Anies Baswedan adalah figur yang pernah, bahkan masih, diimpikan oleh banyak individu dan kelompok sebagai pemimpin bangsa ini. Sosoknya dikenal sebagai intelektual, akademisi, dan tokoh publik yang memiliki pengaruh besar dalam dunia pendidikan maupun politik. Namun, ketika menyangkut isu dugaan ijazah palsu yang melibatkan Presiden Joko Widodo, ada kesan bahwa Anies tidak menunjukkan kepedulian atau perhatian yang cukup.
Sebagai seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki hak dan kewenangan untuk menyuarakan kebenaran, Anies sejatinya bisa mengambil peran lebih aktif dalam mengawal isu ini. Ia bisa menjadi motor penggerak untuk mendesak transparansi atau setidaknya memberikan nasihat bahkan peringatan kepada Universitas Gadjah Mada (UGM) terkait keabsahan ijazah tersebut. Hal ini bukan sekadar tanggung jawab individual, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap integritas dunia pendidikan di Indonesia.
Jika seorang intelektual seperti Anies enggan bersuara dalam kasus ini, maka pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apakah ia benar-benar peduli terhadap nasib perguruan tinggi lainnya? Ataukah kepeduliannya terhadap dunia pendidikan hanya sebatas wacana? Sikap diam atau kurangnya respons dari Anies dalam hal ini menjadi poin kritis yang layak dipertanyakan oleh publik yang mengklaim memiliki nalar sehat dan menolak cara berpikir yang dogmatis atau partisan.
Sebagai bentuk uji kepedulian, publik menantikan bagaimana reaksi Anies terhadap kritik ini. Apakah ia akan memberikan dukungan moral terhadap gerakan yang diinisiasi oleh Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) serta elemen masyarakat lain yang telah berupaya membuka dugaan kepalsuan ijazah tersebut melalui jalur hukum? Proses formal sudah berjalan, baik melalui gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat maupun laporan pengaduan ke Mabes Polri.
Keberanian untuk mengkritik sebelum seseorang berdiri kokoh sebagai pemimpin adalah prinsip dasar dalam menegakkan objektivitas. Jika kritik baru muncul setelah kekuasaan terbentuk, maka objektivitas menjadi tumpul. Oleh karena itu, menguji kepedulian Anies dalam isu ini adalah langkah logis yang harus dilakukan. Pada akhirnya, publik berhak menilai, apakah Anies benar-benar peduli terhadap moralitas dan integritas, ataukah ia hanya memilih diam demi kalkulasi politik?
























