Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Pembebasan 9 WNI – dari 430 relawan kemanusian Global Sumud Flotilla dari 40 negara- yang ditangkap tentara Israel dalam pelayaran menuju Gaza, Palestina, akan menjadi pertaruhan bagi Prabowo Subianto untuk membuktikan apakah suara Presiden RI itu didengarkan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu atau tidak. Maklum, selama ini Prabowo cenderung berpihak kepada Israel, dan juga Amerika Serikat (AS), ketimbang kepada Palestina dan Iran.
Indikatornya, pertama, Prabowo menyatakan Israel harus dijamin keamanannya agar perdamaian dengan Palestina bisa terwujud.
Kedua, Prabowo tidak mengecam apalagi mengutuk ketika tentara Israel bersama tentara AS menyerang Iran pada 28 Februari lalu.
Prabowo juga tidak menyampaikan bela sungkawa ketika pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khamenei terbunuh oleh tentara Israel dan AS.
Tidak itu saja. Ketika Iran mengangkat pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahandanya, Prabowo juga tidak menyampaikan ucapan selamat.
Oh ya, masih ada satu lagi. Prabowo membawa Indonesia bergabung dengan Board of Peace yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump yang di dalamnya ada Israel namun tanpa Palestina.
Sederetan fakta tersebut cukuplah menjadi indikator yang sahih bahwa Prabowo cenderung lebih mendukung Israel dan AS daripada Palestina dan Iran.
Lantas, apakah suara Prabowo akan didengarkan oleh Netanyahu ketika kini 9 warganya disandera tentara Israel?
Dalam video yang beredar, ratusan sandera itu ditangkap dari kapal-kapal peserta konvoi di lautan internasional lalu dibawa ke Israel. Tangan mereka terlihat diborgol sambil dipaksa berlutut. Diduga mereka yang membawa obat-obatan untuk misi kemanusiaan di Gaza itu mengalami kekerasan fisik serius, bahkan dikabarkan ada yang patah tulang.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono beralibi, ketiadaan hubungan diplomatik RI-Israel menjadi hambatan tersendiri dalam upaya pembenasan 9 WNI itu.
Akhirnya, kata Sugiono, Indonesia minta bantuan pihak ketiga seperti Turki dan Jordania serta lembaga hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melobi Israel.
Mengapa Prabowo tidak langsung saja menelepon Netanyahu saja? Person to person bukankah bisa, meskipun kedua negara tidak punya hubungan diplomatik?
Kalau tidak bisa, mengapa Prabowo tidak minta bantuan Donald Trump saja untuk melobi Netanyahu membebaskan 9 WNI itu? Suara Donald Trump pasti lebih didengar Netanyahu daripada Turki, Jordania atau bahkan PBB.
Sebab itu, kasus 9 WNI yang disandera Israel bersama 421 warga 39 negara lainnya kini menjadi pertaruhan bagi Prabowo untuk membuktikan suaranya didengar Netanyahu, dan juga Donald Trump atau tidak, setelah selama ini cenderung berpihak ke dua negara itu.
Jika tidak, percuma saja langkah Prabowo membawa Indonesia masuk Board of Peace, dan cenderung mendukung Israel dan AS daripada Palestina dan Iran.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)





















