By; Ali Syatief
Politik Indonesia kadang terasa seperti panggung teater yang naskahnya ditulis sambil berjalan. Janji, simbol, dan pencitraan sering lebih megah daripada substansi yang dihasilkan. Publik disuguhi pertunjukan-pertunjukan besar, sementara di belakang layar orang bertanya: sesungguhnya ini untuk rakyat atau sekadar untuk kamera?
Di era Jokowi, publik pernah dibuat terpukau oleh narasi mobil nasional Esemka. Ia dipresentasikan sebagai simbol kebangkitan industri anak bangsa, sebuah mimpi tentang Indonesia yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Narasi itu menggugah emosi: anak-anak SMK, karya bangsa, kemandirian nasional. Semua elemen yang mampu membangkitkan kebanggaan kolektif bercampur menjadi satu.
Namun waktu adalah hakim yang paling jujur. Bertahun-tahun kemudian, masyarakat masih bertanya-tanya: di mana gaung besar yang dulu memenuhi ruang publik? Apakah itu proyek industri yang benar-benar matang, atau sekadar simbol politik yang kebetulan lewat pada momentum yang tepat? Sebab sebuah gagasan besar tidak cukup hidup dari slogan. Ia harus bertahan dalam kenyataan.
Lalu datang era berikutnya. Prabowo disebut meminta dibuatkan mobil berkaca khusus untuk kendaraan kepresidenan. Orang pun bertanya-tanya: untuk apa? Apakah ini simbol keamanan? Simbol kemewahan? Simbol teknologi? Atau sekadar tambahan properti baru dalam panggung kekuasaan?
Rakyat tentu punya hak untuk heran. Di negeri yang sebagian petaninya masih cemas soal pupuk, nelayannya soal solar, dan anak-anak mudanya soal pekerjaan, perdebatan tentang mobil dengan karakteristik yang sangat spesifik terasa seperti percakapan dari dimensi lain.
Di titik ini, keduanya terlihat memiliki kemiripan: sama-sama menghadirkan simbol yang lebih besar daripada kebutuhan riil rakyat. Yang satu menjual mimpi industri nasional, yang lain menghadirkan kemegahan teknologi kekuasaan. Yang satu berbicara tentang kendaraan masa depan bangsa, yang lain berbicara tentang kendaraan masa depan pemimpin bangsa.
Keduanya menghadirkan pertanyaan yang sama: apakah negara sedang dibangun, atau sedang dipentaskan?
Sebab rakyat tidak makan simbol. Rakyat tidak hidup dari narasi. Mereka hidup dari harga sembako yang terjangkau, pendidikan yang baik, pekerjaan yang tersedia, dan keadilan yang terasa nyata.
Jika politik terus bergerak dari satu panggung ke panggung lain, dari satu simbol ke simbol lain, dari satu sensasi ke sensasi berikutnya, maka yang tersisa hanya absurditas: negara besar yang terlalu sibuk menciptakan cerita, tetapi lupa menyelesaikan kenyataan.
Dan mungkin itulah ironi terbesar republik ini: mobilnya terus berganti model, tetapi jalannya tetap berlubang.

By; Ali Syatief




















