• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Politik

Jokowi Turun Gunung untuk PSI: Bukan untuk Bangsa, Tapi Karir Politik Anaknya

Ali Syarief by Ali Syarief
July 1, 2026
in Politik, Tokoh/Figur
0
Jokowi Turun Gunung untuk PSI: Bukan untuk Bangsa, Tapi Karir Politik Anaknya
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Ada perbedaan tipis antara seorang negarawan dan seorang politikus. Negarawan meninggalkan kekuasaan dengan warisan institusi yang kuat. Politikus, sebaliknya, meninggalkan jabatan tetapi tetap ingin mengendalikan kekuasaan.

Joko Widodo tampaknya memilih jalan yang kedua.

Di saat sebagian mantan presiden memilih menjaga jarak dari politik praktis, Jokowi justru mengumumkan akan berkeliling Indonesia untuk membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Bukan sekadar menghadiri acara partai, tetapi turun hingga ke daerah-daerah, bahkan ke tingkat kecamatan. Pernyataan itu disampaikan sendiri oleh Jokowi. Tidak lagi terselubung. Tidak lagi sekadar dibungkus dengan istilah “silaturahmi” atau “kunjungan kebangsaan.”

Ia turun gunung untuk PSI.

Pertanyaannya sederhana. Mengapa?

Jawaban yang paling mudah tentu karena Jokowi kini mendukung PSI. Namun jawaban yang lebih dalam justru mengarah pada satu kenyataan politik yang sulit dibantah: PSI hari ini bukan sekadar partai politik. PSI adalah partai yang dipimpin oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep. Sementara putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, telah menduduki kursi Wakil Presiden.

Dengan konfigurasi seperti itu, publik sulit memisahkan antara perjuangan membesarkan PSI dengan upaya memperbesar pengaruh politik keluarga Jokowi.

Sulit pula menolak kesan bahwa safari politik itu lebih merupakan investasi bagi masa depan anak-anaknya daripada pengabdian kepada bangsa.

Ironisnya, semua itu dilakukan setelah Jokowi menikmati sepuluh tahun kekuasaan sebagai Presiden Republik Indonesia. Modal politik yang dibangun dengan legitimasi negara kini digunakan untuk mengonsolidasikan partai yang dipimpin anaknya sendiri. Pengaruh yang dahulu lahir dari mandat rakyat perlahan berubah menjadi instrumen politik keluarga.

Tidak ada aturan hukum yang melarangnya.

Tetapi demokrasi tidak hanya berdiri di atas hukum. Demokrasi juga bertumpu pada etika.

Etika itulah yang kini dipertanyakan.

Seorang mantan presiden seharusnya menjadi milik seluruh rakyat Indonesia. Ia menjadi penengah ketika bangsa mengalami polarisasi. Ia menjadi penjaga moral demokrasi ketika elite politik saling berebut kekuasaan.

Sebaliknya, Jokowi justru kembali masuk ke gelanggang politik sebagai pemain utama. Ia tidak lagi berdiri di atas semua golongan. Ia memilih berada di salah satu kubu, mengampanyekan satu partai, dan secara bersamaan memperkuat posisi politik keluarganya.

Inilah yang membuat publik bertanya: apakah Jokowi benar-benar telah pensiun sebagai presiden, atau sekadar berganti peran menjadi “ketua tim sukses” bagi proyek politik keluarganya?

Sejarah menunjukkan bahwa banyak pemimpin besar justru memperoleh penghormatan tertinggi ketika mereka tahu kapan harus berhenti.

Mereka memahami bahwa warisan terbesar bukanlah mempertahankan pengaruh, melainkan memberi kesempatan kepada demokrasi untuk tumbuh tanpa bayang-bayang dirinya.

Sebaliknya, pemimpin yang terus berada di panggung politik setelah lengser sering kali terjebak dalam godaan yang sama: memastikan kekuasaan tetap berputar di sekitar lingkaran keluarganya.

Jika benar Jokowi kini berkeliling Indonesia untuk membesarkan PSI hingga ke pelosok kecamatan, maka publik berhak menilai bahwa orientasi perjuangannya telah bergeser. Bukan lagi tentang Indonesia sebagai sebuah republik, melainkan tentang keberlanjutan pengaruh sebuah keluarga dalam politik nasional.

Bangsa ini membutuhkan mantan presiden yang menjadi guru demokrasi.

Bukan mantan presiden yang tetap sibuk mengurus suksesi politik anak-anaknya.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah berkuasa. Sejarah juga mencatat untuk siapa kekuasaan itu terus diperjuangkan setelah jabatan berakhir. Dan di situlah, seorang pemimpin dibedakan dari seorang negarawan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bahkan Masyarakat Pun Rayakan Hari Bhayangkara

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Ironi Bangsa Besar yang Mudah Tertipu

July 1, 2026
Di Mana Bedanya Pak Harto dan Prabowo?
Feature

Di Mana Bedanya Pak Harto dan Prabowo?

July 1, 2026
Amerika di Usia 250 Tahun: Bangga pada Masa Lalu, Cemas pada Masa Kini, Bimbang Menatap Masa Depan
Feature

Amerika di Usia 250 Tahun: Bangga pada Masa Lalu, Cemas pada Masa Kini, Bimbang Menatap Masa Depan

July 1, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Robohnya Benteng Moral Kami
Feature

Robohnya Benteng Moral Kami

by Karyudi Sutajah Putra
July 1, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Ada apa dengan Sudewo, sehingga bekas Bupati Pati, Jawa Tengah,...

Read more
Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

July 1, 2026
Perseteruan Hotman Paris vs Rasman Nasution Kian Sengit, Ini Kata IPW

Perseteruan Hotman Paris vs Rasman Nasution Kian Sengit, Ini Kata IPW

July 1, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Jokowi Turun Gunung untuk PSI: Bukan untuk Bangsa, Tapi Karir Politik Anaknya

Jokowi Turun Gunung untuk PSI: Bukan untuk Bangsa, Tapi Karir Politik Anaknya

July 1, 2026
Bahkan Masyarakat Pun Rayakan Hari Bhayangkara

Bahkan Masyarakat Pun Rayakan Hari Bhayangkara

July 1, 2026

Mengembalikan Nilai-Nilai Murobbi dalam Jiwa Seorang Guru

July 1, 2026

Ironi Bangsa Besar yang Mudah Tertipu

July 1, 2026
Di Mana Bedanya Pak Harto dan Prabowo?

Di Mana Bedanya Pak Harto dan Prabowo?

July 1, 2026
Kebebasan Beragama Alami Kemunduran di Awal Pemerintahan Prabowo

Hari Bhayangkara Momentum Evaluasi Kinerja Reformasi Polri

July 1, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Jokowi Turun Gunung untuk PSI: Bukan untuk Bangsa, Tapi Karir Politik Anaknya

Jokowi Turun Gunung untuk PSI: Bukan untuk Bangsa, Tapi Karir Politik Anaknya

July 1, 2026
Bahkan Masyarakat Pun Rayakan Hari Bhayangkara

Bahkan Masyarakat Pun Rayakan Hari Bhayangkara

July 1, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...