Jakarta, Fusilatnews.– – Andian Napitupulu, seorang politisi senior dan pendukung setia PDIP, kini menunjukkan kekecewaan mendalam terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi). Selama ini, Napitupulu dikenal sebagai salah satu pendukung paling vokal Jokowi dari PDIP, selalu siap membela presiden dalam berbagai situasi. Namun, belakangan ini, sikap Jokowi yang dianggap berpaling dari PDIP telah menimbulkan rasa frustrasi yang mendalam pada Napitupulu.
Andian Napitupulu secara terbuka mengungkapkan rasa kecewanya terhadap tindakan Jokowi yang dinilai telah mengkhianati partai dan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP. Dalam beberapa pernyataan publik dan percakapan internal, Napitupulu menekankan bahwa Jokowi, yang sebelumnya merupakan bagian integral dari PDIP, kini tampak menjauh dari nilai-nilai dan dukungan yang telah diberikan partai kepadanya selama ini.
“Kami dari PDIP selalu berada di garis depan mendukung Jokowi, meskipun dalam berbagai situasi sulit. Namun, sekarang kita melihat sikap yang sangat berbeda. Jokowi seolah-olah melupakan dukungan dan loyalitas yang telah diberikan oleh partai,” ujar Napitupulu dengan nada kecewa.
Napitupulu merasa bahwa tindakan Jokowi, yang dianggapnya sebagai pengkhianatan, tidak hanya mencederai hubungan pribadi dan politik mereka, tetapi juga merusak hubungan antara presiden dan PDIP. Ia menganggap bahwa Jokowi seharusnya tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang dibangun bersama PDIP dan Megawati, yang telah memberikan dukungan penuh dalam perjalanan politiknya.
“Kekecewaan ini sangat mendalam. Kami merasa telah diberikan janji dan harapan, namun sekarang itu semua tampaknya hancur begitu saja. Sikap Jokowi yang berpaling dan mengabaikan kontribusi serta dukungan yang telah diberikan oleh PDIP dan Megawati adalah bentuk pengkhianatan,” tambah Napitupulu.
Perasaan kekecewaan Napitupulu mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat antara PDIP dan Jokowi, yang semakin memperlihatkan perpecahan dalam hubungan politik antara presiden dan partai yang membesarkannya. Rasa pengkhianatan ini menggambarkan bagaimana dinamika politik dapat berubah secara dramatis, bahkan terhadap mereka yang pernah menjadi pendukung terdepan.

























