Jakarta-FusilatNews – Harga cabai rawit merah melonjak drastis hingga menembus angka Rp 130.000 per kilogram (kg), setara dengan harga daging sapi premium. Lonjakan harga ini disebabkan oleh gagal panen massal yang terjadi di berbagai daerah, dipicu cuaca ekstrem dan banjir berkepanjangan.
Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid, mengungkapkan bahwa hujan lebat dan serangan hama menjadi faktor utama penyebab kerusakan tanaman. “Curah hujan tinggi membuat banyak tanaman cabai rusak atau gagal panen. Ketika stok menipis, otomatis harga naik signifikan,” jelasnya, Rabu (8/1/2025).
Menurut Hamid, harga cabai rawit merah di tingkat petani kini telah mencapai Rp 95.000/kg, jauh di atas harga normal yang biasanya berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 31.500/kg. Kondisi ini berdampak langsung pada harga di pasar tradisional, dengan beberapa daerah mencatat harga hingga Rp 130.000/kg.
Cuaca Ekstrem Hambat Produksi di Sentra Utama
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menyebutkan bahwa daerah sentra produksi cabai di Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Barat mengalami kerugian besar akibat banjir.
“Tanaman cabai sangat rentan terhadap genangan air dan angin kencang. Di beberapa wilayah, seperti Kabupaten Wajo di Sulawesi Selatan dan Temanggung di Jawa Tengah, potensi kehilangan produksi mencapai 70%. Ini jelas memengaruhi pasokan nasional,” ungkap Ketut.
Ia menambahkan bahwa jika cuaca kembali normal pada Februari mendatang, harga cabai berpotensi stabil. Namun, jika hujan deras dan banjir terus terjadi, stabilisasi harga akan sulit tercapai.
Krisis Harga Cabai dan Beban Konsumen
Kenaikan harga cabai rawit merah yang signifikan ini menjadi pukulan telak bagi konsumen dan pelaku usaha makanan. Banyak pedagang makanan kecil yang kini harus mengurangi penggunaan cabai untuk menekan biaya produksi.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah diharapkan dapat segera mengintervensi melalui program distribusi cabai dari wilayah yang tidak terdampak dan memberikan dukungan kepada petani yang terkena dampak cuaca ekstrem.






















