Suara Mega, berkaitan dengan kemelut Gibran Cawapres dan Sinyalemen Jokowi mendukung Prabowo, hanya mengatakan “silent”, diungkap oleh FX Rudy, mantan Walikota Solo itu. Sementara Puan Maharani, ia menyanggah langsung, apa yang dikatakan oleh Adian Napitupulu, “bahwa Jokowi pernah datang minta Jabatan tiga periode”. Kekesalan lain yang vocal disuarakan oleh kader senior PDIP, seperti Panda Nababan, yaitu “tak mengerti, orang yang dibantu berkali-kali menjadi Walikota, Gubernur, 2 kali jadi Presiden, anak dan menantunya jadi walikota, tetapi melupakan jasa-jasa tersebut”. “Apa tak bisa berpolitik berbudi pekerti”, ujarnya.
Kader lain seperti Saleh Basarah, menyebut Gibran “membangkang” terhadap PDIP.
Tak ada sepatah katapun bantahan dari Mega, sementara Puan Maharani menyikapi berbagai kekecewaan sejumlah Kader PDIP yang dilontarkan ke Publik, kontra opini. Hal ini menyebabkan dugaan, kalau kemelut diantara mereka itu sebagai drama politik kolosal yang sedang dimainkan. Jangan-jangan diantara mereka, sedang memaikan politik kotor dalam menghadapi Pemilu dan Pilpres 24 ini. “Toh kalau-pun Prabowo menang, disana ada Gibran sebagai kader PDIP juga.
Permintaan FX Rudy supaya Gibran mengembalikan KTA PDIP dan Jawaban Puan bahwa Gibran belum mengirimkan surat permohonan pengunduruan diri, tetapi pengakuan Gibran telah bertemu dengan Puan soal tersebut, tidak diungkap ke Publik apa isinya.
Membiarkan kemenlut tersebut berlarut-larut, yang menyebabkan dinilai sebagai drama politik itu, sesungguhnya merugikan nama mereka sendiri, baik PDIP untuk Capres Ganjar Pranowo maupun Capres Prabowo Subianto. Tidak ada untungnya bagi kedua belah pihak.
Pidato Mega yang berapi-api, bahwa bila ada kader PDIP yang bermanuver, berdiri di dua kali, ia katakan dengan teriak “keluar”. Tapi itu tidak dilaksanakan oleh Sekjen Hasto, kepada Jokowi dan Gibran. Berbeda kepada kader lain, seperti kepada Gubernur Maluku, diberhentikan karena Istrinya aktif di partai lain dan Budiman Soejatmiko hijrah ke Gerindra.
Mereka berdua dikirimi surat pemecatan sebagai anggota partai. Padahal Hasto pada statement yang terakhir mengatakan “luka-hati”, karena orang yang diperjuangkannya, maksudanya kepada Jokowi, meninggalkannya!.
Pertanyaan nitizen adalah, sesungguhnya ada apa yang terjadi diantara mereka itu. Ketum Megawati seolah-olah menutup diri atas hingar bingarnya suara yang beredar di publik.
Kebiasaan Jokowi berkata mancla-mencle dan stigma pembohong di masyarakat, menyebabkan apa yang keluar dari perkataan Jokowi, tidak diyakini sebagai apa yag sesungguhnya. Ia dinilai oleh berbagai kalangan, bahkan sebagai dalang dibalik tirai pencawapresan Gibran dan suksesi Kaesang menyelweng dari PDIP, lalu menjadi ketua PSI.
Percakapan yang tajam di masyarakat, menyoroti Gibran sebagai Cawapres Prabowo Subianto mendemoniasi semua issue yang muncul di public. “Publik yakin Pemilu 2024 penuh dengan settingan drama seperti halnya putusan MK,” difahami yang yang tersirat dari X. Kesimpulan ini berdasarkan 2.700-an post yang tersebar di X
Selain itu, berbagai analisis memperlihatkan bahwa publik terkejut akhirnya Gibran resmi dijadikan Pasangan Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2024. Hal ini berdasarkan analisa 2.400-an post.
Percakapan negatif soal pencawapresan Gibran umumnya bersumbu pada beberapa topik. Antara lain putusan MK soal batas usia cawapres, kecam politik dinasti Jokowi, sebut Gibran pengkhianat, sebut Gibran ‘mencla-mencle’ dan tidak loyal pada partai, serta kritik langkah Jokowi yang melakukan apa saja untuk melanggengkan kekuasaan.
Sementara itu, percakapan bernada positif sebanyak 39% di X umumnya membahas kemungkinan pencawapresan Gibran karena Jokowi sering diremehkan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, pengumuman pencawapresan Gibran oleh Prabowo, serta dukungan Partai Golkar ke Gibran.























