• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

fusilat by fusilat
April 15, 2026
in Feature, Pariwisata
0
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?
Share on FacebookShare on Twitter

Makassar — Ruangan itu sempit. Kursi-kursi disusun rapat. Namun justru dari ruang yang sesak itulah sebuah pertanyaan besar tentang wajah pariwisata Indonesia mengemuka: untuk siapa sebenarnya pariwisata ini dibangun?

Selasa pagi, 7 April 2026, di Sekretariat HWDI Sulawesi Selatan, diseminasi buku Pariwisata Inklusif: Landasan, Penerapan, dan Prospeknya di Indonesia tidak berlangsung sebagai seremoni akademik biasa. Diskusi menjelma menjadi ruang gugatan. Para peserta—mayoritas penyandang disabilitas—tidak sekadar mendengar, tetapi menguji.

Yang dipertanyakan bukan hanya isi buku, melainkan realitas itu sendiri.

“Pariwisata bagi kami masih menjadi impian,” ujar Maria, perwakilan HWDI Sulsel, dengan nada tenang namun menghunjam. Ia menggambarkan bagaimana penyandang disabilitas nyaris tak terlihat di ruang-ruang publik Makassar—di Pantai Losari, di anjungan, hingga pusat kota. Bukan karena mereka tidak ada, melainkan karena ruang itu tak pernah benar-benar terbuka bagi mereka.

Data mungkin mencatat ribuan penyandang disabilitas di kota ini. Namun dalam lanskap wisata, keberadaan mereka nyaris tak tampak. Pertanyaannya sederhana: ke mana mereka?

Buku setebal 284 halaman yang dibedah hari itu mencoba menjawab persoalan dari hulu ke hilir—dari konsep hingga implementasi. Ia mengusung pendekatan sistemik, dengan social model of disability dan rights-based approach yang menempatkan aksesibilitas sebagai hak, bukan belas kasihan.

Namun di forum itu, teori berhadapan langsung dengan kenyataan.

Darmayasa, salah satu penulis, mengakui bahwa persoalan utama bukan pada ketiadaan konsep, melainkan pada kegagalan implementasi. Menurutnya, pariwisata terlalu lama terjebak dalam logika ekonomi—jumlah kunjungan, devisa, pertumbuhan—sementara aspek kemanusiaan dan inklusi sosial tertinggal.

“Pariwisata itu untuk semua. Tapi penerapannya yang bermasalah,” ujarnya.

Masalah tersebut berlapis: keterbatasan anggaran, kaburnya kewenangan, hingga minimnya kepemimpinan yang menjadikan inklusivitas sebagai prioritas. Diskusi pun terasa seperti diagnosis yang berulang—penyakitnya telah lama diketahui, tetapi pengobatannya tak pernah serius dilakukan.

Syamsu Rijal, penulis lainnya, membawa diskusi ke akar persoalan: cara pandang. Ia menolak dikotomi antara disabel dan non-disabel.

“Kita semua manusia normal, dengan cara yang berbeda,” katanya.

Pernyataan itu bukan retorika, melainkan kritik terhadap sistem yang sejak awal dirancang secara eksklusif. Ketika trotoar tanpa jalur pemandu, transportasi publik tanpa informasi audio, dan destinasi wisata tanpa akses kursi roda—itu bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan kegagalan cara berpikir.

Secara regulasi, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan perangkat hukum: Undang-Undang Disabilitas, standar bangunan gedung, hingga komitmen global seperti SDGs. Namun, sebagaimana diakui dalam forum, regulasi kerap berhenti sebagai dokumen, tak pernah benar-benar menjelma menjadi praktik.

“Kalau tidak dikawal, dia hanya akan menjadi teks,” ujar Syamsu Rijal.

Di tengah diskursus tersebut, pengalaman konkret justru memberi pukulan paling telak.

St. Dwi Adiyah Pratiwi dari Ombudsman Sulsel mengangkat contoh sederhana: penggunaan kursi roda di bandara yang mensyaratkan penitipan KTP sebagai jaminan. Prosedur yang tampak kecil, namun sarat makna—aksesibilitas yang seharusnya mempermudah justru berubah menjadi hambatan baru.

“Seharusnya semua simpul pariwisata terkoneksi dan aksesibel, bukan hanya di satu titik,” katanya.

Hamzah, aktivis difabel netra, menambahkan persoalan lain: stigma. Banyak penyandang disabilitas enggan berwisata bukan karena tidak mampu, tetapi karena terus-menerus diposisikan sebagai beban.

Dalam kondisi seperti ini, pariwisata menjadi ruang eksklusif—secara diam-diam.

Tyas Harnando mencoba memecah kebuntuan melalui praktik. Lewat program Pariwisata 101, ia mengorganisir kegiatan jelajah inklusi—mengunjungi museum, mencoba transportasi publik, dan menguji aksesibilitas secara langsung bersama komunitas tuli dan netra.

Hasilnya sederhana, namun penting: mereka bisa menikmati wisata, dengan cara mereka sendiri.

“Aksesibilitas itu bukan biaya tambahan. Itu investasi,” ujar Tyas.

Pernyataan ini menantang paradigma pembangunan yang selama ini dominan. Inklusivitas bukan beban anggaran, melainkan strategi ekonomi jangka panjang. Tanpa itu, potensi wisatawan—baik domestik maupun mancanegara—justru hilang.

Bahkan dalam forum tersebut diungkapkan adanya wisatawan asing yang membatalkan kunjungan akibat minimnya aksesibilitas. Kerugian itu nyata—dan ironisnya, sering tak disadari.

Diskusi hari itu tidak menghasilkan resolusi instan. Tidak ada kebijakan yang langsung berubah. Tidak ada fasilitas yang tiba-tiba menjadi ramah.

Namun satu hal menjadi terang: persoalannya bukan pada kurangnya wacana, melainkan absennya keberanian untuk mengeksekusi.

Pariwisata inklusif di Indonesia masih nyaman sebagai konsep—dibahas dalam seminar, ditulis dalam buku, dan dipuji dalam forum. Tetapi di lapangan, ia tersandung hal-hal paling mendasar: trotoar, transportasi, toilet, hingga cara pelayanan.

Selama itu belum berubah, pernyataan Maria akan terus relevan.

Pariwisata, bagi sebagian orang—terutama penyandang disabilitas—masih

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

KPK Sikat Barang Faizal Assegaf, Jejak Kasus Bea Cukai Makin Terbuka

Next Post

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

fusilat

fusilat

Related Posts

Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo
Feature

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026
Feature

Membangun Kembali Kepercayaan Publik (Ketika Strategi Komunikasi Berhadapan dengan Due Process of Law)

July 21, 2026
Anies Janjikan Bikin Hotline Paris. Kata Hotman Mau Bersaing Dengan Hotman 911?
Feature

Sandyakalaning Hotman Paris

July 21, 2026
Next Post
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia - Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

July 21, 2026
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026

Membangun Kembali Kepercayaan Publik (Ketika Strategi Komunikasi Berhadapan dengan Due Process of Law)

July 21, 2026
Bentrok Berdarah di NTT: Hentikan Ekspansi Militer dalam Program Ekonomi Desa!

Bentrok Berdarah di NTT: Hentikan Ekspansi Militer dalam Program Ekonomi Desa!

July 21, 2026
Kasus Febrie dan Hotman: Integritas Penegakan Hukum, Martabat Wartawan, dan Kualitas Komunikasi Publik

Polda Metro Mulai Selidiki Laporan PWI terhadap Hotman Paris, Ketua Umum PWI: Ini Soal Martabat Profesi Wartawan

July 21, 2026
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

Febrie Adriansyah Tak Ditahan, IPW Geram

July 21, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

July 21, 2026
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist