FusilatNews- Utang pemerintah per 30 November 2022 semakin membekak tercatat sebesar Rp 7.554,25 triliun. Jumlah itu naik Rp 57,55 triliun jika dibandingkan posisi utang bulan sebelumnya yang sebesar Rp 7.496,7 triliun. Hal tersebut mendapat respon dari Direktur Pusat Riset Politik, Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, Ia mengatakan utang yang semakin meroket membuat publik menganggap bahwa Presiden Jokowi telah mengkhianati perjuangan Soekarno yang anti-asing.
“Soekarno sangat jelas menolak adanya dominasi asing di Indonesia, sampai-sampai menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap membanjirnya dolar di Indonesia,” ujar Saiful dikutip RMOL.ID, Minggu (25/12).
Akademisi Universitas Sahid Jakarta ini mengatakan Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan garis perjuangan Soekarno yang anti-asing imperialisme dan kolonialisme. Dimana pada saat ini utang pada era pemerintahan Jokowi semakin tinggi.
“Tidak hanya itu, jumlah utang yang besar juga dapat dikatakan mengkhianati keinginan dan aspirasi rakyat yang menginginkan adanya utang semakin berkurang bahkan dapat segera diselesaikan,” kata Saiful.
Karena kata Saiful, semakin banyaknya utang, maka akan semakin membebani masyarakat yang pada akhirnya harus menanggung bebang utang yang diwariskan oleh pemerintahan Jokowi. Kini angka utang bahkan sudah melebihi 30 persen PDB saat ini.
“Dengan kondisi itulah maka bisa jadi publik tidak segan-segan untuk memberikan gelar kepada Jokowi sebagai ‘Raja Utang’ karena nilainya yang terus tidak terbentung bahkan melebihi 30 persen PDB saat ini,” pungkas Saiful.























