Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Kalau saja kita mau sejenak membaca tanda-tanda zaman, betapa situasi sosial-ekonomi saat ini mirip dengan saat krisis ekonomi 1997-1998 yang berpuncak pada lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998, atau hari ini tepat 28 tahun lalu.
Pertanyaannya, apakah kini Presiden Prabowo Subianto akan aman, tidak senasib dengan mendiang mantan mertuanya itu?
Saat Indonesia dilanda krisis ekonomi 1997-1998, saat itu Siti Hardijanti Indra Rukmana alias Mbak Tutut, putri sulung Soeharto yang menjabat Menteri Sosial, memprakarsai gerakan cinta rupiah. Masyarakat Indonesia diminta melepas dolarnya untuk ditukar dengan rupiah. Tujuannya, memperkuat nilai tukar rupiah yang saat itu terjun bebas dari 2.500 menjadi 16.500 per dolar AS.
Tidak itu saja. Mbak Tutut juga mengimbau masyarakat yang punya emas untuk menyumbangkannya kepada negara. Negara sekaya ini terpaksa harus “ngemis” kepada rakyatnya.
Kali ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun mengimbau masyarakat untuk melepas dolarnya dan ditukar dengan rupiah. Tujuannya sama: agar nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat.
Bedanya, jika Mbak Tutut dulu berlindung di balik tameng nasionalisme atau cinta rupiah, Purbaya kini berdalih demi cuan.
Ia yakin, setelah pemerintah menerbitkan global bond atau surat utang berdenominasi dolar AS US$ 2 miliar hingga US$ 3 miliar, rupiah akan kembali menguat, sehingga para pelepas dolar akan mengambil keuntungan. Indikatornya, ada aliran dana masuk ke pasar obligasi Rp1,3 triliun.
Akan tetapi, setelah pemerintah mengintervensi pasar dengan menggelontorkan dolar AS, rupiah tetap tak tertolong. Selasa (19/5/2026) lalu rupiah kembali merosot ke angka 17.706 per dolar AS.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun tak mampu bangkit.
Bahkan menjelang Prabowo menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2027 di DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026), rupiah tercatat turun hingga menyentuh level Rp17.738 per dolar AS pada awal perdagangan Rabu pagi.
Saat Prabowo berpidato, IHSG juga terus merosot. Sementara usai Prabowo pidato, rupiah bergerak stagnan.
Dikutip dari sebuah sumber, pergerakan rupiah relatif stagnan di posisi Rp17.698/US$ pada pukul 12:05 WIB setelah pidato Prabowo disampaikan di parlemen.
Stagnasi rupiah usai pidato Prabowo bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, pasar tidak menunjukkan kepanikan lanjutan meskipun tekanan global masih tinggi.
Kedua, tidak muncul pula optimisme baru yang cukup kuat untuk mendorong apresiasi rupiah atau pun mendorong masuknya arus modal asing secara agresif.
Kendati demikian, Purbaya keukeuh dengan optimismenya: pelemahan rupiah hanya bersifat sementara karena fondasi ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat, berbeda dengan saat krisis ekonomi 1997-1998.
Apalagi, katanya, belanja negara sangat masif, terutama untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP).
Belanja MGB dan KMP memang masif. Tapi perputaran uangnya tidak menyentuh rakyat bawah. Hanya sebatas pada elite yang punya akses ke penguasa. Apalagi KMP belanja barangnya bukan ke petani atau produsen kecil, melainkan ke supplier yang memasok barang ke toko-toko ritel seperti Alfamart dan Indomaret. Yang menangguk keuntungan sama saja: konglomerat.
Kini, kita lihat saja fenomena setelah Prabowo berpidato di DPR menyampaikan KEM PPKF 2027.
Selebihnya, kita perlu mencermati lagi tanda-tanda zaman. Apakah Purbaya akan berhasil dan Prabowo akan aman?
Yang jelas, saat itu gerakan cinta rupiah yang diprakarsai Mbak Tutut tidak berhasil. Sebab yang pegang dolar itu para pejabat dan pengusaha. Nasionalisme masih kalah dengan cuan.
Intip saja dompet para pejabat. Di sana berjejer George Washington berambut gimbal.
Ya, nasionalisme zaman now berbeda dengan nasionalisme zaman old. Dulu para pejuang murni berjuang. Sekarang gaji terlambat sebentar saja bisa jadi masalah. Itulah!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)




















