FusilatNews – Di tengah upaya global memberantas tuberkulosis (TBC)—penyakit infeksius yang masih membunuh 1,3 juta orang setiap tahun—nama Bill Gates kembali mencuat. Bukan sebagai pengusaha teknologi, melainkan sebagai filantropis yang mendanai riset vaksin TBC modern. Bersama Bill & Melinda Gates Foundation, ia mendukung pengembangan vaksin M72/AS01E, yang disebut-sebut sebagai harapan baru dalam perang melawan TBC. Indonesia menjadi salah satu negara yang direncanakan menjadi lokasi uji coba atau bahkan penggunaan vaksin ini. Namun, pertanyaannya sederhana: sudah seaman dan seefektif apa vaksin ini?
Di Amerika Serikat, pertanyaan semacam itu adalah hal mendasar. Negara tersebut memiliki sistem regulasi ketat yang dijalankan oleh Food and Drug Administration (FDA)—lembaga yang menjaga agar obat dan vaksin tidak sembarangan masuk pasar. Tidak ada produk medis yang bisa diedarkan tanpa melalui proses ilmiah panjang yang penuh penyaringan.
Sebelum sebuah vaksin boleh diberikan kepada publik, ia harus melewati tiga fase uji klinis. Mulai dari pengujian dasar pada hewan, kemudian berlanjut pada manusia dalam skala kecil (Fase I), sedang (Fase II), dan besar (Fase III). Proses ini tidak main-main: bisa memakan waktu 8 hingga 12 tahun. Bahkan setelah itu, permohonan izin edar harus melewati tinjauan mendalam oleh FDA selama berbulan-bulan. Sistem ini bukan hanya mengandalkan klaim para produsen, melainkan menuntut bukti yang kuat dan transparan, agar publik tidak menjadi korban dari ambisi korporasi atau ketergesaan politis.
Sebaliknya, vaksin TBC M72 yang digadang-gadang oleh Gates Foundation saat ini belum mendapatkan persetujuan FDA. Vaksin ini memang menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam studi Fase IIb, dengan efektivitas sekitar 50% terhadap TBC laten, dan kini sedang masuk uji Fase III. Tapi ini artinya, dari perspektif Amerika sendiri, vaksin tersebut belum layak untuk diedarkan secara umum, apalagi dijadikan program vaksinasi massal.
Namun, di negara-negara berkembang seperti Indonesia, narasi dan logika sering kali dibalik. Karena TBC adalah masalah kesehatan serius di Indonesia—dengan lebih dari 800 ribu kasus per tahun—maka setiap solusi baru langsung dipandang sebagai ‘penyelamat’, bahkan sebelum pengujian selesai. Pemerintah Indonesia menyambut baik rencana uji klinis vaksin M72, dan bahkan membuka kemungkinan adopsi program vaksinasi jika hasilnya meyakinkan. Tapi jika kita menengok pada standar Amerika, keputusan ini seharusnya disertai kehati-hatian luar biasa.
Amerika tidak menggunakan vaksin TBC BCG secara rutin karena mereka lebih mengandalkan sistem deteksi dan pengobatan dini. Bahkan vaksin BCG yang sudah berusia seabad pun tidak sembarangan digunakan di sana. Lalu mengapa Indonesia, yang sistem kesehatannya masih lemah, justru begitu terburu-buru membuka pintu bagi vaksin eksperimental yang bahkan belum disetujui negara asal penelitinya?
Pertanyaan ini bukan bermaksud menolak inovasi atau menuduh motif tersembunyi dari Bill Gates. Sebaliknya, ini adalah panggilan untuk menumbuhkan budaya sains yang kritis dan berdaulat. Kita boleh menghargai bantuan dan kolaborasi global, tapi kita tidak boleh menjadikan rakyat sendiri sebagai kelinci percobaan diam-diam, apalagi ketika lembaga pengawas seperti FDA belum memberi lampu hijau.
Belajar dari Amerika, kita seharusnya mengadopsi proses, bukan hanya produk. Ketelitian, transparansi, dan akuntabilitas harus menjadi bagian dari setiap kebijakan kesehatan publik. Kita harus bertanya lebih keras, menggali lebih dalam, dan menuntut lebih banyak dari setiap pihak yang membawa ‘solusi’ bagi penyakit rakyat. Jika Bill Gates bisa menunggu FDA, mengapa kita harus lebih cepat dari sains?
























