Oleh: Ali Syarief
Ketika wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, Allah tidak memulai dengan perintah mendirikan negara, mengumpulkan harta, atau mengangkat senjata. Perintah pertama justru sangat sederhana, tetapi mengandung makna yang amat mendalam: “Iqra'”—bacalah.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)
Selama ini kita memahami bahwa ayat tersebut merupakan ajakan untuk membaca. Namun ada satu pertanyaan filosofis yang jarang diajukan: Jika tidak ada yang menulis, lalu apa yang harus dibaca?
Membaca dan menulis sesungguhnya adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Membaca adalah pintu masuk ilmu, sedangkan menulis adalah jalan agar ilmu itu tidak berhenti pada diri seseorang. Ilmu yang hanya dibaca akan menjadi pengetahuan pribadi. Ilmu yang ditulis akan menjadi warisan peradaban.
Tidak mengherankan jika beberapa ayat setelah perintah membaca, Allah langsung mengingatkan manusia tentang pentingnya pena.
“Yang mengajar manusia dengan perantaraan pena.”
(QS. Al-‘Alaq: 4)
Pena bukan sekadar alat tulis. Pena adalah simbol peradaban. Dengan pena, ilmu berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dengan pena, pengalaman tidak ikut mati bersama pemiliknya. Dengan pena, gagasan mampu melintasi ruang dan waktu.
Bahkan Allah mengabadikan kemuliaan pena dengan sumpah yang sangat agung.
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”
(QS. Al-Qalam: 1)
Allah tidak bersumpah atas sesuatu yang tidak penting. Ketika pena dijadikan objek sumpah Ilahi, sesungguhnya Allah sedang menunjukkan bahwa menulis adalah pekerjaan yang memiliki nilai spiritual sekaligus nilai peradaban.
Sejarah membuktikan bahwa semua peradaban besar berdiri di atas tradisi menulis. Kita mengenal pemikiran Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, hingga Ibnu Khaldun bukan karena mereka pandai berbicara, tetapi karena mereka meninggalkan tulisan. Lisan hanya menjangkau orang-orang yang hadir pada masanya. Tulisan menjangkau manusia yang hidup ratusan bahkan ribuan tahun sesudahnya.
Begitu pula Islam. Kita mengenal kisah para nabi, perjalanan Rasulullah SAW, serta petunjuk Al-Qur’an karena semuanya terdokumentasikan melalui tulisan. Bayangkan jika para sahabat hanya mengandalkan hafalan tanpa membukukan wahyu. Mungkin hari ini kita hanya mewarisi cerita yang telah berubah oleh waktu.
Imam Syafi’i pernah berkata:
“Ilmu adalah buruan, sedangkan tulisan adalah ikatannya.”
Betapa indah ungkapan itu. Ilmu ibarat seekor rusa yang berlari cepat. Ia mudah lepas dari ingatan. Menulis adalah tali yang mengikatnya agar tidak hilang. Karena itu, siapa pun yang merasa cukup hanya dengan membaca sesungguhnya sedang membiarkan banyak ilmu menguap bersama waktu.
Ada pula ungkapan yang sangat masyhur dalam khazanah Islam:
“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”
Nasihat ini telah menginspirasi tradisi keilmuan Islam selama berabad-abad. Para ulama menulis bukan untuk mencari popularitas, melainkan karena mereka sadar bahwa ilmu yang tidak ditulis akan terkubur bersama jasad pemiliknya.
Di zaman digital sekarang, paradoks justru terjadi. Kita membaca lebih banyak daripada generasi mana pun sebelumnya. Setiap hari ribuan berita, unggahan media sosial, dan pesan singkat melewati layar telepon genggam kita. Namun, hanya sedikit yang benar-benar menulis sesuatu yang layak diwariskan.
Kita menjadi konsumen informasi, bukan produsen pengetahuan.
Padahal bangsa yang besar tidak hanya memiliki masyarakat yang gemar membaca. Bangsa besar adalah bangsa yang menghasilkan penulis, peneliti, pemikir, dan intelektual yang mendokumentasikan gagasan mereka. Jepang, misalnya, memiliki budaya membaca yang kuat, tetapi budaya menulis mereka jauh lebih mengagumkan. Hampir setiap pengalaman dianggap layak menjadi catatan. Hampir setiap penelitian diterbitkan. Hampir setiap inovasi didokumentasikan. Itulah sebabnya ilmu mereka terus bertambah dan menjadi fondasi kemajuan bangsa.
Menulis juga merupakan bentuk sedekah intelektual. Harta akan habis dibelanjakan. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan memudar. Namun tulisan yang memberi manfaat akan terus hidup selama masih dibaca orang. Ia menjadi bagian dari ilmu yang bermanfaat, sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW sebagai salah satu amal yang pahalanya tetap mengalir setelah seseorang meninggal dunia.
Karena itu, jangan pernah meremehkan tulisan, sekecil apa pun. Sebuah artikel dapat mengubah cara berpikir seseorang. Sebuah buku dapat mengubah arah kehidupan sebuah generasi. Bahkan satu kalimat yang ditulis dengan kejujuran dapat bertahan lebih lama daripada pidato berjam-jam.
Mungkin tidak semua orang mampu menulis buku. Tidak semua orang menjadi profesor atau ulama besar. Namun setiap orang memiliki pengalaman, hikmah, pelajaran hidup, dan gagasan yang layak diwariskan. Jika tidak ditulis, semuanya akan hilang bersama waktu. Jika ditulis, ia akan menjadi bagian dari perjalanan panjang peradaban manusia.
Maka, ketika Allah memerintahkan, “Iqra'”, sesungguhnya tersimpan pula pesan yang tak terucapkan tetapi sangat logis: bacalah, agar engkau berilmu; dan tulislah, agar ilmumu tetap hidup.
Sebab pada akhirnya, membaca adalah awal ilmu, tetapi menulis adalah cara ilmu tetap hidup.

Oleh: Ali Syarief






















