Selama kurun waktu hampir sepuluh tahun ini, ruang nasional terus riuh cenderung ricuh berujung gaduh antar sesama anak bangsa akibat perbedaan pandang politik dalam demokrasi. Karena terus saling membenturkan perbedaan, sehingga lingkungan sosial menjadi tidak kondusif dan tidak dapat maksimal dalam berproduktivitas baik pemerintah maupun rakyat.
Oleh karena itu pentingnya kepemimpinan nasional ke depan dikendalikan oleh anak bangsa yang punya karakter disiplin, taat aturan/hukum sosial, hukum agama maupun hukum moral. Kriteria ini menjadi kebutuhan utama dalam interaksi bermasyarakat berbangsa agar memunculkan situasi yang lebih tenang. Dengan lingkungan yang tenang, baik pemerintah maupun rakyat akan lebih mudah menjalankan seluruh aktivitas secara fokus serta tidak keluar dari aturan yang ada (mencegah terjadinya situasi buruk yang merugikan dan membahayakan keselamatan jiwa).
Pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), model kepemimpinan berorientasi pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan stabilitas negara. Walau ada pro dan kontra, namun dapat dikendalikan dengan baik karena tidak ingin membenturkan rakyat dengan rakyat. Demikianlah sejatinya kepemimpinan negarawan, mengedepankan kondusifitas dan stabilitas karena dalam koteks kehidupan berbangsa bernegara tujuan utama bukan semata keuntungan profit tetapi lebih utama adalah stabilitas negara berjalan baik bukti bahwa hadirnya seorang pemimpin.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kira – kira demikianlah istilah yang tepat bagi kehadiran Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), like father like son. AHY hadir memberi warna baru yang lebih cerah bagi kepemimpinan nasional, dengan latar belakang militer juga seorang akademisi serta politisi merupakan modal dasar yang komprehensif dan integral yang dibutuhkan bagi keberlangsungan hidup bangsa Indonesia, khususnya dalam menghadapi pesta demokrasi di tahun 2024. Karakter yang terbentuk sama, karena merupakan keturunan biologis juga ideologis maka akan merebut kembali kejayaan Partai Demokrat dengan konsep kepemimpinan yang berfokus pada pembangunan SDM dan stabilitas negara, plus membuka ruang komunikasi lebih terbuka agar dapat mendekatkan hubungan antara pemimpin dan rakyatnya mengingat rakyat sebagai pemilik kedaulatan maka kepercayaan harus dipegang dengan baik oleh seorang pemimpin maka seyogyanya harus semakin saling dekat.
Konsep kepemimpinan tersebut menekankan pada kebijakan yang adil serta merata dirasakan bagi seluruh rakyat Indonesia apapun warna dan pandangan politiknya seperti di era kepemimpinan SBY lalu. Menjadi pemahaman bersama bahwa jika seorang pemimpin terpilih, maka ia bukan hanya pemimpin bagi kelompoknya tapi pemimpin bagi seluruh anak bangsa sebagai warga negara Indonesia (WNI) dimanapun berada.
Demikianlah sejatinya konsep kepemimpinan yang dibutuhkan bagi kepemimpinan nasional demi keberlanjutan hidup bangsa Indonesia seterusnya ke depan. Dengan memahami tahapan demi tahapan, maka langkah yang diambil selalu memenuhi unsur kehati – kehatian tinggi yang tidak memunculkan masalah baru dan menjadi prinsip dalam setiap pengambilan keputusan untuk dibuatkan sebuah kebijakan. Sudah saatnya bangsa Indonesia menjalani kehidupan berbangsa dengan lebih damai, karena situasi damai memberi ketenangan hati. Di samping itu, pentingnya untuk menetapkan batas atas ekonomi yang dicapai dan bertahan di batas tersebut agar tidak mengalami kejenuhan pada suatu titik sehingga drop dan kembali merosot ke titik nol dan sangat sulit untuk bangkit kembali.
Semoga di pemilu 2024 terpilih seorang pemimpin yang berfokus pada pembangunan SDM dan stabilitas negara untuk menjamin kehidupan rakyat Indonesia menjadi tenang dan damai oleh kepemimpinan perubahan dan perbaikan.






















