• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Ali Syarief by Ali Syarief
April 15, 2026
in Feature, Politik
0
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Istimewa Tempo

Share on FacebookShare on Twitter

Ada ironi yang terus berulang dalam praktik demokrasi Indonesia: rakyat memilih presiden secara langsung, satu orang—satu suara—dengan legitimasi yang sangat kuat. Namun, ketika presiden terpilih itu mulai bekerja, ia justru terjebak dalam labirin politik partai di parlemen. Sebuah paradoks yang tak sekadar teknis, melainkan struktural.

Dalam sistem presidensial murni, seperti yang sering dijadikan rujukan di Amerika Serikat, presiden memang dipilih langsung dan memiliki legitimasi politik yang relatif independen dari parlemen. Namun di Indonesia, meskipun mengadopsi sistem presidensial, praktiknya mengalami “distorsi parlementer”—di mana kekuasaan legislatif berbasis partai menjadi sangat dominan dalam menentukan stabilitas pemerintahan.

Rakyat memilih presiden sebagai individu. Nama, wajah, rekam jejak, bahkan retorika personal menjadi faktor utama. Namun di sisi lain, rakyat juga memilih anggota DPR melalui partai politik. Ketika hasil pemilu selesai, terbentuklah dua jenis legitimasi: legitimasi personal presiden, dan legitimasi kolektif partai di parlemen. Di sinilah konflik itu bermula.

Presiden terpilih sering kali memperoleh suara yang jauh lebih besar dibandingkan total suara individual anggota DPR dan DPD. Ia adalah representasi langsung dari kehendak mayoritas rakyat. Namun anehnya, kekuatan politiknya tetap harus “ditawar” di DPR. Ia tidak cukup hanya bermodal mandat rakyat; ia harus membangun koalisi dengan partai-partai yang bahkan sebelumnya menjadi rival keras dalam kontestasi pemilu.

Partai-partai yang saat pemilu legislatif saling menjegal, menjatuhkan, bahkan membuka aib satu sama lain, tiba-tiba berubah menjadi mitra koalisi dalam Pilpres. Lebih ironis lagi, setelah Pilpres usai, koalisi itu kembali cair—bahkan bisa berbalik arah tergantung pada distribusi kekuasaan: kursi menteri, proyek strategis, hingga akses ekonomi-politik.

Inilah yang menimbulkan pertanyaan mendasar: sistem model apa yang sebenarnya dianut Indonesia?

Secara konstitusional, Indonesia adalah negara dengan sistem presidensial. Namun dalam praktiknya, sistem ini bercampur dengan logika parlementer multipartai yang sangat cair. Para ilmuwan politik sering menyebutnya sebagai “presidentialism with multiparty coalition”—sebuah sistem hibrida yang rentan terhadap instabilitas dan transaksi politik.

Presiden tidak bisa memerintah secara efektif tanpa dukungan mayoritas DPR. Padahal, DPR tidak dipilih untuk mendukung presiden, melainkan untuk mewakili partai. Akibatnya, presiden harus “membeli stabilitas” melalui koalisi. Dan dalam politik, tidak ada makan siang gratis.

Koalisi bukan lagi soal kesamaan ideologi atau visi kebangsaan, melainkan soal pembagian kekuasaan. Politik berubah menjadi arena tawar-menawar yang jauh dari semangat representasi rakyat. Dalam kondisi seperti ini, loyalitas partai tidak lagi kepada pemilih, tetapi kepada kepentingan elite partai itu sendiri.

Pernyataan Mahfud MD terasa relevan sekaligus menggetarkan: “Bahkan malaikat pun bila masuk dalam sistem ini, akan menjadi iblis.” Sebuah hiperbola yang menggambarkan betapa sistem yang tidak sehat mampu mengubah niat baik menjadi praktik buruk.

Masalahnya bukan semata pada individu—bukan pada siapa presidennya, siapa ketua partainya. Masalahnya ada pada desain sistem yang membuka ruang besar bagi kompromi yang melampaui batas etika. Sistem yang memaksa idealisme untuk bertekuk lutut di hadapan realitas politik.

Di satu sisi, kita mengagungkan kedaulatan rakyat. Di sisi lain, kita membiarkan kedaulatan itu direduksi menjadi angka-angka yang dinegosiasikan di ruang-ruang tertutup.

Parlemen yang seharusnya menjadi pengawas kekuasaan, justru sering menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri. Oposisi melemah, bukan karena tidak ada perbedaan pandangan, tetapi karena semua pihak terserap dalam orbit kekuasaan.

Maka lahirlah fenomena “koalisi gemuk”—di mana hampir semua partai berada dalam pemerintahan. Demokrasi kehilangan daya kritisnya. Checks and balances berubah menjadi checks and shares.

Pertanyaan akhirnya bukan lagi “siapa yang berkuasa?”, tetapi “siapa yang tidak kebagian kekuasaan?”

Jika sistem ini terus dipertahankan tanpa pembenahan, maka paradoks ini akan semakin dalam: rakyat merasa memilih pemimpin, tetapi yang menentukan arah kekuasaan tetaplah partai. Presiden memiliki mandat besar, tetapi ruang geraknya sempit.

Indonesia berdiri di antara dua kutub: presidensialisme dalam teks, parlementarianisme dalam praktik. Sebuah sistem hibrida yang belum menemukan keseimbangan.

Dan selama paradoks ini tidak diselesaikan, demokrasi akan terus berjalan—tetapi pincang.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?
Feature

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026
Bisnis

Membangun Mitra dengan Offtaker Industri, Membangun Kualitas Unggul untuk Business Sustainability (Standarisasi Usia Panen, Distilasi, dan Logistik Kualitas Daun)

April 15, 2026
Bau Amis dari Dapur MBG
Birokrasi

Bau Amis dari Dapur MBG

April 15, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026
KPK Sikat Barang Faizal Assegaf, Jejak Kasus Bea Cukai Makin Terbuka

KPK Sikat Barang Faizal Assegaf, Jejak Kasus Bea Cukai Makin Terbuka

April 15, 2026
Catatan Pinggir: Haji dan Citra Kementerian yang Tercemar – Quota Bisa Tinggal 50%

Haji 2026 Dimulai Lebih Awal, Jemaah RI Terbang 22 April–1 Juli: Siapkah Semua Pihak?

April 15, 2026

Membangun Mitra dengan Offtaker Industri, Membangun Kualitas Unggul untuk Business Sustainability (Standarisasi Usia Panen, Distilasi, dan Logistik Kualitas Daun)

April 15, 2026
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...