Jakarta, Fusilatnews.– Alotnya PDIP menentukan siapa Capres yang akan diusung, ada beberapa factor penyebabnya. Pertama faktor internal, bahwa Calon yang digadang-gadang (Puan Maharani), elektabilitasnya rendah. Semenetara Ganjar Pranowo, dinilai lebih tinggi. Kedua faktor eksternal, yaitu siapa yang akan menjadilawan berhadapan dengan calon dari PDIP. Kehadiran Anies Baswedan rupanya lebih fenomenal dibanding nama-nama lain, yang ada dalam kisaran bursa Capres 24.
Sebagaimana AD/ART PDIP, bahwa penentuan Capres adalah weweng mutlak Ketua Umum. Selama ini Magawati masih belum menyampaikan sinyal siapa yang akan diusung oleh PDIP. Bahkan Sekjen PDIP sendiri, Hasto Kristianto, selalu menepis terhadap nama-nama Capres yang popular dan muncul selama ini. Kader lain, seperti Masington, paling sangar menyikapi apa yang menjadi nominasi Jokowi untuk Capres 2024.
Namun benarkah arah angin dukungan seolah bertiup ke dua nama, Puan Maharani dan Ganjar Pranowo?.
Puan Maharani, adalah sosok paling mutawatir, untuk memahami apa yang ada dalam angan-angan ketua umum PDIP. Ia pernah menyinggung kriteria capres yang bakal dimajukan oleh partainya. DPDI-P akan mengusung calon pekerja keras dalam membangun partai. “Harusnya orang tersebut adalah orang yang memang betul-betul, paling tidak pernah ikut berjuang, pernah memperhatikan partai, dan ikut berdarah-darah dalam membangun PDI-P selama ini,” kata Puan saat memberikan arahan ke para kader di Kantor DPC PDI-P Surabaya, Selasa (1/3/2022),
Kriteria lain, menurut Puan, sosok itu harus yang sudah terbiasa turun ke bawah dan bertemu dengan rakyat, termasuk keluarga besar PDI-P. Figur tersebut juga mestinya datang dari keluarga besar PDI-P dan kerap hadir di acara partai.
Capres PDI-P juga disyaratkan PDI-P memegang teguh cita-cita Soekarno. Kader tersebut, kata Puan, harus berpedoman pada ideologi memperjuangkan rakyat. “Dia pecinta Bung Karno atau bukan? Apakah dia yang akan meneruskan cita-cita Bung Karno? Indonesia ke depan, kalau kita diberikan kemenangan yang ketiga, tentunya merupakan orang yang harus bisa meneruskan cita-cita Bung Karno,” kata Ketua DPP PDI-P itu.
Seperti yang dapat fahami, bahwa PDI Perjuangan belum banyak bicara soal pencalonan presiden 2024 ditengah hingar-bingar partai lain berlomba-lomba mendeklarasikan nama calon presiden (capres) dan membentuk koalisi. Telah ditegaskan berulang kali oleh elite partai banteng, keputusan terkait pencapresan ada di tangan Megawati Soekarnoputri sebagai pimpinan tertinggi. Sampai saat ini Megawati masih bergeming.
Membaca mengapa Rakernas PDIP, yang pernah disampaikan Ketum Megawati akan dilaksanakan bulan Desember ini, gagal diselenggarakan? Pada Rakernas itulah, PDIP mendeklarasikan nama Capres tersebut. Walau Sekjen Hasto menyampaikan alasan lain, yaitu partainya sedang fokus saat ini bergerak ke bawah membantu masyarakat mengatasi kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19 dan dampak konstelasi geopolitik. Tapi disinyalir, bahwa gelombang dukung mendukung kepada Puan Maharani dan Ganjar, semakin tajam di internal Partai itu. Itu tang menyebabkan Rakernas ditunda.
Sejak lama, berembus isu bahwa dua kader PDI-P itu bersaing ketat hingga bersitegang demi mendapat tiket menuju gelanggang pemilihan 2024. Namun, desas-desus ini selalu ditepis oleh elite partai. Terbaru, Puan buka suara soal pencapresan partainya. Lantas, kepada siapa kiranya restu Megawati bakal diberikan? Segera diumumkan Perihal deklarasi pencapresan partainya, Puan mengatakan, PDI-P sudah memiliki nama sendiri. Namun, dia belum mau mengungkapkan siapa figur capres tersebut dan kapan akan dideklarasikan. “Secepatnya (dideklarasikan), semua deg-degan ya menunggu calon PDI-P. Secepatnya, dan PDI-P punya calon (presiden),” kata Puan saat ditemui di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Sabtu (17/12/2022).
Menurut Puan, capres PDI-P bakal diumumkan pada 2023. Partai berlambang banteng itu masih menunggu momen yang tepat. “Tanggal, bulan, jam yang terbaik buat calon (presiden) PDI-P. Nanti kita tunggu tahun depan,” kata Puan.
Ini Alasan PDI-P Tak Gelar Rakernas Tahun Ini Batalnya rakernas Deklarasi capres partai banteng sempat digadang-gadang bakal diumumkan dalam rapat kerja nasional (rakernas) PDI-P tahun ini. Namun, baru-baru ini, PDI-P memastikan bahwa partainya batal menggelar rakernas tahun 2022. Padahal, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri sempat mengatakan bahwa rakernas akan diselenggarakan pada penghujung tahun ini. Sedianya, PDI-P sudah menggelar rakernas pada Juni 2022 kemarin.
Peluang bagi Prabowo dan Puan PDI-P juga tengah konsentrasi mempersiapkan ulang tahun partai ke-50 yang akan jatuh pada 10 Januari 2023. Bocorannya, akan ada kejutan dalam ultah PDI-P mendatang, meski belum bisa dipastikan apakah kejutan itu terkait pencapresan 2024 atau lainnya. “Apakah dalam rakernas ibu ketum akan mengumumkan calon atau enggak, itu nanti dalam pertimbangan ketua umum untuk menetapkan,” kata Hasto di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (14/12/2022).
Puan atau Ganjar? Melihat ini, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno mengatakan, peluang pencalonan presiden Puan dan Ganjar masih sama besar. Puan, sang putri mahkota, punya keistimewaan sebagai anak bungsu Megawati yang diharapkan dapat menjadi penerus kekuasaan trah Soekarno. Sementara, Ganjar, meski bukan dari kalangan “darah biru”, elektabilitasnya jauh mengungguli Puan.
Menurut survei berbagai lembaga, tingkat elektoral Gubernur Jawa Tengah itu berada di urutan wahid. Besarannya tembus 30 persen, meninggalkan Puan yang berada di papan bawah dengan elektabilitas kisaran satu persen, bahkan kurang. “Peluangnya masih fifty-fifty dan menggantung,” kata Adi diberitakan Kompaskom, Jumat (16/12/2022).
Kendati demikian, menurut Adi, elektabilitas Puan masih mungkin ditingkatkan. Masih ada waktu kurang lebih 10 bulan ke depan hingga pendaftaran capres-cawapres Pemilu 2024 dibuka. Selama ini, Puan dinilai masih berkutat pada kinerjanya sebagai pimpinan DPR RI. Sementara, dalam hal safari politik dan konsolidasi dengan jajaran partai atau basis massa di daerah, Ketua DPR RI itu masih tertinggal. Memang, jabatan Ketua DPR RI melekat dengan Puan. Namun, jika PDI-P serius mengusung Puan sebagai capres, sudah saatnya kerja-kerja politik dimainkan. “Mbak Puan dan timnya harus berpikir, kerja keras, bagaimana roadshow ke berbagai tempat, ke berbagai wilayah basis PDI-P, itu harus semakin aktif dilakukan,” ujar Adi. “Dan caranya tentu bukan hanya sebatas seremonial, tetapi hadir sebagai upaya untuk meyakinkan mereka bahwa Puan pantas diusung pada 2024,” tuturnya. Adi mengatakan, dukungan untuk Puan maju sebagai capres mayoritas datang dari kalangan elite partai banteng.
Sementara, dukungan basis massa PDI-P lebih condong ke Ganjar. Tak hanya di internal PDI-P, Ganjar juga mengantongi dukungan dari sejumlah partai politik lain. Nama Ganjar sempat masuk dalam bursa pencapresan Partai Nasdem beberapa waktu lalu. Meski Nasdem belakangan memutuskan mendukung pencapresan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, namun, menurut Adi, itu tak menutup peluang buat Ganjar dicalonkan oleh partai pimpinan Surya Paloh tersebut. Tak hanya itu, Partai Amanat Nasional (PAN) juga terang-terangan menyatakan mempertimbangkan nama Ganjar sebagai capres, pun Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Jokowi Dinilai Lebih Ingin Dukung Ganjar ketimbang Puan. Masifnya dukungan buat Ganjar dinilai wajar lantaran politisi PDI-P itu punya modal elektabilitas besar. Dengan elektabilitas yang demikian tinggi, partai politik yang mengusung Ganjar diprediksi bakal mendapat limpahan elektoral. “Siapa pun nanti yang mengusung Ganjar Pranowo akan mendapat coattail effect (efek ekor jas) minimal 4 sampai 6 persen,” ucap Adi.
Adi pun menduga, banyak partai yang bakal merapat untuk berkoalisi dengan PDI-P jika Megawati memerintahkan Ganjar maju sebagai capres. Sebaliknya, jika PDI-P urung mencalonkan Gubernur Jawa Tengah itu, diyakini banyak partai dan koalisi tergiur memberikan kendaraan buat Ganjar melaju ke panggung Pilpres 2024. Oleh karenanya, saat ini semua partai politik masih menunggu ketuk palu Megawati. Konstelasi politik masih sangat mungkin berubah, bergantung dari manuver PDI-P. “Suka tidak suka, sebagai partai penguasa, PDI-P punya segalanya, punya banyak instrumen untuk mengubah konstelasi politik,” kata Adi.






















