan ini secara implisit menunjukkan bahwa Paris tidak ingin terlibat dalam eskalasi konflik yang masih berlangsung.

Sikap paling tegas datang dari Jerman. Menteri Luar Negeri Johann Wadephul secara gamblang mengatakan bahwa negaranya tidak akan menjadi bagian aktif dari konflik tersebut. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Eropa tidak ingin terseret lebih jauh dalam perang yang dipandang sebagai konflik yang dipicu oleh Washington dan Tel Aviv.

Di sisi lain, Iran justru menunjukkan pendekatan yang berbeda. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa sejumlah negara telah menghubungi Teheran untuk meminta jaminan keamanan bagi kapal mereka yang melintasi Selat Hormuz. Bahkan beberapa kapal dari berbagai negara disebut telah diizinkan lewat.

Iran menegaskan bahwa selat itu terbuka bagi semua negara—kecuali Amerika Serikat dan sekutunya.

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Teheran berusaha memainkan diplomasi maritim: memisahkan kepentingan negara-negara lain dari konflik langsung dengan Washington. Dengan cara ini, Iran mencoba meminimalkan dukungan internasional terhadap Amerika.

Di tengah situasi tersebut, tekanan ekonomi global juga meningkat. Harga minyak melonjak tajam, memicu langkah luar biasa dari International Energy Agency untuk melepas lebih dari 400 juta barel cadangan minyak strategis ke pasar global. Langkah kolektif itu disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah.

Namun di balik semua perkembangan itu, satu pesan politik menjadi semakin jelas: koalisi global yang selama ini dianggap otomatis mengikuti langkah Amerika ternyata tidak lagi solid.

Seruan Trump kepada sekutu-sekutunya justru memperlihatkan keretakan yang semakin nyata. Negara-negara yang selama ini berada dalam orbit keamanan Amerika kini lebih memilih bersikap hati-hati, menjaga jarak dari konflik yang berpotensi meluas.

Dalam diplomasi internasional, dukungan bukan sekadar soal kesepakatan formal. Dukungan juga soal kemauan untuk mengambil risiko bersama.

Dan pada titik inilah Trump tampaknya mulai menyadari kenyataan yang tidak menyenangkan: ketika perang membesar dan risiko meningkat, tidak semua sekutu bersedia ikut berlayar dalam kapal yang sama.

Sumber : The Associated Press.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Anwar “Mengaum”, Prabowo “Mengembik”

Next Post

Perang AS-Israel vs Iran: Bentrokan Peradaban Barat vs Islam Syiah atau Sekadar Perebutan Minyak dan Dolar?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG
Economy

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026
Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara
Feature

Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

March 26, 2026
Next Post
Perang AS-Israel vs Iran: Bentrokan Peradaban Barat vs Islam Syiah atau Sekadar Perebutan Minyak dan Dolar?

Perang AS-Israel vs Iran: Bentrokan Peradaban Barat vs Islam Syiah atau Sekadar Perebutan Minyak dan Dolar?

Pola Sambutan Rismon oleh Gibran End Game vs Eggi Sudjana-DHL: Beda Kelas

Pola Sambutan Rismon oleh Gibran End Game vs Eggi Sudjana-DHL: Beda Kelas

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026
Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

March 26, 2026

MUNGKINKAH PENJAJAHAN DIHAPUSKAN DARI MUKA BUMI?

March 26, 2026
Harga BBM Mahal, Rakyat Terjepit: Membandingkan Jepang dan Indonesia dari Sudut Daya Beli

Harga BBM Mahal, Rakyat Terjepit: Membandingkan Jepang dan Indonesia dari Sudut Daya Beli

March 26, 2026
Japan Lepas Cadangan Minyak Negara untuk Stabilkan Pasokan Energi

Japan Lepas Cadangan Minyak Negara untuk Stabilkan Pasokan Energi

March 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...