• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ulama di Persimpangan Jalan: Antara Pelayan Umat dan Alat Kekuasaan

Ali Syarief by Ali Syarief
August 19, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Seperti Model KH Aqil Siraj Yang Dikritik Carl Marx
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Sejarah bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari peran ulama. Mereka adalah suluh penerang ketika rakyat berada dalam kegelapan penjajahan, mereka pula yang memobilisasi kekuatan moral untuk melawan penindasan. Namun setelah Indonesia merdeka, peran ulama tidak selalu mulia sebagaimana di masa perjuangan. Ulama—secara sadar atau dipaksa keadaan—sering dijadikan “alat” untuk menopang kebijakan negara.

Kita bisa melihat di era Orde Baru, program Keluarga Berencana (KB) tidak hanya dijalankan oleh aparat negara dan tenaga medis, tetapi juga dipropagandakan melalui mimbar-mimbar masjid. Ulama diminta mengutip dalil agar rakyat yakin bahwa membatasi kelahiran adalah bagian dari perintah agama. Hal serupa terjadi pada kampanye anti-narkoba: ulama diminta hadir sebagai legitimasi moral agar kebijakan negara punya bobot religius. Dengan kata lain, ulama tidak sekadar menuntun umat, tapi digiring untuk memperkuat kepentingan negara.

Di sini terlihat jelas betapa Karl Marx, meskipun keras dan sinis, punya alasan ketika menyebut agama seringkali hanya menjadi alat. Ulama yang seharusnya menjadi pembela umat berubah fungsi menjadi corong kebijakan. Mereka yang semestinya berdiri di atas kepentingan duniawi, malah dilibatkan untuk membungkus program politik agar tampak bermoral.

Ironinya, pola itu berlanjut hingga hari ini. Setiap musim kampanye, hampir semua ketua umum partai—bahkan yang berasal dari latar belakang Kristen sekalipun—berbondong-bondong sowan ke pesantren. Mereka sadar, pesantren bukan hanya tempat belajar agama, melainkan juga gudang legitimasi politik. Restu kiai diperlakukan seolah-olah “surat sakti” untuk meraih simpati umat. Maka pesantren pun terjebak menjadi panggung politik, bukan lagi semata pusat pendidikan moral.

Namun yang lebih mengerikan dari semua ini adalah ketika lembaga keagamaan yang seharusnya menjaga akhlak justru ikut terlibat dalam praktik busuk kekuasaan. Kasus dugaan korupsi oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas adalah contoh yang paling telak. Bila benar uang negara yang dipercayakan kepada institusi agama justru dijarah, maka itu bukan sekadar tindakan kriminal. Itu adalah pengkhianatan ganda: mengkhianati agama yang mereka wakili, dan mengkhianati rakyat yang mereka tipu atas nama agama. Tidak ada kata lain untuk itu selain: biadab.

Ulama sejati adalah mereka yang menolak tunduk pada permainan kekuasaan. Mereka mungkin bersinergi dengan negara dalam urusan kemaslahatan, tetapi mereka tidak menyerahkan kehormatan agama sebagai stempel kebijakan. Sebaliknya, ulama palsu rela menjual dirinya untuk panggung politik, bahkan lebih rendah lagi, menjadi perisai bagi kejahatan negara.

Bangsa ini harus berani bersikap: ulama bukan alat. Agama bukan alat. Dan pesantren bukan panggung politik. Selama ulama masih diperlakukan sebagai stempel kekuasaan, dan selama ada oknum lembaga agama yang tega merampok uang negara, maka selama itu pula moral bangsa ini akan terus terjun ke jurang kehinaan.

Rakyat tidak boleh lagi diam. Umat tidak boleh lagi tertipu. Jika ulama dan agama terus dijadikan topeng politik, maka bangsa ini hanya akan melahirkan generasi yang bingung: kehilangan iman sekaligus kehilangan kepercayaan. Karena itu, seruan ini jelas: hentikan persekongkolan busuk antara agama dan kekuasaan. Ulama harus kembali ke fitrahnya—menjadi penuntun umat, bukan alat negara; menjadi penjaga moral, bukan penjaga kepentingan politik. Jika tidak, maka kita sedang menyaksikan runtuhnya sendi-sendi bangsa di depan mata kita sendiri.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kesetaraan Gender di Indonesia, Riwayatmu Kini

Next Post

Efek Domino Royalti Musik — Sopir Bus Tak Mau Putar Lagi

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Efek Domino Royalti Musik — Sopir Bus Tak Mau Putar Lagi

Efek Domino Royalti Musik — Sopir Bus Tak Mau Putar Lagi

Sri Mulyani Pastikan Kenaikan PPN per 1 April 2022 Tidak Akan Ditunda, Ini Daftarnya!

Guru, Bukan Beban, Melainkan Amanat Konstitusi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist