Oleh M Yamin Nasution-Pemerhati Hukum
”Ingat masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu”
Inilah salah satu pesan Rasullah SAW yang di sampaikan Ibnu Abbas bagi manusia di bumi, yang mungkin tak di pelajari Jokowi di saat masa kecilnya. Sedangkan ide besar yang membentuk politik global pada abad ke dua puluh di sebutkan bahwa: perdamaian lebih baik daripada perang, Domokrasi lebih baikdaipada kediktatoran, dan lagi-lagi sepertinya Jokowi tak pernah memahami konsep tersebut, selain ke aslian Ijazah nya yang masih dipertanyakan oleh sebagian masyarakat, tata cara kepemimpinan Jokowi yang tak sedikitpun menunjukkan nilai-nilai yang agamis, selain dari suka ingkar janji, Jokowi juga diidentikkan oleh masyarakat dengan pemimpin yang arogan, angkuh, dan layaknya seperti Fir’aun, satire moral yang di sampaikan oleh Cak Nun.
Pada tanggal 30 oktober 2023, Jokowi mengundang tiga kandidat Presiden, yaitu; Prabowo, Ganjar, dan Anies Baswedan untuk bersantap siang bersama Sang Presiden di Istana negara. Tentunya, momen tersebut menjadi perhatian masyarakat secara nasional, baik di group WA, social media, dan warung-warung kopi.
Masyarakat membaca gestur tubuh saat bersalaman, lalu mengatakan: Prabowo dan Ganjar seperti menghamba pada kekuasaan Jokowi, sedangkan Anies Baswedan elegan yang bahasa tubuhnya setara dengan Jokowi.
Selama bertahun-tahun Anies Rasyid Baswedan di perlakukan dengan buruk, dengan kesombongan, hiri, dengki, serta pencekalan oleh Jokowi dan jajarannya. Sejak Anies Baswedan memimpin Jakarta yang ia hadapai adalah Luhut Binsar yang pro reklamasi tanpa peduli aturan hukum, sedangkan Anies taat pada aturan hukum yang berlaku.
Anies juga di perlakukan sangat rendah saat berada di Senayan, dimana Paspampres Jokowi menghadangnya di Gelora Senayan, selain itu , Anies kerap kali menjadi bahan bulian oleh para Buzzer yang di duga di pelihara oleh kekuasaan Jokowi dengan uang negara. Namun, semua perlakuan tersebut tak pernah di gubris oleh Anies Baswedan.
Pada dasarnya, kedatangan Anies Baswedan memenuhi undangan makan siang di istana tersebut adalah cibiran keras bagi Jokowi, dengan semua perlakuan dzalim tim Jokowi selama ini, namun di balas dengan senyuman, dan sikap ramah Anies Baswedan, lagi-lagi Anies Baswedan menunjukkan kelasnya yang berbeda dengan Jokowi dan Capres lainnya.
Sedangkan Prabowo terlihat tak berdaya, lelaki yang pernah di harapkan menjadi orang yang akan membawa Indonesia sebagai macan Asia, kini menjadi salah satu kandidat yang di anggap bangkrut dalam pemahaman bernegara, dengan menerima Putra Jokowi sebagai Cawapresnya, yang notabene lahir dari kegelapan system hukum, Prabowo juga terlihat memiliki syndrome akut episodik politik atau yang dikenal sebagai penyekit terlalu nyaman dengan kekuasaan, sehingga ia terlihat melegalkan semua cara demi kekuasaan. Tudingan ini, bukan tak beralasan, Prabowo di sebutkan menikmati korban-korban Pemilu 2019, dan korban-korban presekusi atas Habib Rizieq yang memberikan dukungan besar pada Prabowo.
Kini Jokowi akan memasuki masa-masa akhir kekuasaan yang di genggam, Jokowi terlihat telah kehilangan marwah dirinya sebagai Presiden, dan segera akan mempertanggung jawabkan atas apa yang selama ini dilakukan.


























