Oleh: Kawan Nazar
Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah saat ini bukan sekadar masalah teritorial, melainkan hasil dari benturan kepentingan strategis dan pribadi dari para aktor utamanya.
- Benjamin Netanyahu.
Bagi Netanyahu, kelanjutan perang adalah kunci keberlangsungan karier dan kebebasannya.
- Netralisasi Iran: Ia melihat momen ini sebagai kesempatan emas untuk melumpuhkan infrastruktur militer dan nuklir Iran dengan dukungan penuh Mamarika. Penghentian perang dianggap berisiko karena memberi ruang bagi Iran untuk memulihkan kekuatan, terutama jika terjadi pelonggaran sanksi ekonomi dan pencairan asetnya di bank-bank internasional. Jika tidak dihancurkan Iran akan terus menjadi ancaman laten bagi Israel.
Benteng Hukum: Di dalam negeri, status perang memberikan Netanyahu “perlindungan” sementara dari kelanjutan persidangan kasus korupsi yang menjeratnya. Berhentinya perang berarti kembalinya fokus publik pada proses hukum yang mengancam posisinya.
- Donald Trump
Posisi Trump mencerminkan tarik-ulur antara kebijakan isolasionisme “America First” dan tekanan politik internal.
- Beban Ekonomi: Melanjutkan perang berisiko menguras anggaran negara dan memicu lonjakan harga komoditas (terutama minyak). Hal ini dapat memperburuk inflasi dan memicu resistensi dari Kongres serta gerakan massa yang mengancam stabilitas pemerintahannya.
Tekanan Isu Personal: Di sisi lain, mengakhiri perang tanpa “kemenangan” yang jelas dapat melemahkan daya tawarnya di hadapan lawan politik. Muncul kekhawatiran bahwa tanpa pengalihan isu melalui kebijakan luar negeri yang agresif, fokus publik akan beralih pada isu-isu sensitif seperti skandal Epstein yang melibatkan dirinya dan istrinya Melanie.
- Iran
Iran berada dalam posisi yang Ambivalen, namun cenderung “nothing to lose” (dalam batas tertentu). Namun berisiko tinggi (high stakes).
- Momentum Geopolitik: Jika perang berlanjut, Iran akan berupaya memperkuat pengaruhnya sebagai kekuatan utama di kawasan yang mampu menandingi Mamarika dan Isriwil. Keberhasilan dalam konfrontasi ini dapat meningkatkan posisi tawar Iran di mata negara-negara Arab dan muslim serta dunia sebagai kekuatan adidaya baru. Iran dengan kemampuan rudal-rudal canggihnya dan drone-dronenya akan memanfaatkan perang untuk mewujudkan tekadnya melumpuhkan Isriwil dan membebaskan Palestina dari penguasaan Isriwil.
Insentif Perdamaian: Namun, opsi damai juga menawarkan keuntungan besar. Kesepakatan dengan Mamarika yang berujung pada pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan asetnya di bank-bank internasional akan menjadi suntikan oksigen yang luar biasa bagi stabilitas ekonomi domestik mereka.
Kepentingan Geopolitik, Tekanan Domestik dan Kalkulasi Kekuasaan
Pada akhirnya, perang ini bukan semata soal ideologi atau keamanan, melainkan persilangan antara kepentingan geopolitik, tekanan domestik, dan kalkulasi kekuasaan. Setiap aktor tidak benar-benar bebas memilih: mereka terjebak dalam dilema masing-masing—melanjutkan perang dengan segala biayanya, atau menghentikannya dengan risiko politik yang tak kalah besar.

























