Jogyakarta – Dulu mereka serumah, saling merencanakan, saling memberi keuntungan, saling bersepakat untuk menggarong kekayaan ibu pertiwi bahu-membahu.
Sekarang mereka bertengkar hebat, saling membongkar, saling membuka aib, dan pertarungan antar mereka sedang terjadi.
Para penggembira pun ikut memanaskan suasana dengan membuat berbagai konten vulgar dalam caci maki yang semakin tidak memberikan pendidikan.
Sebagai ketua pembina BPIP, ternyata tidak mampu mempraktikkan dalam politik untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, padahal mereka merasa paling Pancasilais. “Saya Pancasila,” kata mereka dulu.
Perselisihan yang terjadi sesungguhnya karena mereka ingin mencuci kesalahan di mata rakyat. Intinya, merasa paling benar dan paling suci.
Dan perang tanding pun terjadi, melibatkan orang asing untuk saling memfitnah dan menghalalkan segala cara. Inilah pendidikan politik paling buruk bagi generasi Z. Sudah merasa benar sendiri, pertunjukan yang saling menghancurkan. Rakyat tidak bodoh; bisa merasakan kebenaran yang sesungguhnya.
Ilmu Walondo kok dipakai: pecah-belah, dan tidak bermartabat. Tinggalkan mereka yang sedang bertengkar dan saling membongkar aib.
Ini semua efek dari diamandemennya UUD 1945. Kita menjadi bangsa liberal yang tidak lagi memiliki kesantunan nilai-nilai Pancasila yang seharusnya membuat bangsa ini bermartabat. Semakin sirna. Apa hal seperti ini yang akan kita wariskan kepada generasi penerus bangsa?
Semakin hari, kepercayaan dan martabat sebagai bangsa telah pupus sebab kita tidak bisa lagi bersatu karena kita telah berkhianat pada Pancasila, UUD 1945, dan para pendiri negeri ini.
Prihandoyo Kuswanto
Bumijo Kidul
Yogyakarta























