Bagi para Buzzer terutama, petinggi PSI, dan kelompok kecebong akut lainya, kehadiran Jokowi menemui Anies Baswedan di arena E-Formula baru-baru ini, ibarat tersambar kilat petir geledeg. Menggelegar dan mencengangkan. Diluar perkiraan mereka, sehingga itu semua seolah-olah, bak daymare. Mimpi buruk disiang bolong. Nah dari situ lalu muncul pertanyaan, siapa sih sebenarnya yang diuntungkan, Aniskah? atau sebaliknya Jokowi? Seperti proyek stadium JIS, yang meghebohkan itu, mengapa Anies tidak mengundang mengundang Jokowi?
Pertama mari kita lihat, current issue, dimana Jokowi sedang ditimpuki oleh teman-teman separtainya sendiri, oleh berbagai macam kemelut, yang bungkusnya adalah “kisruh minyak goreng”. Padahal bermula dari issue penundaan pemilu 24, yang membuat murka para petolan kader PDIP dan amarah Mahasiswa serta sebagian Rakyat kita melalui Demo yang berjilid-jilid itu.
Tapi baiklah, mari kita kupas tuntas, mengapa Jokowi melancong ke arena E-Formula proyeknya Anies Baswedan, yang diawal dan dipertengahan mendapat cemooh bahkan serangan dari berbagai pihak yang khususnya berasal dari kubu Jokowi. Tetapi itu semua, tidak mempengaruhi dan membendung langkah Jokowi untuk menemui Anies Baswedan yang sedang menunggunya di Ancol arena E-formula.
Bagaimana membaca arah footsteps Jokowi tersebut? Ini yang menarik, karena langkahnya telah menendang sebagian para pecandu Jokowi menjadi slebor!.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria mengaku senang dengan adanya kunjungan Presiden Jokowi ke sirkuit Formula E di Ancol, Jakarta Utara, Ia menilai dukungan Presiden RI itu terhadap perhelatan balap mobil listrik internasional itu. “Dengan hadirnya Pak Jokowi meninjau itu sudah satu dukungan yang luar biasa,” kata dia di Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Selasa, 26 April 2022.
Secara harfiyah, apa yang disampaikan Wagub DKI tersebut, begitu adanya. Tetapi selebihnya, sebenarnya Jokowilah yang diuntungkan, sehingga perlu mendekati Anies Baswedan.
Tahun 2013, saya diundang teman, tokoh Muda, untuk hadir di Hotel Panghegar Bandung. Saya tidak bisa menolaknya, tanpa saya bertanya ada acara apa, saya mengiyakan saja untuk hadir, karena memang ada banyak hal yang ingin saya bicarakan juga dengannya. Ternyata ada perhelatan yang istimewa juga rupanya. Duduk diantara berbagai aktifis tokoh Jawa Barat, saya mendengarkan paparan Anies Baswedan. Siapa yang tidak tertarik, Ketika Anies berpidato? Kata-katanya runtut, sruktur kalimatnya cermat dan isinya luar biasa. Bernas mencerahkan.
Kesimpulan saya, bukan kepada Idea yang Anies sampaikan, tetapi saya menduga Anies ingin nyapres. Dan benar, disana sini kemudian Anies menjadi dirkursus, sebagai sosok yang layak menjadi pemimpin di Indonesia.
Singkat cerita, akhirnya Anies Baswedan, direcruit menjadi Tim Sukses terdepannya Jokowi, yang kemudian Jokowi sukses berhasil tepilih menjadi Presiden ke7. Aniespun dipilih menjadi salah seorang menterinya. Tapi kemudian Anies diberhentikan. Saya pun faham, bila Anies tetap di jajaran cabinet Jokowi, maka periode berikutnya, Jokowi akan sulit bisa terpilih melawan sosok Anies. Matahari tidak boleh bersinar ada dua. Betul pada akhirnya, apapun alasannya, teruji bahwa populeritas Anies Baswedan, unggul dari Ahok. Cemerlang dalam Pilgub DKI yang lalu. Anies Juara.
Rekayasa Pilgub DKI tidak dilaksanakan sebelum Pemilu 24, lalu sosok Anies melasat digadang-gadang menjadi Calon Presiden 24. Bahkan Ia tampil sebagai single kandidat, bersama nama-nama yang muncul selama ini, seperti Prabowo, Puan, Ganjar Pranowo, Eric Thohir, Sandiaga Uno, dll dari kubu yang sama, yaitu ex koalisi partai Peserta Pemilu 2019. Sehingga bila terjadi diantara mereka konvesi capres/cawapres 24, bisa jadi yang dilawan, yang akan dihadapi adalah Anies Baswedan. Tapi arti lain kubu koalisi itu, sebenarnya sedang tempur diantara mereka sendiri, dan siap saling menjegal, cakar mencakar dan saling menelanjangi, dalam atmospir Stockholm syndrome (penuh kemunafikan).
Perasaan umat Islam, yang jumlahnya mayoritas itu, banyak disakiti oleh ulah kedzaliman regime ini. Ketidak adilan penegakan hukum, berbagai macam fitnah, tuduhan terorisme, NII, dll, itu semua menyebabkan dukungan emosional jatuh bermuara kepada figure Anies Baswedan, yg tidak diragukan lagi pemahaman keleluasaan keIslamannya. Menjadi sosok Imam Shalih yang adem dan cerdas.
Saat Jokowi sedang dilanda oleh berbagai macam kekisruhan selama ini, dijauhi oleh teman-teman di kubu partainya sendiri, ia tidak bertandang ke CokroTV. Ia malah cari angin ke Ancol – menengok tempat balapan E-formula. Kemana lagi berlindung kecuali ada atap yang teduh. Kemana lagi berpegangan selain pada tonggak yang tangguh.
Dari situ terasa ada resonansi getar suaranya yg volume desibalnya terdengar jelas mengatakan ; “drun, bantulah aku”






















