• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home News

28 Tahun Reformasi: Bayang-bayang Militerisme di Tengah Ancaman Krisis Ekonomi

fusilatnews by fusilatnews
May 21, 2026
in News, Politik
0
28 Tahun Reformasi: Bayang-bayang Militerisme di Tengah Ancaman Krisis Ekonomi
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta – Fusilatnews.-usman us – 28 tahun pasca-gerakan Reformasi 1998, Indonesia justru menunjukkan gejala kemunduran demokrasi yang semakin serius. “Reformasi yang seharusnya menjadi jalan transisi menuju negara demokratis yang menjunjung supremasi sipil dan hukum, pembatasan kekuasaan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, kini bergerak ke arah sebaliknya; menguatnya militerisme (remiliterisasi), menyempitnya ruang sipil (shringking civic space), serta meruaknya praktik-praktik kekuasaan yang represif dan antikritik,” kata Direktur Amnesty Internasional Indonesia (AII) Usman Hamid yang merupakan bagian dari Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan dalam rilisnya, Kamis (21/5/2026).

Situasi demokrasi Indonesia hari ini, katanya, memperlihatkan kecenderungan semakin kuatnya tabiat otoritarianisme negara. “Pemerintah secara terstruktur membangun rasa takut di tengah masyarakat melalui penciptaan ‘musuh imajiner’ untuk melegitimasi pembungkaman terhadap kelompok kritis masyarakat sipil. Salah satu pola yang digunakan adalah retorika pelabelan ‘antek asing’ terhadap aktivis, akademisi, jurnalis, pembela HAM, dan warga negara yang kerap melayangkan kritik terhadap kebijakan pemerintah,” jelasnya.

Narasi tersebut, kata Usman, bukan hanya merupakan bentuk penyesatan publik, melainkan juga bagian dari strategi untuk mendelegitimasi kritik dan mempersempit ruang demokrasi.

“Berbagai peristiwa belakangan ini menunjukkan sikap bengis negara terhadap kritik dan perbedaan pendapat. Teror terhadap aktivis HAM Andrie Yunus, pembubaran pemutaran film Pesta Babi, intimidasi terhadap pengamat dan kelompok kritis, hingga pengawasan terhadap ruang-ruang diskusi publik menjadi bukti bahwa pola-pola represif ala Orde Baru kembali dihidupkan,” sesalnya.

Praktik intimidasi, pembungkaman, dan penggunaan aparat untuk menekan masyarakat sipil, lanjut Usman, mengingatkan publik akan masa di mana suara kritis dipandang sebagai ancaman yang harus dihentikan bagaimana pun caranya.

“Kami menilai, remiliterisme yang terjadi hari ini dilakukan melalui berbagai kebijakan dan regulasi yang membuka jalan semakin luasnya keterlibatan militer dalam urusan sipil. Di antaranya revisi UU TNI, Rancangan Peraturan Presiden tentang Pelibatan TNI dalam Penanganan Terorisme, hingga Rancangan Peraturan Presiden tentang Tugas TNI. Semua aturan itu akan menjadi instrumen politik yang menghidupkan kembali praktik dwifungsi militer. Negara secara sadar sedang menarik militer keluar dari fungsi pertahanan dan mendorongnya masuk lebih dalam ke ruang sosial, politik, dan kehidupan sipil warga negara,” paparnya.

Sejalan dengan itu, kata Usman, remiliterisasi ini juga tampak dari semakin masifnya pembangunan struktur komando teritorial TNI, khususnya Angkatan Darat.

“Struktur Komando Teritorial tersebut merupakan warisan utama dwifungsi ABRI pada masa Orde Baru yang seharusnya direformasi pasca- Reformasi 1998. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pemerintah justru memperluas struktur komando teritorial hingga menyerupai struktur pemerintahan sipil. Dari sebelumnya terdapat 15 Komando Daerah Militer (Kodam), pemerintah berencana memperluas menjadi 37 Kodam untuk seluruh provinsi di Indonesia dengan membentuk 22 Kodam baru melalui Keppres No 20 Tahun 2025. Selain itu, pemerintah juga membentuk sekitar 155 Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP) baru dan menargetkan terbentuknya hingga 500 BTP pada 2029,” terangnya.

Dalam situasi tersebut, masih kata Usman, kelompok masyarakat sipil, aktivis, akademisi, jurnalis, hingga organisasi-organisasi kritis yang seharusnya menjadi bagian penting dari mekanisme kontrol demokrasi justru dibungkam secara sistematis.

“Pembungkaman dilakukan bukan hanya melalui intimidasi langsung, tetapi juga melalui penciptaan rasa takut yang sengaja diproduksi untuk melemahkan keberanian publik dalam menyampaikan kritik. Narasi stigmatisasi seperti ‘antek asing’ kemudian dijadikan dasar legitimasi untuk mendorong lahirnya berbagai regulasi represif, termasuk wacana RUU Disinformasi dan Propaganda Asing yang berpotensi menjadi instrumen baru pembatasan kebebasan berekspresi,” cetusnya.

Usman menilai kondisi Indonesia hari ini tidak lagi sekadar menunjukkan gejala kemunduran demokrasi menuju otokrasi, tetapi telah bergerak ke arah totalitarianisme yang berupaya mengontrol seluruh sendi kehidupan sipil.

“Salah satu instrumen utama yang digunakan untuk memperkuat kecenderungan tersebut adalah hukum. Dalam praktiknya, instrumen hukum telah dimanipulasi demi memuluskan kepentingan rezim, bukan untuk menjamin keadilan dan melindungi warga negara,” tukasnya.

Di sisi lain, kata Usman lagi, menguatnya militerisme juga membawa ancaman serius terhadap kondisi ekonomi nasional.

“Tidak ada negara dengan dominasi militer yang kuat dapat tumbuh sehat secara ekonomi. Investor tidak akan memiliki kepercayaan terhadap negara yang ruang demokrasinya menyempit dan penegakan hukumnya sewenang-wenang. Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar hari ini, ketidakstabilan ekonomi, serta menurunnya kepercayaan pasar tidak dapat dilepaskan dari arah politik Indonesia yang semakin represif dan otoriter,” urainya.

Arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo-Gibran, lanjut Usman, juga menunjukkan kecenderungan menuju model state capitalism berbasis militerisme. “Pola ekonomi komando yang dibangun pemerintah berpotensi menimbulkan risiko serius bagi masa depan ekonomi Indonesia. Di saat pemerintah membangun retorika nasionalisme dan menuduh kelompok kritis sebagai ‘antek asing’, kebijakan ekonomi yang dijalankan justru memperlihatkan ketertundukkan pada kepentingan asing, seperti perjanjian timbal-balik perdagangan (agreement on reciprocal trade – ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani oleh Prabowo beberapa waktu lalu,” tuturnya.

“Situasi ini menunjukkan kontradiksi mendasar dalam arah politik dan ekonomi pemerintah saat ini,” tambahnya.

Karena itu, tegas Usman, Reformasi di sektor pertahanan dan keamanan ini harus kembali ditempatkan sebagai agenda mendesak yang tidak bisa ditawar lagi.

“TNI harus dikembalikan pada fungsi utamanya sebagai alat pertahanan negara dan tidak dijerembabkan ke ranah sipil yang sejatinya dapat melemahkan pertahanan nasional Indonesia dan merugikan nama baik TNI itu sendiri. Demokrasi yang sehat hanya dapat berdiri apabila militer tunduk pada kontrol sipil yang demokratis, supremasi hukum ditegakkan, serta seluruh cabang kekuasaan negara berjalan secara independen untuk saling mengawasi,” ucapnya.

Menurut Usman, sebagaimana pernah ditegaskan oleh Mohammad Hatta, sebuah republik demokratis hanya dapat berdiri tegak apabila ditopang oleh prinsip “rule of law” yang kuat. “Oleh karena itu, momentum 28 tahun Reformasi harus menjadi pengingat bersama bahwa cita-cita Reformasi masih jauh dari kata tercapai. Indonesia membutuhkan pemulihan demokrasi konstitusional, perbaikan pemenuhan hak asasi manusia, pembatasan dan pengawasan terhadap kekuasaan negara, serta penghentian seluruh praktik militerisme yang mengancam masa depan demokrasi dan kesejahteraan rakyat,” tandasnya.

Selain AII,
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan terdiri atas Imparsial, Centra Initiative, YLBHI, KontraS, WALHI, AJI Indonesia, Raksha Initiative, DeJure, Indonesia Risk Center (IRC), HRWG, ICJR, ELSAM, LBH Jakarta, LBH Pers, LBH Masyarakat, AJI Jakarta, PBHI, dan Setara Institute.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kabinet 100 Menteri Sudah Tak Diterima Pasar

fusilatnews

fusilatnews

Related Posts

Ada “Dewan Kolonel” di PDIP
News

Kabinet 100 Menteri Sudah Tak Diterima Pasar

May 19, 2026
Aksi Jual SUN Dorong Nilai Tukar Rupiah Jatuh ke Level Terendah dalam 4 Tahun
News

Rupiah Tembus Rp17.600: Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Respons Presiden Picu Kontroversi

May 19, 2026
Feature

Rebuilding the Lost Concept of Knowledge in Islam

May 19, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
28 Tahun Reformasi: Bayang-bayang Militerisme di Tengah Ancaman Krisis Ekonomi

28 Tahun Reformasi: Bayang-bayang Militerisme di Tengah Ancaman Krisis Ekonomi

May 21, 2026
Ada “Dewan Kolonel” di PDIP

Kabinet 100 Menteri Sudah Tak Diterima Pasar

May 19, 2026
Aksi Jual SUN Dorong Nilai Tukar Rupiah Jatuh ke Level Terendah dalam 4 Tahun

Rupiah Tembus Rp17.600: Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Respons Presiden Picu Kontroversi

May 19, 2026
Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

May 19, 2026
Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik

Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik

May 19, 2026
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi

The Economist vs Menteri Purbaya: Ketika Sorotan Dunia Bertemu Pembelaan Kekuasaan

May 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

28 Tahun Reformasi: Bayang-bayang Militerisme di Tengah Ancaman Krisis Ekonomi

28 Tahun Reformasi: Bayang-bayang Militerisme di Tengah Ancaman Krisis Ekonomi

May 21, 2026
Ada “Dewan Kolonel” di PDIP

Kabinet 100 Menteri Sudah Tak Diterima Pasar

May 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist